Aktivitas berkirim pesan singkat sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, siapa sangka jika di balik layar ponsel, pilihan kata yang digunakan seseorang bisa menjadi jendela untuk melihat “kepribadian gelap” mereka.
Charlotte Entwistle, seorang psikolog dari University of Liverpool, mengungkapkan bahwa gangguan kepribadian dapat dideteksi melalui penggunaan kata sehari-hari. Menurutnya, seperti dilansir Daily Mail, pola kata-kata yang dipilih seseorang secara halus mencerminkan cara mereka berpikir, merasakan, dan berhubungan dengan orang lain.
“Baik itu pesan singkat, email panjang, obrolan santai, atau komentar online, kata-kata yang dipilih menunjukkan pola yang lebih dalam,” jelas Entwistle.
Ciri-ciri Chat yang Perlu Diwaspadai
Berdasarkan analisis linguistik, ada beberapa tanda atau red flag yang muncul dalam gaya komunikasi orang-orang dengan sifat kepribadian gelap. Berikut adalah pola yang paling mencolok:
- Sering Mengumpat dan Berkata Kasar: Jika lawan bicara kamu sangat sering menggunakan kata-kata makian atau sumpah serapah dalam chat, kamu patut waspada. Ini adalah salah satu alarm awal yang menunjukkan adanya disfungsi kepribadian.
- Dominasi Kata-kata Negatif dan Kebencian: Individu dengan sifat “gelap” cenderung menggunakan bahasa yang lebih bermusuhan dan terputus. Mereka sering meluapkan kebencian melalui kata-kata penuh amarah seperti “benci” (hate) atau “gila/marah” (mad).
- Jarang Menggunakan Kata “Kita”: Orang dengan sifat psikopat atau narsistik cenderung kurang menggunakan istilah hubungan sosial seperti “kita” (we) atau “kami”. Mereka lebih fokus pada diri sendiri dan kurang memiliki keterikatan sosial secara emosional.
- Terlalu Sering Menggunakan Kata “Aku” atau “Saya”: Penggunaan kata ganti orang pertama yang berlebihan seperti “aku” dan “saya” menunjukkan tingkat fokus pada diri sendiri yang tidak wajar.
Mengenal “Dark Tetrad”
Dalam dunia psikologi, sifat-sifat kepribadian gelap ini dikenal dengan istilah Dark Tetrad. Keempat sifat ini memiliki karakteristik negatif yang khas:
- Machiavellianisme: Suka memanipulasi, mengeksploitasi orang lain, sinis terhadap moralitas, dan fokus pada kepentingan pribadi serta penipuan.
- Narsisme: Merasa diri paling hebat, sombong, egois, dan sangat kurang rasa empati.
- Psikopat: Perilaku antisosial yang bertahan lama, impulsif, mementingkan diri sendiri, kejam, dan tidak punya rasa bersalah.
- Sadisme: Kecenderungan untuk bersikap kejam kepada orang lain demi kesenangan atau dominasi, baik melalui rasa sakit fisik maupun penghinaan.
Belajar dari Kasus Nyata
Sebagai contoh nyata, Entwistle menyoroti surat-surat pribadi dari pembunuh berantai asal Austria, Jack Unterweger. Melalui analisis linguistik, ditemukan bahwa surat-suratnya mengandung tingkat bahasa yang sangat fokus pada diri sendiri (penggunaan “aku” dan “saya” yang sangat tinggi). Selain itu, ia juga memiliki nada emosional yang cenderung datar atau hambar.
Mengapa Pengetahuan Ini Penting?
Entwistle berharap temuan ini dapat membantu orang awam dalam menavigasi kehidupan sosial mereka, terutama saat berkenalan dengan orang baru di dunia kerja, aplikasi kencan (dating apps), atau media sosial.
“Menyadari pola-pola ini dapat membantu kita memahami orang lain, mendukung mereka yang mungkin sedang berjuang, serta menjalani kehidupan sosial dengan lebih aman, baik secara online maupun offline,” tambahnya.
Mengenali tanda-tanda awal permusuhan, negativitas ekstrem, dan kekakuan emosional melalui chatting bisa menjadi langkah preventif agar kita terhindar dari hubungan yang merugikan dengan individu yang memiliki kepribadian gelap.






Be First to Comment