Press "Enter" to skip to content
Jerapah (dok. HowardWilks/Pixabay)

Petir Bunuh Jerapah di Afrika, Apakah karena Lehernya yang Panjang?

Jerapah adalah hewan yang terkenal karena lehernya yang panjang. Dengan leher yang panjang, hewan ini memiliki keunggulan mampu menjangkau pucuk daun yang disukainya di pepohonan tinggi. Tapi leher panjang tak selalu menguntungkan.

Baru-baru ini petir telah membunuh dua ekor jerapah di Afrika Selatan. Keduanya mati tersambar petir saat terjadi badai petir di Rockwood, sebuah cagar alam privat, 180km di barat Kimberley, Afrika Selatan.

Kepada Live Science, Ciska P. J. Scheijen, seorang mahasiswa di Department of Animal, Wildlife and Grassland Sciences di University of the Free State di Bloemfontein, Afrika Selatan, mengatakan bahwa lehernya yang panjang telah meningkatkan risiko jerapah tersengat petir, sebab mereka tak ubahnya penangkal petir hidup.

Scheijen membahas mengenai kejadian nahas itu dalam studinya yang dimuat di African Journal of Ecology edisi 8 September. Namun, tidak ada penelitian peer-review yang menunjukkan bahwa jerapah lebih rentan terhadap sambaran petir daripada hewan lain. Scheijen sendiri tidak menyajikan data baru tentang masalah ini.

Menurut keterangan Schiejen, ada empat cara petir bisa membunuh hewan. Pertama, melalui serangan langsung. Kedua, menyambar hewan setelah sebelumnya menyambar objek dekat hewan itu. Ketiga, tersengat arus listrik dari benda yang tersambar petir. Atau keempat, terkena sengatan listrik dari tanah.

Jerapah nahas itu sendiri mati di antara semak-semak dan rerumputan. Tak ada pohon di sekitarnya. Keduanya merupakan jerapah jantan dengan tinggi 5,5 meter dan jerapah betina dengan tinggi 4,3 meter. Artinya, keduanya adalah objek tertinggi di lokasi itu saat badai petir terjadi.

“Kedua jerapah mengeluarkan bau amoniak yang sangat kuat,” kata Scheijen. Penelitian sebelumnya juga menemukan bau yang sama dari jerapah korban petir dalam studi yang diterbitkan di jurnal Vulture News pada 2014.

Sebetulnya, ada ribuan hewan yang mati maupun terluka akibat sambaran petir, sebagaimana disebut dalam studi yang diterbitkan tahun 2o12 di International Journal of Biometeorology. Dan beberapa hewan didapati lebih rentan dari yang lain, khususnya hewan yang memiliki “jarak antara kaki depan dan belakang yang lebih jauh”. Sebabnya, kaki mereka dapat bertindak sebagai titik dalam sirkuit yang menyalurkan tegangan, setelah petir menyambar tanah atau objek di dekatnya.

Sengatan listrik dari tanah adalah penyebab paling umum kematian hewan saat terjadinya badai petir. Pada 2o16, petir membunuh 323 ekor reindeer karena sengatan listrik semacam ini. Sedangkan dalam kasus jerapah di Afrika Selatan, Scheijen menyimpulkan bahwa jerapah yang betina mati akibat serangan petir langsung, sedangkan yang jantan kemungkinan karena serangan samping atau dari bumi.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: