Press "Enter" to skip to content
Kuskus dari spesies Spilocuscus papuensis (Foto:commons.wikimedia.org/Micha Baum)

Mengenal Kuskus, Hewan Endemik Indonesia Timur yang Kian Terancam

Tak cuma Australia yang punya hewan berkantung seperti kanguru. Di Indonesia timur ada kuskus, hewan berkantung (marsupialia) yang merupakan hewan endemik di sana (Papua, Maluku, Sulawesi dan Timor). Sayangnya, populasinya semakin menurun akibat hilangnya habitat dan perburuan liar.

Kuskus di Indonesia terdapat 4 genus yaitu Phalanger, Spilocuscus, Ailurops dan Strigocuscus. Hingga saat ini beberapa spesies kuskus telah dikategorikan sebagai kritis, terancam punah, dan menuju kepunahan. Lebih dari 18 jenis kuskus di Indonesia berstatus dilindungi. Internasional Union Conservation of Nature (IUCN) memasukan kuskus dalam redlist (buku merah) sebagai hewan vulnerable atau terancam (IUCN 2016), dan juga terdaftar dalam CITES Appendiks II.

“Itu artinya kuskus tidak boleh diburu, disakiti, dibunuh, dan diperdagangkan, baik hidup atau mati, seluruhnya atau sebagian. Saat ini populasi kuskus semakin berkurang akibat deforestasi dan konversi lahan, serta perburuan yang meningkat,” ujar peneliti di Pusat Riset Zoologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wartika Rosa Farida, baru-baru ini.

Status konservasi kuskus di Indonesia telah dilindungi sejak tahun 1990 melalui Peraturan Perburuan Binatang Liar (PPBL) No. 226/1931, UU No. 5/1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, dan UU No. 7/1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.

Kuskus merupakan hewan yang memiliki pola warna bulu yang berbeda berdasarkan genusnya. Genus Spilocuscus terdiri dari 3 spesies dan genus Phalanger terdiri dari 8 spesies. Di Papua terdapat dua genus kuskus yaitu Spilocuscus dan Phalanger. Spesies endemik untuk Papua adalah Spilocuscus papuensis dan Spilocuscus rufoniger.

Sementara itu, di Kepulauan Maluku Utara ada beberapa jenis kuskus endemik Phalanger rothschildi, Phalanger ornatus, dan Phalanger alexandrae. Sedangkan di Sulawesi dan pulau-pulau sekitarnya terdapat 3 spesies endemik, yaitu Ailurops ursinus, Phalanger pelengensis dan Strigocuscus celebensis. Namun, karena Kuskus gebe (P. alexandrae) berkerabat dekat dengan kuskus berhias (P. ornatus) yang berdekatan.

Kuskus totol biasa (Spilocuscus maculatus) banyak ditemukan di hutan sekunder, dan Hutan tropis dataran rendah, yang terletak dari ketinggian 500 m sampai 1000 m dpl., bahkan bisa hingga ketinggian 1.400 m dpl. (Leary et al. 2008b). Di dalam hutan ini, kuskus totol biasa mencari makan di lapisan bawah, subkanopi, dan kanopi.

Secara khusus, hewan ini hidupnya di kanopi pohon di hutan tropis, hutan kayu keras, dan hutan bakau. Ini spesies jarang turun ke tanah. Kuskus yang hidup di hutan bakau bermigrasi ke hutan tropis untuk musim dingin. Hewan ini membuat sarang di lubang pohon atau bersarang tinggi di pucuk pohon tempat mereka bisa tidur.

Famili Phalangerdidae adalah mamalia berukuran sedang hingga besar dengan ukuran bervariasi dari 350–450 mm di kepala dan panjang tubuh dan berat 1100–4500 g. Hewan ini memiliki telinga kecil dan berbulu, ekor dengan setengah telanjang bagian distal dan bervariasi warna bulu tubuhnya. Beberapa spesies berpenampilan ramping tetapi sebagian besar berukuran besar. Bulu tubuhnya lebat dan lembut, serta memiliki bulu bagian bawah yang padat. Ekornya berfungsi untuk menggantung di dahan pohon, mencengkeram dahan dengan kuat, dan digunakan saat perpindahan dari satu pohon ke pohon lainnya. Beberapa garis batas zoogeografis berada di Kepulauan Indo-Australia.

Spesies kuskus lainnya menghabiskan sebagian besar waktunya tidur di liang, menghabiskan waktu di tanah, tetapi pindah ke pepohonan di malam hari mencari makan. Mereka hidup di iklim yang hangat dan basah. Terkadang kuskus turun ke tanah dan berdiam di bawah kumpulan dedaunan di lantai hutan saat cuaca sangat panas. Atau terkadang mereka berpindah ke dalam batang kayu berlubang untuk berteduh selama cuaca panas.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.