Press "Enter" to skip to content

Merkuri Cemari Pulau Seribu, Untung ada Padang Lamun

Muara adalah kawasan di mana daratan bertemu dengan lautan. Ini adalah ekosistem penting di mana terdapat padang lamun yang menjadi naungan bagi banyak keanekaragaman hayati. Makanya kita perlu waspada dan menjaga kelestarian padang lamun, sebab ia mampu mengendalikan pencemaran berat macam merkuri. 

Padang lamun adalah komponen ekologi yang paling penting di ekosistem pantai. Daun-daun rumput laut menjadi phytoremediator dan pembersih air laut dengan menyerap zat logam. Sementara akar rumput laut mengurangi erosi bibir pantai.

Rumput laut juga menjadi makanan utama bagi banyak hewan laut, seperti penyu dan dugong.

Di Indonesia terdapat 12 dari 69 spesies rumput laut yang ada di dunia. Di beberapa lokasi di Pulau Jawa, padang lamun masih relatif bagus. Kecuali di kawasan Pulau Seribu, yang termasuk kawasan dengan padang lamun yang terganggu.

Kepulauan Seribu berada di utara DKI Jakarta dan terdiri dari lebih dari 100 pulau kecil dan masih mengandung kawasan padang lamun. Namun, polusi air dari Jakarta, termasuk yang mengandung logam berat dan beracun macam merkuri, juga telah mengganggu kesehatan padang lamun di kawasan itu.

Dua peneliti kelautan dari LIPI, Suratno dan Andri Irawan, telah melakukan penelitian mengenai kandungan merkuri di kawasan padang lamun di Pulau Seribu dan mereka mendapati fakta yang mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan.

Dalam penelitian yang digelar pada 2017 lalu dan diterbitkan di IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, keduanya mendapati konsentrasi tinggi merkuri di dua spesies rumput laut, yaitu Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii di Pulau Lancang, Pulau Pari, dan Pulau Panggang.

Akumulasi merkuri yang ditemukan berkisar dari 7,12-87,41 ug/kg dw. Mereka mendapati konsentrasi merkuri di Pulau Lancang termasuk yang tertinggi. Ini masuk akal sebab Pulau Lancang termasuk yang terdekat ke Teluk Jakarta.

Penelitian ini membuktikan bahwa rumput laut, terutama kedua spesies tadi, sangat potensial digunakan sebagai bioindikator kontaminasi merkuri. Jadi, perlu kesadaran kita untuk menjaga kelestarian padang lamun, jangan sampai rusak. Sebab kalau rusak, tak ada lagi yang menunjukkan seberapa jauh sudah laut kita tercemar logam berat nan beracun dan berbahaya macam merkuri.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: