Press "Enter" to skip to content
Image by Matt why do you need my last name? from Pixabay

Benarkah Virus Corona dapat Menular Lewat Udara (Airborne)?

Sebuah surat terbuka yang ditandatangani oleh 239 ilmuwan dan tokoh baru-baru ini bikin heboh sejagad. Mereka menduga virus corona baru yang menyebabkan penyakit COVID-19 bisa menular lewat udara (biasa dikenal dengan istilah airborne). Disebutkan virus ini bisa bertahan di udara selama berjam-jam dalam wujud microdroplet yang lebih ringan. Para ilmuwan itu mendesak Badan Kesehatan Dunia (WHO) membuat pedoman baru dan mengakui airborne sebagai cara penularan yang signifikan.

“Kita harus memperhatikan semua jalur transmisi penting supaya ada kemajuan (dalam penanganan COVID-19),” kata William Nazaroff, penulis surat dan profesor emeritus teknik sipil dan lingkungan di University of California Berkeley, kepada Live Science.

Menanggapi surat itu, WHO mengatakan sedang meninjau bukti baru apakah COVID-19 dapat menyebar melalui penularan udara, dan akan menyampaikan update soal itu dalam beberapa hari ke depan. Tapi para ahli epidemiologi dan penyakit menular mengatakan bahwa bukti yang ada sangat terbatas untuk menyatakan bahwa virus corona itu menyebar dengan cara airborne. Mereka khawatir pemberitaan soal itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

Paul Hunter, seorang profesor di University of East Anglia di Inggris dan anggota komite pencegahan infeksi WHO, kepada Live Science, mengatakan jika pun COVID-19 dapat menular melalui udara, kemungkinan ini terjadi hanya dalam keadaan terbatas dan tidak memerlukan tindakan pencegahan tambahan.

“Bukti yang cukup selama ini adalah mengurangi transmisi melalui droplet dapat mengurangi penyebaran COVID-19, tapi menambahkan hal lain hanya akan membingungkan dan mengganggu kerja WHO pada masa-masa kritis sekarang,” kata Hunter.

Bukti terkuat yang menjadi alasan menduga corona baru bisa menular lewat udara adalah penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa virus terkait di belakang epidemi pada SARS 2003 dapat menyebar melalui transmisi udara. “Ada banyak alasan untuk menduga bahwa SARS-CoV-2 berperilaku serupa, dan bahwa transmisi melalui microdroplet udara merupakan jalur penting,” menurut surat itu, yang diterbitkan di jurnal Clinical Infectious Diseases.

Nazaroff dan koleganya (termasuk Lidia Morawska dari Queensland University of Technology di Australia) juga merujuk ke sebuah acara paduan suara di Washington pada awal Maret sebagai bukti penularan melalui udara. Dalam artikel lain yang sedang direview, penulis menceritakan tentang tertularnya 53 dari 61 anggota yang menghadiri latihan paduan suara mingguan dan menyimpulkan bahwa microdroplet di udara merupakan mode penularan yang paling mungkin.

“Pemikiran terbuka diperlukan untuk menjelaskan peristiwa ini,” kata Nazaroff. “Saya bukan ahli epidemiologi. Saya hanya akan mengatakan bahwa saya belum melihat presentasi persuasif bahwa lebih dari 11 juta infeksi yang didiagnosis saat ini dapat dikatakan kombinasi dari droplet, penyebaran melalui kontak dekat, atau fomite (permukaan),” katanya.

Jika Nazaroff benar, maka mungkin ada kebutuhan untuk masker respirator N95 yang khusus, di luar masker bedah standar yang digunakan oleh penyedia layanan kesehatan. Pembatasan sosial yang diterapkan saat ini juga tidak akan efektif. Perusahaan juga harus mengubah sistem ventilasi mereka dengan menghilangkan resirkulasi udara dan menambah ventilasi yang ada dengan pembersih udara portabel.

Tapi bagi para ahli epidemiologi, bukti yang ada masih kurang meyakinkan. “Ketika dokter penyakit menular berpikir tentang penularan melalui udara, kami tidak berbicara tentang percobaan aerobiologis. Kami mencari faktor kekuatan penularan yang mendorong terjadinya epidemiologi dari sebuah wabah,” kata Dr. Amesh Adalja, seorang spesialis penyakit menular di Universitas Johns Hopkins.

Meskipun Adalja memungkinkan virus corona dapat menyebar melalui microdroplet di udara, ia belum berpikir bahwa ini adalah mode penularan yang signifikan. “Kalau pada penyakit campak, seseorang dapat batuk dalam lift dan 30 menit kemudian udara itu masih bisa menularkan penyakit itu dengan cepat,” katanya. Tapi hal seperti itu belum terjadi pada COVID-19. “Ini sebagian besar penularan karena droplet. Anda mungkin dapat menunjukkan bahwa beberapa aerosolisasi terjadi tetapi, secara epidemiologis, apakah ini benar-benar cara penyebaran virus itu?”

Sebagian tanda tanya mengenai surat terbuka itu juga lantaran penandatangannya bukanlah para ahli penyakit menular, tetapi ahli dalam mekanika fluida dan studi aerosol. Dan, sementara mereka memahami bagaimana partikel bergerak di udara, pemahaman mereka tentang bagaimana partikel-partikel itu menyebarkan penyakit, dan implikasi dari penyebaran ini, mungkin lebih banyak makna akademis daripada nilai praktis di tengah-tengah pandemi global.

“Kebanyakan dari mereka adalah ahli kimia, insinyur, pemilik perusahaan ventilasi,” kata Hunter. “Mereka tidak memiliki pemahaman luas tentang mekanisme penularan penyakit.”

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: