Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi lalat buah (Foto: Jerzy Górecki/Pixabay)

Lalat yang Melihat Bangkai Temannya Bakalan Cepat Mati

Ternyata ada manfaatnya membiarkan lalat mati supaya terlihat lalat yang lain. Sebab, kalau lalat lain melihat atau terkena bangkai itu, umurnya akan menyusut secara signifikan alias cepat mati. Tapi mengapa bisa begitu?

Jadi, lalat yang ‘menyentuh’ bangkai temannya akan mulai menyendiri, kehilangan lemak tubuh, dan mengalami penuaan dengan cepat lalu mati lebih cepat daripada lalat yang tidak melihat atau tersentuh oleh bangkai temannya.

Perilaku bisa kita amati pada spesies lalat buah atau Drosophila melanogaster.

Sekarang, ilmuwan sudah tahu penyebabnya. Dari penelitian mereka yang diterbitkan di PLOS Biology, dicatat bahwa lalat buah itu mempunyai dua jenis neuron yang menerima neurotransmitter serotonin menjadi aktif ketika lalat buah merasakan rekannya yang mati, dan peningkatan aktivitas ini mempercepat proses penuaan lalat.

“Memahami sirkuit saraf di mana persepsi kematian memengaruhi fenotipe ini dapat menjadi bekal dalam memahami konsekuensi yang terkait dengan ini di masa depan, dan mungkin pengalaman sensorik lainnya pada individu, termasuk manusia. Sehingga kita bisa mendapatkan insight tentang bagaimana kondisi saraf tertentu memengaruhi perilaku dan fisiologi, ” tulis tim peneliti yang dipimpin oleh ahli fisiologi Christi Gendron dan Tuhin Chakraborty dari University of Michigan, seperti dilansir oleh Science Alert.

Proses sensorik memang dapat memengaruhi penuaan, tetapi kita belum terlalu mengerti mengapa bisa begitu. Penelitian sebelumnya juga sudah menunjukkan bukti bahwa lalat mati dari spesies yang sama memang memiliki efek yang dapat dibuktikan pada lalat buah, menunjukkan bahwa mereka akan mati lebih awal, tetapi alasannya belum diketahui.

Kita juga telah melihat efek serupa pada hewan lain. Misalnya efek nekroforesis atau menghilangkan temannya yang mati pada serangga eusosial; vokalisasi dan pemeriksaan mayat pada gajah; atau peningkatan kadar hormon pengatur yang disebut glukokortikoid pada primata bukan manusia.

Pada lalat buah, perubahan tampaknya melibatkan serotonin, neurotransmitter penting yang membawa sinyal antar sel saraf, dan salah satu reseptor serotonin, 5-HT2A. Para peneliti mulai dari neuron pengekspresi 5-HT2A mana yang mungkin terlibat dalam efek yang disebut “persepsi kematian” itu.

Mereka menyuntikkan protein fluoresen pada lalat hidup dan menunjukkan kepada mereka kawannya yang mati. Kemudian, para peneliti mengamati dan mencatat bagian mana dari otak lalat hidup yang aktif saat mereka melihat bangkai temannya.

Ternyata lalat itu mulai mengaktifkan dua neuron artifisial yang disebut R2 dan R4. Belum banyak yang bisa dilakukan dengan pengetahuan baru ini. Sebab otak lalat berbeda dengan otak manusia. Tapi peneliti berharap suatu hari ini temuan ini bisa membantu kita lebih memahami cara kerja otak kita dan proses penuaan bekerja serta efek fisiologis yang disebabkan paparan pada kematian, seperti yang dialami oleh tentara atau petugas paramedis.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.