Setiap beberapa tahun sekali, kisah tentang “raksasa” selalu muncul lagi ke permukaan. Kadang lewat temuan arkeologi, kadang lewat tafsir ulang teks kuno. Kali ini, giliran sebuah papirus Mesir berusia lebih dari tiga milenium yang kembali ramai dibicarakan. Namanya Anastasi I, tersimpan rapi di British Museum sejak abad ke-19, tapi belakangan dipromosikan sebagai petunjuk bahwa raksasa dalam Alkitab mungkin bukan sekadar mitos.
Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya jauh dari hitam-putih: apakah teks kuno benar-benar bisa dijadikan bukti ilmiah tentang keberadaan manusia raksasa?
Dilansir dari Daily Mail, papirus Anastasi I ditulis sekitar abad ke-13 sebelum Masehi, pada masa Kerajaan Baru Mesir. Bentuknya bukan catatan sejarah netral, melainkan surat dari seorang juru tulis bernama Hori kepada rekannya, Amenemope. Isinya campuran antara laporan perjalanan militer, gambaran medan berbahaya, dan menurut banyak ahli, itu adalah sindiran halus, bahkan satire.
Di salah satu bagian yang paling sering dikutip, Hori menggambarkan sekelompok Shosu (atau Shasu), komunitas nomaden di wilayah Levant, dengan tinggi “empat hingga lima hasta”. Jika dikonversi, tinggi ini bisa mencapai lebih dari dua meter, angka yang langsung memicu imajinasi tentang raksasa ala Goliat.
Namun di sinilah sains mulai mengerem sensasi.
Dalam antropologi biologis, tinggi badan ekstrem bukanlah hal asing. Bahkan di dunia modern, individu dengan tinggi dua meter lebih bukan sesuatu yang mustahil. Dr. Michael Heiser, pakar studi Alkitab yang juga akrab dengan pendekatan linguistik dan sejarah, pernah menekankan hal ini: tinggi semacam itu luar biasa, ya. Tapi bukan berarti supranatural.
Yang sering luput dari perbincangan populer adalah konteks sastra dan budaya teks kuno. Banyak teks Mesir ditulis dengan gaya hiperbolik—melebih-lebihkan musuh untuk menekankan bahaya, keberanian, atau ketidakcakapan lawan bicara. Dalam surat Anastasi I, Hori tampaknya sedang “mengerjai” Amenemope, menggambarkan rintangan perjalanan seolah-olah mustahil, penuh musuh menakutkan, dan medan ekstrem.
Dengan kata lain, “raksasa” di sini bisa jadi alat retoris, bukan laporan antropometri.
Lalu bagaimana dengan Alkitab?
Dalam Kitab Kejadian, muncul istilah Nephilim, yang sering diterjemahkan sebagai “raksasa” atau “yang jatuh”. Kitab Bilangan juga menggambarkan bangsa Israel yang merasa “seperti belalang” di hadapan keturunan Enak. Bahasa semacam ini jelas kuat secara naratif, tapi sains bertanya hal lain: di mana buktinya?
Sejauh ini, tidak ada kerangka manusia berukuran raksasa, tidak ada pemukiman dengan skala abnormal, dan tidak ada artefak biologis yang menunjukkan keberadaan ras manusia dengan ukuran tubuh jauh melampaui Homo sapiens modern. Semua “bukti” yang ada masih berupa teks. Dan teks, sekuat apa pun, tetap perlu diuji secara lintas disiplin.
Beberapa peneliti mencoba menghubungkan papirus Anastasi I dengan teks Mesir lain, seperti Execration Texts yang menyebut “orang-orang Enak”. Ada pula relief Mesir yang menggambarkan tawanan Shasu bertubuh besar. Namun, para ahli Mesir Kuno mengingatkan bahwa seni dan tulisan Mesir sangat simbolik. Ukuran tubuh dalam relief sering kali mencerminkan status atau ancaman, bukan ukuran fisik sebenarnya.
Dari sudut pandang ilmu pengetahuan, kasus ini justru menarik bukan karena “membuktikan raksasa”, tetapi karena menunjukkan bagaimana manusia masa lalu memaknai perbedaan. Orang asing, musuh, atau kelompok luar sering digambarkan lebih besar, lebih menakutkan, dan lebih “tidak manusiawi”. Itu pola yang berulang dalam banyak peradaban.
British Museum sendiri mengambil posisi yang cukup tenang. Mereka melihat Anastasi I sebagai dokumen penting tentang kehidupan militer dan pengetahuan geografis Mesir Kuno, bukan bukti makhluk raksasa.
Pada akhirnya, sains tidak bekerja dengan keinginan, melainkan dengan bukti yang bisa diuji. Sampai ada fosil, DNA, atau jejak biologis yang jelas, “raksasa” tetap berada di wilayah narasi budaya, bukan fakta biologis.
Dan mungkin justru di situlah nilai terbesarnya: bukan untuk membuktikan bahwa raksasa pernah berjalan di bumi, tetapi untuk memahami bagaimana manusia, sejak ribuan tahun lalu, menggunakan cerita untuk menjelaskan rasa takut, kekaguman, dan dunia yang terasa jauh lebih besar daripada diri mereka sendiri.






Be First to Comment