Press "Enter" to skip to content
Empat spesies jerapah (Dok. Daily Mail)

Alih-Alih Satu, Jerapah Ternyata Punya 4 Spesies Berbeda

Jerapah sekilas sama saja bentuknya kan? Tapi sebuah penelitian berhasil memetakan empat spesies jerapah di Afrika, berdasarkan genomnya, dan mereka ternyata berevolusi masing-masing selama ribuan tahun.

Keempatnya, menurut penelitian LOEWE Centre for Translational Biodiversity Genomics adalah spesies berbeda, sebagaimana perbedaan antara beruang coklat dan beruang kutub. Dari keempat spesies masih bisa dibagi lagi menjadi tujuh subspesies.

Dr Axel Janke, penulis studi itu, sebagaimana dilansir Daily Mail, mengatakan hubungan di dalam genus Giraffa telah memancing perdebatan sejak lama. Sudah begitu lama ilmuwan berasumsi bahwa hanya ada satu spesies jerapah dan kemudian terbagi ke dalam beberapa subspesies. Ternyata studi genom membuktikan sebaliknnya.

Keempat spesies jerapah itu adalah Northern giraffe, Reticulated giraffe, Masai giraffe, dan Southern giraffe.

Northern giraffe (Giraffa camelopardalis) ditemukan di Chad, Republik Afrika Tengah, Kamerun, Kongo, dan Sudan Selatan. Subspesiesnya adalah jerapah Kordofan, jerapah Nubian, dan jerapah Afrika Barat.

Reticulated giraffe (Giraffa reticulata) ditemukan di Kenya, Somalia, dan Etiopia. Tapi tidak ada subspesies untuk spesies ini.

Masai giraffe (Giraffa tippelskirchi) ditemukan di Kenya, Tanzania, dan Zambia. Juga tidak ada subspesies.

Adapun Southern giraffe (Giraffa giraffa) ditemukan di Angola, Namibia, Zimbabwe, Afrika Selatan, dan Zambia. Subspesiesnya adalah jerapah Angola, jerapah Afrika Selatan.

Sudah sejak 2016 diusulkan adanya empat spesies jerapah. Lalu diadakanlah penelitian yang lebih mendetail menggunakan data genom. “Spesies mamalia baru jarang sekali ditemukan dan dideskripsikan,” kata Dr Janke. “Kini dengan adanya penelitian genom membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk memperluas pemahaman kita.”

Studi genom adalah studi yang mempelajari semua informasi genetika dari spesies yang hidup. Pada 2016, Janke dan timnya meneliti DNA dari 190 jerapah di seluruh Afrika. Lalu, baru-baru ini mereka melakukan analisis genom terhadap 200.000 DNA dari total 50 ekor jerapah untuk mengkonfirmasi temuan mereka. Data mereka juga menunjukkan bahwa jerapah berevolusi secara terpisah antara 230.000 dan 370.000 tahun lalu.

Dr Julian Fennessy, yang termasuk ke dalam tim peneliti, mengatakan penelitian itu akan sangat signifikan bagi upaya konservasi jerapah. Selama satu abad terakhir, populasi jerapah di benua Afrika menurun drastis sehingga tinggal 117 ribu ekor saja. Penurunan terjadi akibat perburuan liar. International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah menetapkan status jerapah sebagai “Terancam punah”.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: