Press "Enter" to skip to content
Lukisan dinding di Papua (Foto dok. Hari Suroto)

Penelitian-Penelitian Ini Bisa Ungkap Kejayaan Maritim Nusantara (Tulisan 3)

Sebagai negara maritim yang besar, perlu ditarik benang merah antara maritim masa lampau dengan masa sekarang dan masa yang akan datang dalam mendukung pengembangan Negara Maritim Indonesia. Hasil-hasil penelitian akan memberikan pemahaman akan nilai-nilai kultural dan natural laut Indonesia, sekaligus memperkaya dan memantapkan konsep kemaritiman nusantara, termasuk juga merekomendasikan kebijakan-kebijakan dan implementasi pencapaiannya ke depan.

Melalui penelitian akan memberikan outcome akan betapa pentingnya Arkeologi Maritim dalam memajukan Negara Maritim di masa sekarang. Dalam kaitan tersebut di atas, maka sasaran-sasaran penelitian Arkeologi Maritim antara lain: (1) Gua-gua sisa hunian masa/tradisi prasejarah di tebing-tebing pantai seperti yang ditemukan di situs-situs Biak, Raja Ampat, Fak-fak, dan Kaimana yang seluruhnya di Papua; (2) Lukisan-lukisan gua dari masa/tradisi prasejarah yang ditemukan pada dinding gua di Biak, Fak-fak, dan Kaimana; lukisan pada dinding padas di tepi pantai seperti di Kepulauan Raja Ampat. Beberapa lukisan gua menggambarkan bentuk-bentuk perahu, di antaranya perahu bercadik seperti pada dinding gua di Pulau Muna; (3) Alat-alat menangkap ikan yang merupakan indikator pemukiman (nelayan) di daerah pesisir, seperti mata pancing dan bandul jaring dari Situs Plawangan; (4) Sisa-sisa hunian prasejarah di daerah pesisir yang mengindikasikan telah dikenal perdagangan jarak jauh seperti di Situs Buni dan Situs Patenggeng (Jawa Barat), serta Situs Sembiran (Bali) dengan penemuan tembikar khas Arikamedu, India; (5) Pelabuhan-pelabuhan kuno baik yang sudah mati (seperti Situs Kota Cina dan Barus) maupun yang masih berlangsung dan terus berkembang (seperti Situs Palembang); (6) Sisa hunian prasejarah – awal sejarah di daerah lahan basah (wet-land) di muara/delta Batanghari, Musi, dan kawasan rawa-rawa di pantai timur Sumatra.

Pada periode Klasik Indonesia penelitian mencakup: (7) Runtuhan perahu kuno dari situs-situs lahan basah, perairan dangkal, dan perairan selat yang ramai dilayari sebagai jalur pelayaran; 8); Relief yang menggambarkan bentuk-bentuk perahu dan kapal dari Borobudur; (9) Kota-kota kuno di pesisiran dan di tepi sungai besar yang perkembangannya dimulai dari hunian sederhana hingga menjadi sebuah bandar yang ramai;(10) Benteng-benteng pertahanan laut yang dibangun pada awal masuknya bangsa-bangsa Eropa ke Nusantara, seperti benteng di Muntok, Jepara, Makassar, Alor, Ternate, Tidore, Bacan, dan Banda; (11) Galangan-galangan kapal dan pelabuhan dengan segala fasilitasnya, seperti di Pulau Onrust dan Pelabuhan Sundakalapa; (12) Suku-suku bangsa yang hidup di tepian pantai, di perairan dangkal, dan di perahu yang mengembara, seperti suku bangsa Laut, Bajau, dan Ameng Sewang; dan (13) Sentra-sentra pembuatan perahu tradisional seperti di beberapa tempat di Riau, pantai utara Jawa, sekeliling pulau Madura, Alalak (Barito, Kalimantan Selatan), Bira (Bulukumba, Sulawesi Selatan), Sumbawa, dan Papua.

Penelitian arkeologi di sebuah Negara Kepulauan yang hasilnya untuk mendapatkan gambaran bahwa Sejarah Indonesia adalah Sejarah Bahari harus melalui pendekatan Arkeologi Maritim. Melalui penelitian ini dapat diketahui bagaimana hubungan/interaksi manusia dengan air yang dalam hal ini laut. Dengan manusia berinteraksi dengan laut, maka akan tercapai tujuan bahwa laut adalah pemersatu Nusantara. Manusia di satu pulau dapat berinteraksi dengan manusia di pulau lain melalui laut. Dari interaksi ini dapat tercapai kebhinekaan dalam satu bingkai “Bhineka Tunggal Ika”

Penulis: Bambang Budi Utomo (Pensiunan Peneliti di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: