Press "Enter" to skip to content
Astronaut (Foto: WikiImages/Pixabay)

Sperma “Tersesat” di Luar Angkasa? Studi Baru Ungkap Tantangan Nyata Punya Anak di Orbit

Gagasan manusia punya anak di luar Bumi sering terdengar seperti plot film fiksi ilmiah. Tapi makin ke sini, itu bukan lagi sekadar khayalan. Program seperti NASA lewat misi Artemis program, sampai ambisi SpaceX untuk mengirim manusia ke Mars, bikin pertanyaan ini jadi serius: kalau manusia tinggal di luar Bumi, apakah kita bisa bereproduksi dengan normal?

Jawaban sementara: belum tentu. Bahkan, mungkin jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.

Dilansir dari Daily Mail, sebuah studi terbaru dari University of Adelaide menemukan hal yang cukup mengganggu, bahwa sperma bisa “kehilangan arah” di kondisi tanpa gravitasi. Bukan berhenti bergerak, tapi seperti bingung mau ke mana.

Penelitian ini dipimpin oleh Nicole McPherson, yang menyebut ini sebagai bukti pertama bahwa gravitasi punya peran penting dalam navigasi sperma. Bukan soal kecepatan. Bukan juga soal kekuatan. Tapi arah.

Bukan Lemah, Tapi Bingung

Di Bumi, sperma bergerak dengan bantuan berbagai sinyal, termasuk kimia dan, ternyata, gravitasi. Dalam eksperimen ini, para peneliti mengambil sampel dari manusia, tikus, dan babi, lalu “mengirim” mereka ke kondisi mikrogravitasi buatan menggunakan mesin simulasi.

Setelah itu, sperma dimasukkan ke dalam semacam labirin kecil yang dirancang menyerupai saluran reproduksi perempuan. Hasilnya cukup konsisten: lebih banyak yang nyasar.

Jumlah sperma yang berhasil mencapai tujuan turun signifikan dibanding kondisi normal. Bahkan, dalam simulasi, tingkat pembuahan bisa turun hingga sekitar 30 persen.

Menariknya, gerakan fisik sperma sendiri tidak berubah. Mereka tetap berenang. Tetap aktif. Tapi arah mereka jadi tidak efektif. Seolah kehilangan “kompas”.

Efek Berantai: Dari Pembuahan ke Embrio

Dampaknya tidak berhenti di situ. Dalam paparan mikrogravitasi selama empat hingga enam jam saja, tingkat keberhasilan pembuahan sudah menurun. Jika lebih lama, efeknya makin terasa, termasuk keterlambatan perkembangan embrio.

Dalam beberapa kasus, jumlah sel penting yang nantinya membentuk janin juga berkurang. Artinya, tantangannya bukan cuma “bisa hamil atau tidak”, tapi juga bagaimana memastikan perkembangan awal berjalan normal.

Ada Kabar Baik, Meski Masih Awal

Di tengah temuan yang agak bikin khawatir ini, ada sedikit harapan. Peneliti menemukan bahwa hormon progesteron, yang secara alami dilepaskan oleh sel telur, bisa membantu sperma “menemukan jalan” lagi.

Efeknya belum sepenuhnya dipahami, tapi diduga hormon ini memberi sinyal tambahan yang membantu navigasi sperma di kondisi tanpa gravitasi. Masih butuh riset lanjutan, tapi setidaknya ada petunjuk bahwa masalah ini mungkin bisa diatasi.

Kenapa Ini Penting Sekarang?

Karena kita sudah masuk fase baru eksplorasi luar angkasa. Bukan lagi sekadar mendarat lalu pulang, tapi mulai bicara soal tinggal lama, bahkan menetap.

Startup seperti Spaceborn United sudah mengirim laboratorium mini untuk eksperimen IVF ke orbit. Di sisi lain, riset dari Kyoto University menunjukkan sel reproduksi tikus bisa bertahan di luar angkasa dan tetap menghasilkan keturunan sehat.

Jadi, secara teori, reproduksi di luar Bumi mungkin saja terjadi. Tapi praktiknya? Masih penuh tanda tanya.

Pertanyaan Besar yang Belum Terjawab

Para ilmuwan sekarang mencoba memahami hal yang lebih mendasar: Apakah efek gravitasi ini terjadi secara bertahap saat gravitasi berkurang?

Atau ada titik kritis tertentu, semacam “batas”, di mana semuanya langsung berubah drastis?

Jawaban dari pertanyaan ini penting banget. Karena akan menentukan bagaimana kita mendesain habitat luar angkasa, termasuk apakah perlu sistem gravitasi buatan untuk mendukung reproduksi manusia.

Jadi, Manusia Bisa Punya Anak di Luar Angkasa?

Jawabannya masih menggantung.

Yang jelas, studi ini menunjukkan satu hal: reproduksi manusia itu jauh lebih kompleks dari sekadar “sel bertemu sel”. Bahkan sesuatu yang selama ini kita anggap sepele (seperti gravitasi) ternyata punya peran penting.

Tapi bukan berarti mustahil. Dalam beberapa kondisi eksperimen, embrio sehat tetap bisa terbentuk. Artinya, peluang itu masih ada. Hanya saja, jalan ke sana mungkin lebih berliku dari yang kita kira.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.