Press "Enter" to skip to content
danau di Bali (Foto: DEZALB/Pixabay)

Melacak Biodiversitas, Mengintip Isi Danau Bali Tanpa Menyelam

Di Bali, danau bukan sekadar bentang air yang indah buat difoto. Ada lapisan lain seperti ekologis, bahkan spiritual, yang selama ini dijaga, tapi juga pelan-pelan tertekan. Pariwisata makin ramai, pertanian terus jalan. Air tetap tenang di permukaan, tapi apa yang terjadi di dalamnya belum tentu sama.

Di titik itu, para peneliti mulai mencari cara untuk “mendengar” isi danau tanpa harus benar-benar mengusik isinya.

Tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Yayasan Biodiversitas Indonesia mencoba pendekatan yang agak berbeda. Mereka tidak menyelam untuk menghitung ikan, atau mengumpulkan organisme satu per satu. Mereka cukup mengambil sampel air, lalu membaca jejak DNA yang tertinggal di dalamnya.

Teknologi ini dikenal sebagai eDNA metabarcoding. Sederhananya, semua makhluk hidup meninggalkan “jejak” berupa sel kulit, lendir, sisa biologis lain, yang mengandung DNA. Jejak ini mengambang di air atau mengendap di sedimen. Dari situ, peneliti bisa tahu siapa saja yang pernah atau sedang hidup di sana.

Kedengarannya seperti forensik, dan memang agak mirip.

“Lewat pendekatan ini, kita bisa tahu keberadaan berbagai spesies tanpa harus menangkap atau melihat langsung,” kata Andrianus Sembiring dari Bionesia. Ia sudah cukup lama bekerja dengan metode ini, terutama untuk ekosistem perairan yang sulit dipetakan secara konvensional.

Fokus riset kali ini ada di danau-danau di Bali. Ada empat yang utama, dan semuanya punya peran penting, yang bukan cuma sebagai sumber air, tapi juga bagian dari lanskap budaya. Masalahnya, tekanan terhadap danau-danau ini makin terasa. Nutrien dari pertanian masuk ke air, aktivitas wisata meningkat, dan perubahan itu, sekecil apa pun, bisa menggeser komposisi spesies.

Di sinilah eDNA jadi menarik. Ia memberi gambaran yang lebih utuh, bukan snapshot sesaat. Peneliti bisa melihat perubahan dari waktu ke waktu, bahkan menangkap spesies yang biasanya luput dari pengamatan.

Asep Hidayat dari Pusat Riset Ekologi BRIN melihat ini sebagai langkah awal yang penting, bukan cuma untuk memahami kondisi danau, tapi juga membangun sesuatu yang lebih besar, yaitu basis data.

Bukan sekadar daftar spesies, tapi semacam “peta kesehatan” ekosistem.

Idenya sederhana, tapi ambisinya besar. Mengumpulkan data DNA dari berbagai kondisi, dari ekosistem yang masih relatif sehat sampai yang sudah tertekan. Dari situ, bisa dibuat indikator. Kalau suatu danau menunjukkan pola tertentu, peneliti bisa cepat tahu: ini normal, atau ada yang mulai tidak beres.

Dan kalau datanya cukup banyak, bisa ditarik lebih jauh lagi, ke arah big data ekologi.

BRIN ingin menjadikan dirinya semacam hub, tempat berbagai data ekosistem dari banyak pihak dikumpulkan dan dibaca bersama. Tidak hanya untuk riset, tapi juga untuk kebijakan. Karena pada akhirnya, keputusan soal lingkungan sering kali bergantung pada seberapa baik kita memahami datanya.

Masalahnya, selama ini kita sering terlambat.

Kita baru bereaksi setelah kerusakan terlihat jelas. Air berubah warna. Ikan mati. Atau jumlah spesies tiba-tiba turun. Padahal, perubahan kecil biasanya sudah terjadi jauh sebelumnya.

Dan itulah yang coba ditangkap oleh pendekatan seperti eDNA, sinyal-sinyal halus yang sering terlewat. “Pada dasarnya, kita tidak bisa melindungi sesuatu kalau kita belum benar-benar tahu apa yang ada di dalamnya,” kata Andrianus.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.