Press "Enter" to skip to content

Dan COVID-19 Pun Memukul UKM Kedai Kopi di Jayapura

Pandemi COVID-19 saat ini sangat berdampak pada usaha kecil (UMKM) di Kabupaten Jayapura, salah satunya pada pelaku usaha kedai kopi. Biasanya kedai kopi di Sentani buka pada petang hingga malam hari, namun sesuai arahan pemerintah Kabupaten Jayapura maka waktu operasional dunia usaha dibatasi hanya pukul 07.00 hingga 14.00 WIT.

Para pelaku usaha kedai kopi di Sentani juga mengikuti arahan ini. Salah satu pelaku usaha kopi di Kompleks Balai Trans Sentani, Darmo Tanoyo mengatakan bahwa kini kedainya hanya buka pada pagi hingga siang hari. Berkaitan dengan anjuran untuk menghindari berkerumun, maka usahanya lebih pada menerima pesanan kopi dari pembeli atau pelanggan.

Untuk saat ini, Darmo masih memiliki stok kopi arabika dari Pegunungan Bintang. Di kedainya juga terdapat mesin roasting modern untuk menggoreng biji kopi, namun sejak pandemi covid-19, Tanoyo hanya menggoreng dan menggiling kopi sesuai dengan jumlah pesanan saja.

Menurut Tanoyo dengan tidak adanya penerbangan di Bandara Sentani sangat berpengaruh pada usahanya. Dulu kopi Papua selama ini sering dijadikan oleh-oleh wisatawan yang datang ke Jayapura, namun saat ini sudah tidak ada lagi.

Tanoyo membeli biji kopi arabika langsung dari petani tradisional Kampung Kugima, Jayawijaya. Biji kopi arabika dari petani tradisional Kampung Tangma, Yahukimo. Biji kopi arabika dari petani tradisional Kampung Okbab, Sabin, Kaklup, Peneli, Bourban, Maksum, Lopkop, Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang. Kopi arabika produksi Jayawijaya, Yahukimo dan Pegunungan Bintang ini ditanam petani secara organik dan tanpa pestisida kimia.

Tanoyo dan komunitas kopi Jayapura selama ini juga melakukan edukasi dan pendampingan pada petani kopi di Jayawijaya, Yahukimo, Pegunungan Bintang, berkaitan dengan penanaman kopi secara organik dan berkelanjutan. Cara penanganan biji kopi pasca panen sehingga menghasilkan kopi yang terbaik. Tanoyo berharap pandemi COVID-19 segera berakhir dan usaha kopi bisa berjalan normal seperti biasanya. Dengan semakin banyak kopi yang dibeli konsumen maka tentu saja akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan petani kopi Papua.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: