Press "Enter" to skip to content
hoarder (Dok. Hier und jetzt endet leider meine Reise auf Pixabay aber/Pixabay)

Penimbun, Kondisi Mental yang Bisa Dialami Siapa Saja, Kenali Gejalanya

Tahukah kamu kondisi mental bernama penimbun (hoarder? Iya, orang yang sukanya membeli atau mengumpulkan barang atau bahkan sampah, di rumahnya, untuk ditimbun begitu saja sampai penuh. Kalau kalian pernah nonton serial Hoarder, pasti kalian tahu orang-orang seperti itu ada. Ternyata ini adalah semacam masalah mental dan, kamu tahu, dua dari enam orang di dunia ini mengidap masalah penimbun ini.

Permasalahan dalam diri si penimbun (hoarder) ternyata bukan pada perilaku menimbunnya. Dilansir dari Science Alert, hoarder adalah kondisi kesehatan mental yang sering bermanifestasi sebagai mekanisme coping ketika seseorang berjuang dengan kondisi lain, mulai dari cedera otak, kesedihan, hingga karena depresi. Coping adalah mekanisme seseorang untuk memecahkan masalah personal maupun interpersonal, untuk mentoleransi, meminimalisir stres dan konflik.

Seperti kesehatan mental lainnya, penimbunan dapat diobati dengan pendekatan yang benar. Sebuah artikel ilmiah dari dua psikiater dan terapis okupasi di Australia menyebutkan strategi bagi para profesional kesehatan untuk membantu mereka yang mengalami kondisi tersebut.

Penimbunan dapat dideskripsikan sebagai berikut:
1. Kesulitan membuang atau berpisah dengan harta benda, terlepas dari nilainya.
2. Kesulitan ini disebabkan oleh mereka merasa butuh menyimpan barang-barang dan merasa sulit kalau membuang
3. Kesulitan membuang mengakibatkan akumulasi barang-barang. Ruang gerak aktif mereka jadi sempit dan kacau.
4. Penimbunan menyebabkan penderitaan yang signifikan secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lainnya.
5. Penimbunan tidak disebabkan oleh kondisi medis lain.

Jika kamu mengenali gejala-gejala ini pada orang yang dicintai, langkah selanjutnya adalah mencoba membantu mereka. Namun, ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Sebabnya, si penderita biasanya menolak bantuan. “Jadi, dengan lembut dan terus menerus, tolong mereka, disertai pula dengan dukungan emosional, meskipun mereka tak mau membuka pintu,” kata tim peneliti itu.

Pemindaian MRI menunjukkan bahwa mereka yang memiliki masalah penimbunan cenderung memiliki sedikit konektivitas di kawasan otak yang berkaitan dengan kontrol kognitif. Tetapi lebih banyak konektivitas di bagian yang fokus pada ‘inner world‘ seseorang. Ini menjelaskan mengapa mereka tidak mampu memproses semua makna yang mereka berikan pada barang-barang mereka, dan mengapa mereka dapat mengalami begitu banyak masalah dengan melepaskannya.

Perilaku menimbun menjadi masalh ketika akumulasi barang tersebut mulai mengganggu kehidupan seseorang atau kehidupan orang-orang di sekitarnya. Sementara banyak penimbun adalah anggota masyarakat yang aktif secara sosial, penimbunan yang ekstrem dapat menyebabkan kemelaratan dan ketidaksehatan.

Peneliti menekankan, begitu bantuan diterima, dokter harus terlebih dahulu mengatasi masalah lain yang dapat menyebabkan perilaku penimbunan memburuk. Dalam lebih dari 50 persen kasus, penimbunan hidup berdampingan dengan kondisi seperti gangguan mental (seperti depresi), penyalahgunaan alkohol, atau penyakit fisik seperti radang sendi. Direkomendasikan juga terapi perilaku kognitif dengan menargetkan pada keterikatan dan pola emosional tertentu. Mereka juga menyoroti beberapa penelitian awal tentang obat-obatan tertentu yang dapat membantu mengobati gangguan penimbunan.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu termasuk hoarder atau penimbun? Atau adakah orang di sekitarmu yang menjadi penimbun?

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: