Press "Enter" to skip to content

Teror Tikus di Australia Timur

Bukan cuma petani di Indonesia yang kerap berurusan dengan hama tikus di lahan pertanian mereka. Baru-baru ini, hama tikus merajalela di Australia Timur, merusak areal pertanian dan menyerbu kawasan permukiman, merusak kabel listrik, bahkan mengigit pasien rumah sakit. Urin dan kotoran tikus di mana-mana.

Dilansir dari Science Direct, tikus juga dilaporkan minum dari sumber air masyarakat sehingga sejumlah orang sakit. Belum kerugian di sektor pertanian yang sudah tertekan akibat kekeringan dan pandemi COVID-19. Bak kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Tikus rumah (Mus musculus) bukanlah hewan asli daratan Australia. Dengan berbagai cara mereka sampai di benua itu dan bereproduksi dengan aman nyaman karena iklim yang cocok bagi mereka. “Sepasang tikus rumah bisa melahirkan sampai 500 ekor anak dalam satu musim kawin,” tutur Steve Henry, peneliti di National Science Agency Australia.

Sayangnya, masyarakat memerangi binatang pengerat itu menggunakan racun yang berbahaya bagi lingkungan dan makhluk hidup lainnya.

Pemerintahan di New South Wales, yang paling terdampak oleh hama ini, telah meminta persetujuan dari regulator untuk menggunakan pestisida generasi kedua yang disebut bromadiolone. Ilmuwan khawatir penggunaan pestisida ini berbahaya bagi keseluruhan rantai makanan,” kata Robert Davis dari Edith Cowan University.

Peneliti telah menemukan kandungan pestisida ini di tubuh ular pemakan katak, kadal omnivora yang memakan tumbuh-tumbuhan dan siput, dan ular pemakan tikus dengan lima racun berbeda. “Ini sama saja dengan bom waktu racun, menunggu racun ini meracuni para predator lainnya,” kata Bill Bateman, ahli biologi dari Curtin University.

Para ilmuwan menyarankan pemerintah melakukan riset untuk mengembangkan fasilitas lumbung makanan yang tidak akan diserbu tikus. 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: