Selama puluhan tahun, para ilmuwan kesulitan membedakan sejumlah spesies pari cambuk (whipray).
Bentuk tubuh dan corak kulit mereka terlihat sangat mirip.
Kemiripan itu membuat identifikasi spesies menjadi rumit.
Kini, penelitian genetika mengungkap misteri tersebut.
Tim peneliti internasional menemukan dan mendeskripsikan spesies baru pari cambuk.
Spesies tersebut bernama Himantura arlyzae.
Penelitian ini melibatkan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan lembaga riset Prancis.
Hasil penelitian telah terbit di jurnal Aquatic Living Resources pada 2026.
DNA Bongkar “Kembar Identik” Pari Cambuk
Selama ini, ilmuwan banyak mengandalkan ciri fisik untuk mengenali pari cambuk.
Mereka melihat bentuk tubuh, pola warna, dan karakter morfologi lainnya.
Namun, cara tersebut ternyata tidak selalu cukup.
Penelitian ini menguji 16 karakter fisik yang biasa digunakan untuk mengenali empat spesies Himantura.
Tidak satu pun karakter tersebut mampu membedakan spesies secara mutlak.
Akibatnya, identifikasi spesies mengalami kekacauan.
Beberapa pari dari garis keturunan yang sama mendapat nama spesies berbeda.
Sebaliknya, individu yang berbeda secara genetik justru masuk ke spesies yang sama.
Kondisi tersebut menyulitkan ilmuwan memetakan keragaman pari cambuk.
Masalahnya juga berdampak pada upaya konservasi.
Tanpa identitas spesies yang tepat, peneliti sulit menghitung populasi secara akurat.
Mereka juga kesulitan menentukan wilayah persebaran dan tingkat ancaman setiap spesies.
Peneliti Baca “Barcode” DNA Pari
Tim kemudian menggunakan pendekatan genetika molekuler.
Salah satu metode yang digunakan adalah DNA barcoding.
Metode ini membantu peneliti mengenali spesies melalui urutan DNA tertentu.
Dalam penelitian tersebut, tim menganalisis 249 sampel sekuens gen CO1.
CO1 merupakan singkatan dari cytochrome c oxidase subunit 1.
Tim juga menggunakan penanda genetik lainnya.
Hasil analisis menunjukkan perbedaan genetik yang jelas di antara kelompok pari.
Kelompok yang tampak hampir sama ternyata memiliki batas genetik yang tegas.
Analisis tersebut mengungkap hingga delapan spesies mandiri dalam genus Himantura.
Temuan itu lebih banyak dari perkiraan sebelumnya.
Tim juga berhasil membedakan tujuh garis keturunan secara genetik.
Hasil tersebut sekaligus memperjelas status beberapa kelompok yang sebelumnya belum memiliki diagnosis taksonomi kuat.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya DNA untuk mengenali spesies kriptik.
Spesies kriptik merupakan kelompok organisme yang terlihat sangat mirip secara fisik.
Namun, mereka memiliki perbedaan genetik yang menunjukkan garis keturunan berbeda.
Spesies Baru Dinamai Himantura arlyzae
Salah satu temuan utama penelitian ini adalah Himantura arlyzae.
Para peneliti sebelumnya menyebut kelompok tersebut sebagai Himantura sp. 1 atau “uarnak 1”.
Kini, kelompok itu mendapat status sebagai spesies yang sah secara taksonomi.
Nama arlyzae memiliki makna khusus bagi penelitian hiu dan pari Indonesia.
Nama tersebut menghormati Dr. Irma S. Arlyza (1974–2019).
Irma merupakan peneliti genetika ikan hiu dan pari atau Elasmobranchii.
Ia bekerja sebagai peneliti di Pusat Riset Oseanografi LIPI.
Lembaga tersebut kemudian terintegrasi ke dalam BRIN.
Kontribusi Irma dalam penelitian taksonomi hiu dan pari Indonesia menjadi bagian penting dari sejarah riset ini.
Menariknya, spesimen acuan Himantura arlyzae berasal dari koleksi Irma.
Spesimen tersebut berupa pari cambuk jantan muda.
Lebar cakramnya mencapai 38,2 sentimeter.
Panjang total tubuhnya mencapai 142 sentimeter.
Irma mengumpulkan spesimen tersebut pada November 2009.
Ia mendapatkannya dari tangkapan nelayan lokal di perairan Pulau Selayar, Laut Flores.
Kini, spesimen itu tersimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (MZB).
Spesimen tersebut memiliki nomor registrasi MZB-20875.
Dengan hasil penelitian terbaru, spesimen itu kini menjadi holotipe Himantura arlyzae.
Peta Persebaran Pari Cambuk Ikut Berubah
Penemuan spesies baru tidak hanya menambah daftar keanekaragaman hayati.
Hasil penelitian juga mengubah pemahaman tentang persebaran pari cambuk.
Beberapa spesies yang sebelumnya dianggap tersebar sangat luas ternyata memiliki wilayah lebih terbatas.
Contohnya adalah Himantura uarnak.
Penelitian terbaru menempatkan spesies tersebut di kawasan Laut Merah dan bagian barat Samudra Hindia.
Spesies itu tidak lagi dianggap memiliki persebaran global seperti perkiraan sebelumnya.
Sementara itu, Himantura leoparda diketahui menghuni kawasan kepulauan Indo-Melayu.
Peneliti juga menemukan pola persebaran menarik pada H. australis dan H. arlyzae.
Keduanya memiliki pola parapatrik.
Artinya, kedua spesies hidup di wilayah geografis yang bersebelahan.
Namun, wilayah populasi keduanya hampir tidak saling tumpang tindih.
Penelitian juga memetakan persebaran beberapa spesies lainnya.
Himantura tutul ditemukan dari Samudra Hindia bagian barat hingga Paparan Sunda.
Sementara itu, Himantura undulata memiliki persebaran dari Laut Arab hingga Paparan Sunda.
Dengan analisis genetika, peneliti dapat membedakan identitas spesies sekaligus wilayah hidupnya.
Temuan Ini Penting untuk Konservasi
Perubahan jumlah spesies juga memengaruhi cara ilmuwan melihat risiko konservasi.
Daftar Merah IUCN 2025 sebelumnya mencatat empat spesies dalam kelompok tersebut.
Penelitian terbaru menunjukkan adanya delapan spesies yang berbeda.
Artinya, jumlah individu yang sebelumnya dihitung dalam satu kelompok kini harus dibagi ke beberapa spesies.
Kondisi tersebut dapat mengubah gambaran mengenai ukuran populasi setiap spesies.
Wilayah persebaran yang lebih sempit juga dapat meningkatkan perhatian terhadap ancaman lokal.
Perburuan dan kerusakan habitat dapat memberikan tekanan lebih besar pada spesies dengan wilayah hidup terbatas.
Karena itu, identifikasi spesies menjadi bagian penting dalam strategi konservasi.
Data genetika dapat membantu peneliti menentukan unit populasi yang perlu mendapat perhatian.
Namun, penelitian genetika belum menjawab seluruh pertanyaan tentang Himantura arlyzae.
Peneliti masih membutuhkan kajian ekologis yang lebih lengkap.
Kajian tersebut perlu mencakup habitat, populasi, pola reproduksi, serta tekanan terhadap spesies.
Laut Indonesia Masih Menyimpan Spesies Tersembunyi
Penemuan Himantura arlyzae menunjukkan bahwa kemiripan fisik dapat menyembunyikan keragaman hayati yang besar.
Teknologi genetika kini membantu ilmuwan melihat perbedaan yang tidak terlihat dari luar.
Kasus pari cambuk juga menunjukkan pentingnya menggabungkan data morfologi dan DNA.
Pendekatan tersebut dapat memperbaiki pemetaan keanekaragaman hayati laut Indonesia.
Bagi konservasi, identitas yang tepat merupakan langkah awal.
Tanpa mengetahui spesies yang sebenarnya, ilmuwan sulit mengukur populasi dan ancamannya.
Penelitian Himantura arlyzae karena itu bukan sekadar soal menemukan nama baru.
Temuan ini juga membuka pemahaman baru tentang evolusi dan persebaran pari cambuk di kawasan Indo-Melayu.
Penelitian lengkap mengenai penemuan Himantura arlyzae tersedia di jurnal Aquatic Living Resources.





Be First to Comment