Di tengah hutan tropis Kalimantan yang terus menyusut akibat perubahan lanskap dan aktivitas manusia, para peneliti Indonesia menemukan sesuatu yang selama ini tersembunyi di antara semak berduri: spesies baru terong liar yang belum pernah tercatat dalam sains modern.
Namanya Solanum kalimantanense.
Penemuan ini diumumkan oleh BRIN setelah tim peneliti mereka berhasil mengidentifikasi spesies baru dari genus Solanum — kelompok tumbuhan yang juga mencakup terong, tomat, dan kentang. Spesies baru tersebut dipublikasikan dalam jurnal internasional Taprobanica edisi 2026 melalui paper berjudul A New Spiny Eggplant Species of the Genus Solanum L. from Indonesian Borneo.
Sekilas, tumbuhan ini memang tampak seperti terong liar biasa. Berduri, tumbuh di semak-semak, dan banyak ditemukan di Kalimantan Timur maupun Kalimantan Selatan. Namun setelah diteliti lebih dalam, para ilmuwan menemukan bahwa tanaman ini memiliki identitas biologis yang berbeda.
Bukan cuma bentuknya yang unik, DNA-nya juga berbeda.
Tim peneliti menemukan sejumlah karakter khas pada Solanum kalimantanense, mulai dari bentuk daun yang hampir membulat, lekukan daun yang dangkal, hingga buah matang yang berukuran lebih besar dengan permukaan berbulu halus. Ciri-ciri ini membedakannya dari kerabat dekatnya, Solanum lasiocarpum.
Untuk memastikan bahwa tumbuhan ini benar-benar spesies baru, tim menggunakan pendekatan gabungan antara pengamatan morfologi dan analisis DNA menggunakan penanda ITS.
“Pendekatan integratif melalui pengamatan morfologi dan DNA barcoding membantu kami membedakan spesies ini dari kerabat dekatnya secara lebih akurat,” kata Esthi L. Agustiani, salah satu peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN.
Yang menarik, tanaman ini ternyata bukan tumbuhan asing bagi masyarakat lokal.
Di sejumlah wilayah Kalimantan, tumbuhan tersebut dikenal dengan nama “terong asam” atau “terong Dayak”. Buahnya kerap dijual di pasar terapung Banjarmasin dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan sehari-hari.
Namun ada fakta lain yang membuat peneliti semakin tertarik.
Masyarakat di Kecamatan Kenohan, Kalimantan Timur, diketahui memanfaatkan daun dan kuncup buah tanaman ini sebagai obat tradisional yang disebut “wikat”, yang dipercaya digunakan untuk pengobatan kanker.
Hingga kini belum ada penelitian medis yang membuktikan efektivitasnya secara klinis. Meski begitu, informasi etnobotani seperti ini dianggap penting karena sering menjadi titik awal penelitian senyawa bioaktif dari tumbuhan tropis.
Penemuan Solanum kalimantanense juga memperlihatkan betapa besarnya biodiversitas Indonesia yang belum sepenuhnya terdokumentasi.
“Temuan ini menunjukkan Indonesia masih memiliki potensi biodiversitas yang sangat besar dan belum seluruhnya terdokumentasi secara ilmiah,” ujar Muhammad Rifqi Hariri, anggota tim peneliti.
Tanaman ini ditemukan tumbuh di berbagai kondisi lingkungan, mulai dari tanah lempung berpasir hingga tanah hitam asam, pada ketinggian 9 sampai 1.700 meter di atas permukaan laut.
Namun di balik penemuan penting tersebut, ada kekhawatiran lain.
Kajian awal menunjukkan populasi Solanum kalimantanense kemungkinan terbatas dan berpotensi masuk kategori rentan (Vulnerable) menurut kriteria IUCN. Artinya, spesies yang baru saja dikenali sains ini bisa saja menghadapi ancaman bahkan sebelum benar-benar dipahami sepenuhnya.
Karena itu, para peneliti menilai eksplorasi flora Indonesia tidak bisa hanya berhenti pada penemuan spesies baru. Dokumentasi ilmiah, konservasi habitat, hingga pemanfaatan berkelanjutan menjadi bagian penting dari pekerjaan besar berikutnya.
Dan seperti banyak kisah biodiversitas tropis lainnya, penemuan ini kembali mengingatkan satu hal: hutan Indonesia mungkin masih menyimpan jauh lebih banyak rahasia daripada yang selama ini diketahui manusia.






Be First to Comment