Menurut data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indonesia ternyata memiliki lebih dari 800 spesies rumput laut dan punya potensi sebagai sumber bahan aktif obat baru. Saat ini baru 55 jenis yang dimanfaatkan secara komersial dan itu pun masih terbatas untuk industri pangan dan kosmetik.
“Potensi farmasinya belum tergarap,” kata Dedi Noviendri, Periset Ahli Utama di Pusat Riset Bahan Baku Obat dan Obat Tradisional (PRBBOT) di BRIN, dalam siaran pers.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pernah menyebutkan bahwa produksi rumput laut Indonesia pada 2024 mencapai 8,2 juta ton. Sayangnya, sebagian besar hasil panen langsung dijual dalam bentuk kering ke luar negeri tanpa pengolahan lanjutan. “Ini kerugian besar secara ekonomi dan ilmiah. Kita kehilangan kesempatan untuk mengolahnya menjadi bahan aktif bernilai tinggi,” ucap Dedi.
Sejatinya rumput laut menyimpan berbagai metabolit sekunder seperti polisakarida sulfat, alkaloid, flavonoid, dan polifenol yang memiliki aktivitas biologis luas. Senyawa ini terbukti memiliki efek antioksidan, antikanker, antimikroba, antidiabetes hingga antivirus.
Beberapa spesies rumput laut yang menonjol secara farmakologis antara lain Sargassum polycystum, Gracilaria sp., dan Eucheuma cottonii. Riset terbaru menunjukkan bahwa ekstrak dari ketiga spesies tersebut memiliki aktivitas imunostimulan dan berpotensi menurunkan risiko penyakit degeneratif secara signifikan.
Dalam pendekatan risetnya, tim PRBBOT BRIN menerapkan strategi bioprospeksi berbasis sains, mulai dari koleksi spesimen laut, isolasi senyawa aktif, karakterisasi struktur kimia, hingga uji bioaktivitas in vitro dan in vivo. Proses ini diperkuat dengan platform untargeted metabolomics untuk memahami profil kimia secara menyeluruh.






Be First to Comment