Press "Enter" to skip to content
Lonceng Cakradonya di Aceh. (Dok. Bambang Budi Utomo)

Tentang Kaum Tionghoa dan Pengaruh Budaya di Nusantara (bag. ketiga)

Berdasarkan sumber-sumber tertulis yang dibuat oleh saudagar, pendeta, dan juru tulis Tionghoa, diketahui bahwa orang-orang Tionghoa melalui aktivitas perdagangannya sudah sejak abad ke-7 Masehi ada di Sumatra. Mereka menjalankan aktivitas niaga dengan kerajaan-kerajaan di Sumatra dan Jawa. Orang-orang Tionghoa ini tidak saja berniaga, mereka juga mengemban satu misi khusus, seperti yang dilakukan oleh Chêng Ho. Ketika Palembang sedang tidak ada penguasa, ada kawanan lanun yang berasal dari Kuang tung (Tiongkok) tinggal di Palembang sampai akhirnya pada tahun 1405 ditangkap oleh Chêng Ho.

Pada awal abad ke-15 ketika kekaisaran Tiongkok diperintah oleh Yung Lo, kaisar memerintahkan semacam ekspedisi kebudayaan ke seluruh penjuru dunia. Salah satu ekspedisi yang terkenal di bawah pimpinan Laksamana Chêng Ho. Di Nusantara tempat-tempat yang disinggahi ekspedisi yang melibatkan ratusan kapal ini adalah Palembang, Aru, Nakur, Lambri (sekarang Banda Aceh), dan Samudra Pasai. Tentu saja di tempat-tempat ini tinggal komunitas Tionghoa. Di Lambri, Chêng Ho menghadiahkan sebuah lonceng besar dari perunggu yang sekarang dikenal dengan nama Cakradonya (= Lonceng Dunia).

Orang-orang Tionghoa yang datang ke Sumatra bukan berasal dari satu tempat saja, melainkan dari beberapa tempat berbeda dengan suku dengan dialek dan bahasa yang berbeda pula. Demikian juga keahlian masing-masing sesuai dari tempat asalnya. Orang-orang ini berasal dari Provinsi Kuang tung dan Provinsi Fukien. Berdasarkan dialek bahasanya, di Sumatra terdapat kelompok Tionghoa Hokkien, Teo-chiu, Hakka, dan Kanton. Orang-orang Hokkien dikenal sebagai saudagar yang ulet dan menetap di daerah pantai baratdaya Sumatra; orang Teo-chiu, Hakka, dan Kanton dikenal sebagai kuli perkebunan dan pertambangan yang menetap di pantai timurlaut Sumatra, Bangka, dan Belitung. Kebanyakan orang dari Kanton, datang ke Nusantara membawa modal yang besar dan mempunyai keahlian bertukang. Kebanyakan mereka tinggal di Sumatra Tengah dan Pulau Bangka. Tidak jarang di antaranya ada yang menjadi pemilik tambang timah.

Seperti juga bangsa-bangsa lain yang merantau ke Sumatra, orang-orang Tionghoa juga membawa budaya dari tempat asalnya di Tiongkok. Lamanya mereka tinggal menetap di Sumatra secara tidak langsung mempengaruhi budaya penduduk asli Sumatra. Sebagai contoh, misalnya kerajinan menenun songket yang hampir di seluruh dunia Melayu mengenalnya. Motif dan warna songket mengingatkan kita akan warna-warna pada wihara Tionghoa yang hampir di setiap lingkungan pecinan ditemukan.

Masyarakat di Minangkabau mengenal sulaman pada kain yang dipakai kaum perempuan dan hiasan pada pelaminan. Kain yang dipakai sebagai bahan dasar sulaman adalah kain sutra dan satin. Kain sutra atau satin yang disulam ini mendapat pengaruh budaya Tionghoa. Secara nyata tampak pada hiasan flora, warna, dan teknik menyulamnya. Meskipun sulaman kain mendapat pengaruh Tionghoa, namun setelan pakaian mempelai pria pada upacara pernikahan mendapat pengaruh Portugis.

Entah sejak kapan orang Tionghoa datang dan menetap di Pulau Bangka. Sebetulnya tambang timah di Bangka ditemukan secara tidak sengaja. Menurut Marsden, timah di Bangka ditemukan tahun 1710 ketika sebuah rumah keluarga Tionghoa terbakar. Akibat kebakaran tersebut, dari lantai tanah rumah yang terbakar itu tampak lelehan timah. Belakangan orang-orang Tionghoa yang mempunyai keahlian dalam penambangan timah berdatangan ke Bangka. Sementara itu, penduduk asli Bangka belum mengenal logam timah. Kepandaian inilah yang kemudian ditularkan kepada penduduk asli Bangka.

Pengaruh budaya Tionghoa juga tampak pada bentuk-bentuk atap bangunan rumah tinggal dan masjid di Palembang. Pada bubungan atap bangunan terdapat hiasan seperti tanduk kambing. Masjid Agung Palembang yang dibangun pada abad ke-18, selain bentuk hiasan atapnya, bentuk menara masjid mirip dengan bentuk menara pada bangunan wihara orang Tionghoa.

Jawa juga tidak luput dari perhatian para saudagar Tionghoa. Sumber tertulis yang berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi menyebutkan kedatangan saudagar Tionghoa dan bhiksu Fa-hien di kerajaan To-lo-mo (Tarūmanāgara). Kemudian beberapa abad setelah kedatangannya yang pertama, orang-orang Tionghoa ini berniaga dengan kerajaan yang berada di pantai utara Jawa Tengah, yaitu kerajaan yang diperintah oleh Ratu Hsi-ma (Ratu Simo).

Orang-orang Tionghoa yang datang ke pantai utara Jawa ini, lama kelamaan ada yang membentuk komunitas tersendiri. Beberapa kota di Jawa yang kental dengan budaya Tionghoanya, misalnya Jakarta, Pekalongan, Lasem, dan Gresik. Budaya yang berkembang di kota-kota ini berupa budaya benda (tangible) dan budaya tak benda (intangible). Dari kota-kota ini para penghuni etnis Tionghoa menghasilkan produk berupa batik dengan corak bunga-bungaan dan berwarna-warni.

Orang Tionghoa dikenal sebagai pekerja yang ulet. Pada masa lampau mereka biasanya dipekerjakan sebagai tukang bangunan dan buruh pada penambangan. Di Semenanjung Tanah Melayu dan di Kepulauan Bangka – Belitung mereka bekerja sebagai buruh tambang timah. Di daerah Kalimantan Barat, di Monterado mereka bekerja di tambang emas, tetapi mereka tinggal di sebuah kampung wilayah Kesultanan Sambas.

Desa Singkawang sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Para penambang dan pedagang yang kebanyakan berasal dari daratan Tiongkok, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang. Para penambang emas di Monterado yang sudah lama sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya. Singkawang juga sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (bijih emas). Orang-orang Tionghoa ini menyebut Singkawang dengan kata “san keuw jong” (bahasa Hakka). Mereka berpandangan bahwa Singkawang berbatasan langsung dengan Laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut.

Keletakkan Singkawang dipandang strategis dan perkembangan perekonomiannya cukup menjanjikan. Akibatnya banyak di antara penambang beralih profesi sebagai petani dan saudagar. Namun ada juga yang membawa keahliannya dari tanah leluhurnya di Tiongkok sebagai pengrajin keramik. Apalagi di tanah sekitarnya banyak terdapat kaolin, bahan dasar untuk membuat keramik. Akibat dari itu, pada masa kini Singkawang dikenal sebagai tempat pengrajin keramik dengan tungku-tungku pembakarannya sama seperti di tanah leluhurnya. Tungku dari Singkawang ini dikenal dengan nama Tungku Naga. Dalam kehidupan sehari-harinya mereka masih memegang teguh tradisi dari negeri leluhurnya. Di Singkawang banyak dijumpai wihara/kelenteng yang pada setiap Hari Raya Imlek, Cap Go Meh, dan sembahyang kubur ramai dikunjungi para penziarah.

Perahu Cina ke Indrapura,
Nakhoda perahu melihat buaya.
Bangsa Tionghoa kunjungi Nusantara,
Betah tinggal kembangkan budaya.

Penulis: Bambang Budi Utomo (Peneliti Puslitarkenas)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: