Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi perbudakan di Amerika (Foto: Clker-Free-Vector-Images/Pixabay)

Melacak Jejak Pelarian Para Budak di Amerika

Pada abad ke-19, perbudakan masih terjadi di Amerika, khususnya di daerah selatan. Budak kulit hitam di selatan Amerika Serikat pernah membuat rute pelarian rahasia menuju kawasan utara Amerika, di mana perbudakan itu ilegal.

Rute rahasia ini disebut Underground Railroad, terdiri dari jalan setapak rahasia, terowongan, safe house, dan stasiun tersembunyi. Rute rahasia ini aktif pada periode tahun 1830 sampai pecahnya perang sipil pada 1861, dan meningkat di fase brutal, di mana orang kulit putih di selatan melakukan penculikan, penyiksaaan, dan pembunuhan terhadap budak kulit hitam.

Dilansir dari Live Science, baru-baru ini, sejumlah arkeolog dan sejarawan berhasil menemukan rute rahasia itu. Peneliti menganalisis berbagai arsip sejarah, dan menggunakan berbagai teknologi, seperti thermal drone dan laser, untuk menyingkapkan rute pelarian tersebut. Penemuan ini ditayangkan dalam docuseries “Underground Railroad: The Secret History” di Science Channel dan Discovery+.

Rute pelarian rahasia tersebut biasanya mengikuti arus air, jalan raya, maupun jalan setapak, dan menuju kawasan yang anti perbudakan seperti di Northern dan Western state. Mereka juga menggunakan rute ini untuk melarikan diri ke negara lain, seperti Kanada, Meksiko, ke Florida, Karibia, dan Eropa, seperti dilansir oleh National Park Service.

Beberapa destinasi pelarian ini sekarang dikenal sebagai tempat bersejarah, seperti Jackson Homestead di Newton, Massachusetts, dan Gereja AME Church di Greenwich Township di New Jersey.

Peneliti menggunakan pemetaan Geographic Information System (GIS) untuk mencocokkan data dari peta sejarah dengan topografi modern. Mereka menemukan lokasi sandar perahu para pelarian menuju Meksiko.

Di Prospect Bluff, Florida, ditemukan bekas benteng Spanyol yang terlupakan. Tempat ini merupakan perhentian penting Underground Railroad di selatan. Lokasi ini terlupakan sampai para peneliti mendeteksi kontur benteng menggunakan cahaya near-infrared dalam teknik yang dikenal sebagai light detection and ranging atau Lidar.

Di Kansas dan Ontario, Lidar menemukan sisa-sisa bangunan tahun 1800-an yang terkubur di bekas situs yang terhubung dengan Kereta Bawah Tanah di kota-kota yang sudah tidak ada lagi.

Sementara di South Carolina, peneliti melakukan teknik magnetometry, yakni teknik menemukan perubahan kecil dalam medan magnetik bumi untuk mengidentifikasi logam tertentu. Mereka menemukan reruntuhan CSS Planter, kapal Konfederasi yang tenggelam, yang terkenal dalam kisah pelarian Robert Small.

Selain itu, peneliti juga menganalisis berbagai dokumen bersejarah, seperti narasi para budak yang pernah direkam, dokumen pengadilan, biografi, artikel-artikel koran. Melalui internet dan inisiatif dari sejumlah museum dan kearsipan untuk mendigitalisasi seluruh dokumen itu membuatnya bisa diakses dengan mudah.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: