Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi nelayan (Foto: Quang Nguyen vinh/Pixabay)

Fenomena Langka Mulai Muncul di Laut Indonesia, BRIN: Ini Bisa Jadi Kabar Baik bagi Nelayan

Setiap tahun, ada satu fenomena alam di lautan Indonesia yang diam-diam menjadi “penentu” melimpah atau tidaknya sumber daya ikan di sejumlah wilayah perairan. Fenomena itu tidak terlihat oleh mata, tidak memicu gelombang besar, dan jarang menjadi perhatian publik. Namun dampaknya bisa sangat besar bagi ekosistem laut dan sektor perikanan nasional.

Kini, para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendeteksi tanda-tanda awal bahwa fenomena tersebut mulai muncul di perairan Indonesia.

Namanya upwelling.

Berdasarkan hasil analisis oseanografi pada periode 1–7 Juni 2026, BRIN menemukan sinyal awal upwelling musim timur mulai aktif di sejumlah wilayah perairan selatan Indonesia, terutama di Samudra Hindia bagian selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor.

Meski intensitasnya masih tergolong lemah hingga sedang, temuan ini menjadi indikator penting bahwa laut Indonesia mulai memasuki fase yang berpotensi meningkatkan produktivitas biologis secara signifikan dalam beberapa bulan ke depan.

Fenomena yang Menghidupkan Laut

Bagi banyak orang, laut mungkin terlihat sama dari permukaan. Namun di bawahnya terjadi proses yang sangat dinamis.

Upwelling adalah fenomena ketika massa air dari lapisan laut yang lebih dalam naik ke permukaan. Air dari kedalaman ini membawa nutrien dalam jumlah besar yang selama ini tersimpan jauh dari jangkauan sinar matahari.

Ketika nutrien tersebut mencapai lapisan permukaan, fitoplankton, organisme mikroskopis yang menjadi dasar rantai makanan laut, mulai berkembang pesat.

“Dapur” kehidupan laut pun mulai aktif.

Semakin banyak fitoplankton, semakin banyak zooplankton, ikan kecil, hingga predator laut yang memanfaatkan sumber makanan tersebut.

Karena itulah wilayah upwelling sering dikenal sebagai salah satu kawasan penangkapan ikan paling produktif di dunia.

Tanda-Tandanya Sudah Terlihat

Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, beberapa parameter oseanografi menunjukkan bahwa proses ini mulai berlangsung.

Para peneliti mengamati adanya:

  • Penurunan suhu permukaan laut
  • Peningkatan salinitas
  • Munculnya arus vertikal ke atas
  • Kenaikan konsentrasi klorofil

Kombinasi faktor-faktor tersebut menjadi petunjuk bahwa air kaya nutrien dari lapisan bawah mulai terangkat menuju permukaan.

Meski belum merata, pola tersebut sudah terlihat cukup jelas di koridor selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor.

Bukan Hanya di Selatan Indonesia

Menariknya, BRIN juga menemukan indikasi peningkatan produktivitas laut di sejumlah wilayah lain.

Di Laut Arafura misalnya, peningkatan kesuburan perairan diduga dipicu oleh pencampuran massa air akibat angin dan pasang surut di wilayah laut dangkal.

Sementara di kawasan barat Sumatra hingga Laut Andaman, peningkatan klorofil kemungkinan berkaitan dengan interaksi arus laut, pusaran air laut (eddy), dan pengaruh massa air dari Teluk Benggala.

Di bagian selatan Selat Makassar, proses pengangkatan massa air diperkirakan dipengaruhi oleh kombinasi Arus Lintas Indonesia (ARLINDO), bentuk dasar laut, pasang surut, hingga gelombang internal laut.

Artinya, tidak semua peningkatan kesuburan laut terjadi karena upwelling klasik. Ada berbagai mekanisme oseanografi lain yang dapat menghasilkan efek serupa.

Mengapa Fenomena Ini Penting?

Indonesia merupakan salah satu negara dengan wilayah laut terbesar di dunia. Produktivitas perairan menjadi faktor penting bagi ketahanan pangan, ekonomi pesisir, dan keberlanjutan industri perikanan.

Kemunculan upwelling sering kali berkorelasi dengan meningkatnya kelimpahan ikan pelagis seperti tongkol, cakalang, hingga tuna di beberapa wilayah perairan.

Karena itu, informasi mengenai waktu dan lokasi kemunculan upwelling sangat berharga bagi nelayan, pengelola perikanan, hingga para peneliti kelautan.

Namun para ilmuwan mengingatkan bahwa kondisi saat ini masih merupakan fase awal.

Puncaknya Masih Ditunggu

Menurut BRIN, kondisi yang teramati pada awal Juni 2026 baru dapat dikategorikan sebagai onset atau awal musim upwelling.

Apakah fenomena ini akan berkembang menjadi upwelling kuat masih harus dipantau hingga Juli dan Agustus mendatang.

Untuk itu, para peneliti akan terus mengamati berbagai parameter seperti suhu permukaan laut, salinitas, arus vertikal, kandungan nutrien, konsentrasi klorofil, dan pola angin permukaan.

Jika tren saat ini terus menguat, laut selatan Indonesia berpotensi memasuki periode produktivitas biologis yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.

Bagi nelayan, itu bisa berarti peluang tangkapan yang lebih baik. Bagi ilmuwan, ini adalah kesempatan memahami lebih jauh bagaimana “mesin alami” lautan Indonesia bekerja menjaga kehidupan di salah satu wilayah laut terkaya di dunia.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

test
Mission News Theme by Compete Themes.