Sebagai hewan yang tingginya bisa mencapai lima meter dan leher yang panjang, jerapah 30 kali lebih mungkin tersambar petir daripada manusia. Ini fakta. Walaupun, dalam catatan, hanya ada lima sambaran petir yang fatal, yang terdokumentasi dengan baik pada jerapah selama kurun waktu 1996-2010.
Mengapa angka yang kecil itu justru lebih tinggi dari angka sambaran petir pada manusia? Soalnya, populasi jerapah di dunia memang terancam.
Pada periode 1996-2010 itu, populasi jerapah di dunia hanya 140.000 ekor. Jadi, ada 0,003 angka kematian jerapah akibat petir per 1.000 jerapah setiap tahunnya. Terlihat kecil dan rendah risikonya memang, tapi ternyata itu 30 kali lebih besar dari angka kematian akibat petir pada manusia di Amerika Serikat, pada periode yang sama.
Tinggi badan dan lehernya yang panjang mungkin menjadi salah satu penyebab hewan ini lebih sering tersambar petir. Mengapa leher jerapah begitu panjang?
Dilansir dari Science Focus, selama sekian lama dipercaya bahwa jerapah mengembangkan leher yang panjang sebagai cara mereka beradaptasi terhadap lingkungan dan bertahan dalam evolusi. Leher yang panjang memberikan jerapah akses eksklusif ke daun-daun yang ada di pucuk pohon di mana tak ada hewan lain yang bisa mencapainya dan itu memberikan mereka keunggulan kompetitif dalam persaingan makanan dengan hewan lain.
Charles Darwin dalam The Origin of Species juga menjelaskan kira-kira seperti itu. Bahwa jerapah mendapatkan lehernya yang sangat panjang melalui tahapan-tahapan kecil yang berurutan, setiap individu dengan leher yang sedikit lebih panjang mampu bertahan hidup sedikit lebih baik daripada kerabatnya yang berleher lebih pendek.
Namun pada pertengahan 1990-an, teori ini disanggah oleh beberapa ahli biologi. Dari pengamatan mereka, jerapah sama sekali tidak menggunakan lehernya yang panjang untuk menjelajah di ketinggian. Bahkan, pada saat persaingan untuk mendapatkan makanan sangat ketat, jerapah betina hanya menghabiskan separuh waktunya mengeksploitasi keunggulan tinggi badan mereka.
Para ahli biologi kemudian mengajukan skenario yang berbeda: Leher yang panjang adalah senjata dalam perkelahian para pejantan, sebagaimana tanduk pada kijang atau rusa. Jerapah jantan terlibat dalam pertarungan ‘adu leher’ untuk memikat betina, mengayunkan leher mereka satu sama lain dengan keras dan menggunakan kepala mereka yang berat sebagai ganjalan. Tengkorak jerapah jantan sangat tebal, dan ketika digunakan sebagai senjata mampu mematahkan tulang belakang.
Leher yang lebih tebal dan lebih panjang adalah kuncinya. Jerapah jantan yang paling berhasil bereproduksi memiliki leher yang paling panjang, sehingga leher jerapah berevolusi menjadi lebih panjang.
Pertanyaannya, lantas kenapa leher jerapah betina juga panjang? Penjelasannya, ini mungkin merupakan kasus ‘korelasi genetik antara kedua jenis kelamin’. Ini adalah hipotesis yang sering kali diajukan ketika tidak ada penjelasan lain yang cocok. Pda kasus jerapah, hipotesis semacam itu tidak memberikan penjelasan yang memuaskan.
Sebuah penelitian yang dilakukan tahun 2007 justru mendapati bahwa teori Darwin mungkin benar. Jerapah memang menggunakan lehernya untuk merumput di dahan-dahan paling atas. Jadi jerapah menggunakan lehernya yang panjang untuk menghindari persaingan makanan dari herbivora lainnya.
Bukti fosil juga mendukung. Tampaknya jerapah mengembangkan leher panjang mereka antara 14 dan 12 juta tahun yang lalu, sebuah periode di mana Afrika mengalami aridifikasi secara umum dan hutan-hutannya berganti menjadi sabana. Ketika jumlah pohon berkurang, persaingan untuk mendapatkan makanan di setiap pohon pasti meningkat, sehingga leher yang panjang akan lebih menguntungkan bagi jerapah.
Untungnya, satu penjelasan tidak mengesampingkan penjelasan lainnya. Bisa jadi bahwa kemampuan jerapah untuk makan dari cabang yang lebih tinggi mungkin merupakan keuntungan yang membentuk evolusi leher panjang mereka. Sementara penggunaannya sebagai gada dalam kompetisi antar jantan merupakan faktor evolusi yang menjelaskan perbedaan signifikan dalam ketebalan tengkorak jantan dan betina.
Intinya, leher jerapah memiliki sejumlah kegunaan, dan sulit untuk mengatakan mana yang paling mempengaruhi evolusinya.






Be First to Comment