Press "Enter" to skip to content
Serangga di malam hari (dok. A_Werdan/Pixabay)

Dampak Pencahayaan Kota Pada Populasi Serangga

Pernahkah kalian berkendara malam hari lalu menemukan banyak serangga yang mati di kaca lampu mobil kamu? Sadarkah kamu kalau terlalu banyak kejadian kematian serangga seperti itu bisa mengancam kelangsungan ekosistem kita?

Menurut penelitian, serangga-serangga kecil yang umurnya tidak panjang itu biasanya terbang menuju aliran air atau sumber air untuk kawin dan bertelur. Tapi adanya lampu-lampu di jembatan, bahkan lampu-lampu kendaraan akan mengalihkan perhatian mereka dan akhirnya mereka malah mati sebelum sempat kawin dan bertelur di air.

Pantulan cahaya di jalan raya atau di trotoar juga telah menipu mereka, sehingga serangga-serangga itu mengira tempat itu adalah air, sehingga malah menempatkan telurnya di sana.

Padahal, serangga-serangga kecil ini memiliki fungsi yang penting dalam ekosistem, yaitu mengontrol pertumbuhan alga di air dan menjadi sumber makanan bagi ikan. Menurut Adam Egri, seorang ahli biologi di Centre for Ecological Research di Budapest, Hungaria, mengatakan tanpa serangga-serangga kecil itu jelas akan berdampak pada organisme lain yang ada di ekosistem.

Bukan cuma serangga yang menjadi korban lampu-lampu artifisial atau dikenal dengan istilah Artificial Light at Night (ALAN). Berbagai penelitian di berbagai tempat di dunia menemukan kekhawatiran akan dampak pencahayaan malam ini terhadap reproduksi serangga. Sebagian menyimpulkan bahwa lampu-lampu yang bikin malam jadi lebih terang telah menyebabkan penurunan populasi serangga malam. Stephen Ferguson, ahli ekologi di College of Wooster mengatakan, telah terjadi penurunan populasi serangga sampai 80 persen dan sebanyak 40 persen spesies serangga berada di ambang kepunahan.

Lantas apa dong solusinya? Egri mengusulkan intensitas pencahayaan di sekitar sungai, seperti di jembatan-jembatan sebaiknya dikurangi. Supaya serangga tetap pergi ke sungai dan bereproduksi di sana.

Mengapa serangga itu mendekati cahaya? Ferguson mengatakan, serangga dan satwa biasanya bergantung pada cahaya bulan atau matahari untuk bernavigasi. Tapi pencahayaan pada malam hari justru meningkat 40 persen per tahun, menurut penelitian tentang ALAN oleh Free University di Berlin. Kota-kota di dunia kini banyak menggunakan LED, yang cahaya birunya lebih terang dari bohlam pijar yang dulu dipakai untuk pencahayaan di jalan. Sehingga daerah yang seharusnya gelap kini tak lagi terlalu gelap.

Dampak cahaya ini pernah diteliti pada populasi belalang di Las Vegas pada 27 Juli 2019. Ternyata pencahayaan malam itu telah menyebabkan migrasi besar-besaran belalang di kota itu dan ‘awan’ belalang ini sempat tertangkap radar cuaca karena begitu masifnya. Jumlah belalang diperhitungkan mencapai 48 juta ekor.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: