Press "Enter" to skip to content
Katak Phyllobates terribilis (Dok. commons.wikimedia.org/Brian Gratwicke)

Katak-Katak Mungil yang Sangat Beracun

Jangan sepelekan ukurannya yang kecil. Beberapa hewan paling beracun atau berbisa di muka Bumi adalah hewan yang berukuran kecil. Salah satunya adalah katak beracun dari famili Dendrobatidae, yang hidup di hutan hujan di Amerika tengah dan selatan. Racun dari katak ini biasa dipakai untuk melumuri anak panah.

Dilansir dari Live Science, racun di tubuh seekor katak Dendrobatidae ini mampu membunuh 10 orang dewasa. Menariknya, katak ini ternyata tidak lahir beracun begitu. Mereka mendapatkan racunnya secara kimiawi dengan memakan serangga dan artropoda.

Spesies katak ini memang berukuran kecil, tubuh katak neotropis ini memiliki warna-warni yang terang dan kulitnya beracun. Tiga spesies dari famili ini, yaitu Phyllobates terribilis, Phyllobates aurotaenia, dan Phyllobates bicolor telah didokumentasikan digunakan untuk meracuni anak panah yang dipakai untuk berburu hewan di Kolombia.

Spesies katak yang paling beracun adalah Phyllobates terribilis atau disebut juga golden poison frog, yang menghasilkan batrachotoxins dan homobatrachoxins pada tingkat sekitar 20 kali lipat dari saudara-saudaranya yang lain. Batrachotoxins dan homobatrachoxins adalah alkaloid steroid kardio dan neurotoksik yang sangat kuat. Racun ini mengakibatkan kelumpuhan dan kematian. Tidak ada penawar yang diketahui.

Dendrobatidae memiliki kaki belakang yang pendek namun kuat dan merupakan pelompat dan pemanjat yang gesit. Ciri-ciri mereka antara lain adanya sisik atau bantalan kulit tebal pada permukaan punggung jari mereka.

Katak ini bersifat diurnal dan bertelur di darat. Banyak spesies Dendrobatidae mengasuh keturunannya dengan mengangkut berudu mereka di belakang induk (Jantan atau betina tergantung spesies).

Pada beberapa spesies Dendrobatidae, kecebong ditempatkan di lubang pohon terpisah atau kandang kecil berisi air lainnya, dan betina atau kedua orang tuanya mengunjungi kecebong secara berkala, dengan betina menyimpan telur yang tidak dibuahi untuk memberi makan kecebong.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: