Press "Enter" to skip to content

Ini Peran Warga dan Cerita Rakyat dalam Penelitian Arkeologi

Penelitian arkeologi di Indonesia, terutama di Papua, ternyata tidak melulu diinisiasi oleh peneliti dan institusi pendidikan/penelitian semata. Seringkali penelitian arkeologi didahului dengan penemuan benda-benda arkeologi oleh warga setempat maupun informasi yang sudah ada sebelumnya di antara mereka. Informasi penemuan benda-benda arkeologi oleh penduduk ini ditindaklanjuti dengan survei arkeologi.

Survei arkeologi adalah pengamatan tinggalan arkeologi disertai dengan analisis yang dalam. Tujuan survei untuk memperoleh benda atau situs arkeologi yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Survei dapat pula berarti melacak berita dalam literatur, karena adanya laporan temuan. Tingkatan sumber data yang paling akurat untuk melacak keberadaan tinggalan arkeologi maupun situs adalah sumber tertulis. Sumber tertulis dapat berupa laporan penelitian, laporan perjalanan, prasasti, dan naskah sastra.

Salah satu penelitian arkeologi di Papua yang memanfaatkan cerita rakyat sebagai informasi awal adalah penelitian arkeologi di Kawasan Danau Sentani. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul orang Sentani, ada yang memberi keyakinan bahwa mereka memang penduduk asli, tetapi ada juga yang mengatakan asal-usul mereka dari arah matahari terbit yaitu di timur atau Pasifik.

Menurut Ondoafi Kampung Waena, Ramses Ohee, Suku Sentani berasal dari arah timur (Papua Nugini), tepatnya dari Vanimo yang bernama Fonomyo Wauwauyo atau sekarang disebut Honong Wauwau. Dinamakan Honong Wauwau karena mereka berasal dari Gunung Honong Papua Nugini. Dalam perjalanan migrasi tersebut Suku Sentani ini dipimpin oleh ondoafi pertama dari timur dengan menaiki seekor ular besar. Konon sang ondoafi datang bersama ular besar dilatarbelakangi oleh cerita bahwa ondoafi saat itu memiliki seorang anak yang menderita luka bisul, saat diadakan upacara-upacara adat, semua teman anak ondoafi memiliki asesoris atau perlengkapan tari-tarian namun anak ondoafi ini tidak melengkapi dirinya dengan asesoris tari-tarian sehingga neneknya menyuruh dia untuk mengambil busur dan anak panah serta burung kuning agar dapat ikut menari dalam upacara adat.

Sebelumnya dia harus mengambil dulu burung kuning di satu pohon, pesan nenek agar jangan sembarang mengambilnya tapi harus diambil yang besar. Cucunya pergi dan menunggu di dekat satu pohon hingga datanglah seekor burung kuning besar itu dan hinggap di pucuknya, maka ditangkaplah burung tersebut dan dibawa pulang. Anak ondoafi ini lalu membuat asesoris tarian dari burung kuning ini. Keesokan subuhnya di depan rumah ondoafi melingkar seekor ular besar dengan mulut terbuka sehingga mengejutkan orang-orang yang baru terbangun. Sang nenek keluar sambil membawa harta kepada si ular agar mau menutup mulutnya karena pikirnya ular itu datang untuk menuntut mereka karena mengambil bulu burung kuning.

Ternyata yang diambil itu bukan bukan bulu burung kuning tetapi bibi dari tuan tanah, maka sang ular menutup mulutnya dan menghiasi kepala anak ondoafi dengan bulu burung kuning. Anak ondoafi ini lalu menaiki ular tersebut yang telah dianggap sebagai miliknya, ular itu dianggapnya sebagai tuan tanah, Mereka berdua berangkat menuju arah barat hingga sampai di lautan lalu naik lagi hingga tiba di Danau Sentani. Di Danau Sentani ini mereka berhenti di bukit yang bernama Yomokho Wali Yanggo.

Karena kisah ini maka semua orang dari timur pergi mengikuti si anak ondoafi tersebut yang dianggap sebagai pemimpin mereka yang dibawa oleh ular (sang tuan tanah). Mereka berkata, “Dimanapun tuan tanah kami berada, kami pun akan berada di sana”, lalu mereka pergi mengikutinya ke arah barat. Orang-orang ini ada yang datang melalui darat, tanah (bawah tanah?), dan langit dengan tujuan mencari anak ondoafi tersebut. Mereka kemudian memanggil angin utara dan angin selatan untuk mendorong rakit mereka, menuju tempat tuan tanah mereka berada.

Mitos lainnya, dari nama Kampung Waena dapat diketahui asal usul orang Sentani. Waena terdiri dari dua suku kata, yang masing-masing memiliki arti; yaitu wa nama sebuah suku, dan ena: arah timur. Jadi nama Waena berarti “suku yang berasal dari arah timur (Papua New Guinea)”, yang artinya penduduk orang Waena, Asei, Yoka dan Ayapo, semuanya berasal dari timur. Mereka datang dari timur dipimpin oleh seorang tokoh adat saat masih berada di perbatasan Papua New Guinea dan Papua. Asal mula keberadaan mereka dahulunya disebut Honong wauwauyo. Mereka datang pertama kali lewat belakang Kampung Yoka Hebebulu dari timur, lalu lewat Nafri dan Abe hingga sampai di Pleubhe, yaitu jalan baru ke Puai. Diantara Puai dan Yoka mereka kemudian tembus sampai tepi Danau Yoka yang disebut juga Pantai Ihai, dari tempat ini mereka melihat ada sebuah pulau yang indah di tengah danau, itulah Pulau Asei), karena mereka melihat di tempat itu aman dari semua bahaya. Akhirnya mereka tinggal di Pulau Asei dan menjadikannya sebagai kampung mereka.

Orang Sentani tidak menyukai konflik, untuk menghindari atau menyelesaikan konflik, mereka lebih suka mencari daerah hunian baru, yaitu pulau-pulau yang belum berpenghuni. Menurut Ramses Ohee, Kampung Waena terbentuk karena terjadi konflik kakak beradik di Pulau Asei. Penduduk Waena merupakan pindahan dari Pulau Asei.

Cerita rakyat Sentani versi lainnya, menyatakan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Papua Nugini yang bermigrasi untuk mencari wilayah baru. Terdapat tiga tempat di wilayah Sentani sebagai kampung tua atau kampung awal yang ditempati leluhur mereka sebelum menyebar lebih luas yaitu:

1. Bukit Yomokho, dalam perkembangannya kemudian mereka pindah ke Pulau Ohei (Kampung Asei), Ayapo, Waena, dan Yoka
2. Pulau Ajau (Kampung Ifar Besar), dan kemudian sebagian pindah ke Ifar Kecil, Sibaobai, Yabuai, Sereh, Puyoh Kecil
3. Pulau Yonokhom (Kampung Kwadeware), dalam perkembangannya kemudian sebagian pindah ke Doyo, Sosiri, Yakonde, dan Dondai.

Cerita rakyat dari Sentani walaupun kelihatan aneh, tetapi terdapat informasi awal yaitu pada masa lalu pernah ada migrasi dari Papua Nugini ke Sentani serta di dalam cerita rakyat tersebut juga menyebut asal usul tempat. Tapi seaneh apapun isi dalam cerita rakyat tidak boleh disepelekan, karena di dalamnya mengandung nilai-nilai budaya dan sejarah masyarakat setempat. Penggunaan sastra lisan berupa cerita rakyat sebagai sumber data bagi penelitian arkeologi masih merupakan hal yang baru. Arkeologi sebagai ilmu pengetahuan sangat membutuhkan sastra lisan sebagai informasi awal dalam menemukan tinggalan arkeologi dan situs. Papua sendiri sangat kaya akan sastra lisan. Selain Suku Sentani, masih banyak lagi sastra lisan yang dimiliki oleh suku lainnya di Papua. Karena di Papua sendiri terdapat lebih dari 260 bahasa daerah yang berarti terdapat ratusan suku asli yang memiliki cerita rakyat.

Cerita rakyat terdapat informasi mengenai aktivitas manusia dan nama lokasi manusia beraktivitas. Hal ini merupakan informasi awal yang bagus bagi arkeolog dalam mencari jejak situs akeologi. Keberadaan sastra lisan harus dilestarikan dalam bentuk penelitian dan pendokumentasian. Perlunya penelitian lintas disiplin dalam mengkaji budaya di Papua. Saat ini sastra lisan di Papua semakin hari jarang ditemukan seiring dengan menghilangnya generasi tua dan kurangnya sosialisasi kepada generasi muda. Dalam masyarakat Papua terdapat perbedaan pandangan hidup dan orientasi antara generasi tua dan generasi muda yang dipicu oleh masuknya budaya luar yang tidak semuanya positif serta masuknya pengaruh teknologi dan globalisasi yang belum dapat terserap secara baik.

Penulis: Hari Suroto (Balai Arkeologi Papua) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: