Press "Enter" to skip to content
Noken (Dok. Commons.wikimedia.org/Keenan63)

COVID-19 Kurangi Penghasilan Mama-Mama Pengrajin Noken

Pandemi COVID-19 telah meluluhlantakkan dunia usaha, begitu juga usaha pengrajin noken di Papua. Menurut Titus Pekey, pencetus gagasan noken Papua ke UNESCO pada 4 Desember 2012 lalu, saat ini mama-mama Papua pengrajin noken kehilangan banyak penghasilan.

Hal itu disebabkan oleh kebijakan pemerintah daerah tentang pembatasan waktu beraktivitas di luar rumah. Sehingga mama-mama pengrajin noken yang biasanya berjualan di pasar, emperan toko, atau tempat teduh di pinggir jalan sangat kekurangan pembeli. Selain itu, dengan ditutupnya akses transportasi masuk ke Papua, tidak ada wisatawan yang datang untuk beli oleh-oleh noken.

Titus Pekey dan teman-teman yang tergabung dalam Yayasan Noken Papua berusaha meringankan beban mama-mama pengrajin noken yaitu8 dengan melakukan aksi pendampingan pada mama-mama pengrajin noken di Timika, Nabire, Dogiyai, Deyai, Enarotali, Wamena, Merauke, Manokwari dan Sorong.

Aksi ini berupa pengumpulan dan penyaluran bantuan kepada mama-mama pengrajin noken agar tetap bisa merajut noken di rumah masing-masing tanpa harus berjualan di luar.

Bantuan dari masyarakat luas dapat diserahkan pada Yayasan Noken Papua dengan alamat Museum Noken Papua, Kompleks Expo Waena, Kota Jayapura.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: