Press "Enter" to skip to content
Temuan batu untuk kuliner dari zaman prasejarah (Dok. Hari Suroto)

Teknik Kuliner Papua Ini Ternyata Sudah Ada Sejak Zaman Prasejarah

Pengetahuan tentang kuliner ikan masak duri lunak ternyata sudah dikenal sejak masa prasejarah di kawasan Danau Sentani, Papua.

Penelitian Balai Arkeologi Papua di Bukit Khulutiyauw, Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura berhasil menemukan artefak batu berbentuk bundar pipih. Artefak batu ini berdiameter sekitar 10 cm.

Bukit Khulutiyauw terletak di tepi Danau Sentani bagian selatan atau sebelah barat Kampung Abar.

Artefak batu yang ditemukan di Bukit Khulutiyauw pada masa lalu berfungsi untuk memasak presto ikan dalam gerabah.

Artefak batu ini ditemukan bersama pecahan-pecahan gerabah yang banyak dijumpai di hampir seluruh permukaan Bukit Khulutiyauw.

Dalam tradisi Sentani dikenal kuliner ikan kuah hitam atau hebehelo. Kuliner hebehelo berupa presto ikan danau dengan wadah gerabah dengan bumbu daun dan batang keladi.

Terdapat beberapa jenis keladi di Sentani, hanya keladi jenis bete yang digunakan sebagai bumbu. Keladi jenis ini bentuk daun dan batangnya kecil berwarna ungu.

Cara memasaknya yaitu batang dan daun keladi diasapkan terlebih dulu di perapian. Sebelumnya, siapkan dulu wadah gerabah yang bagian dalamnya telah ditaruh anyaman bambu sebagai alas.

Di atas anyaman bambu itu, ditaruh ikan yang sudah dibersihkan. Sebelum dikenal ikan mujair, ikan yang dimasak berupa ikan gabus hitam atau kayou (Eleotrididae Oxyeleotris heterodon) dan ikan gabus merah atau kahe (Eleotrididae Giuris margaritacea). Setelah itu ditambah air secukupnya dan garam.

Baru di atasnya ikan tadi, ditaruh batang dan daun keladi kering. Pada permukaan atas bahan makanan tadi ditaruh batu bundar pipih untuk penutup sekaligus sebagai penekan.

Wadah gerabah berisi ikan dipanasi di atas bara api selama sekitar dua jam.

Garam dan bumbu batang keladi akan merasuk dalam ikan. Selain itu, ikan akan terasa empuk sampai tulang. Rasanya tentu saja enak.

Penggunaan batang dan daun keladi merupakan bentuk kearifan lokal yang diwariskan secara turun temurun di Sentani. Ternyata, batang dan daun keladi ungu mengandung polifenol yang terbukti menurunkan kolesterol.

Keladi merupakan jenis tanaman yang ditanam pertama kali pada masa prasejarah, 8000 tahun yang lalu di Papua dan Papua Nugini. Sedangkan budaya gerabah mulai dikenal di Papua sejak 3000 tahun lalu. Kuliner ikan kuah hitam ini dapat disajikan sebagai kuliner khas untuk PON XX Papua.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: