Sebuah naskah kuno dari Mesir kembali menjadi sorotan setelah banyak pengguna media sosial mengaitkannya dengan kisah 10 tulah dalam Kitab Keluaran. Naskah yang dikenal sebagai Papirus Ipuwer ini berbentuk puisi ratapan yang ditulis oleh seorang bernama Ipuwer, menggambarkan kehancuran besar-besaran dan kekacauan sosial yang melanda Mesir kuno.
Dalam teks tersebut, seperti dilansir dari Daily Mail, tercatat berbagai bencana seperti kelaparan, kematian massal, dan kerusakan lingkungan. Salah satu baris yang paling mencolok berbunyi: “Darah ada di mana-mana…Lihat, Sungai itu adalah darah.” Kalimat ini sangat mirip dengan kisah dalam Keluaran 7:20, ketika air Sungai Nil berubah menjadi darah atas perintah Tuhan.
Kitab Keluaran mencatat bahwa Tuhan mengirim sepuluh tulah. Mulai dari air yang berubah menjadi darah, serangan belalang, hujan es, hingga tiga hari kegelapan total, semuanya digambarkan sebagai bencana yang mengguncang Mesir.
Menariknya, Papirus Ipuwer juga mencatat kerusakan lingkungan seperti: “Lihat, pohon-pohon tumbang, cabang-cabangnya terkelupas.” “Lihat, gandum tidak ada di mana-mana.” Kedua kutipan ini mencerminkan kehancuran panen akibat hujan es dan kelaparan yang meluas—dua tulah yang juga disebut dalam Alkitab.
Papirus Ipuwer ditemukan pada awal abad ke-19 dan kini disimpan di Museum Nasional Barang Antik Belanda. Namun, baru-baru ini naskah ini kembali viral di media sosial, memicu kekaguman dan spekulasi bahwa ia mungkin menjadi bukti sejarah dari kisah Alkitab.
Beberapa peneliti memperkirakan papirus ini ditulis antara tahun 1550–1290 SM, sementara sebagian lainnya menyarankan bahwa gaya penulisannya menunjukkan kesaksian langsung dari masa sekitar 1440 SM, yang bertepatan dengan perkiraan waktu peristiwa Eksodus menurut sebagian sejarawan.
Meski kemiripan antara papirus dan kisah Alkitab cukup mencolok, para ahli memperingatkan agar tidak langsung menganggapnya sebagai bukti literal dari peristiwa Eksodus. Papirus Ipuwer bersifat puitis dan tidak menyebut nama Musa atau bangsa Israel secara eksplisit.
Beberapa peneliti berpendapat bahwa naskah ini mungkin mencerminkan bencana alam dan krisis sosial yang terjadi secara independen dari narasi Alkitab. Namun, kutipan seperti: “Keluhan terdengar di seluruh negeri, bercampur dengan ratapan,” menggemakan suasana duka dalam Keluaran 12:30, ketika “tidak ada satu rumah pun yang tidak kehilangan seseorang.”
Papirus juga menyebutkan: “Burung tidak menemukan buah atau tumbuhan,” yang mengingatkan pada tulah belalang dalam Keluaran 10:15, ketika “tidak ada yang hijau tersisa di pohon atau tanaman di seluruh tanah Mesir.”
Papirus Ipuwer juga menyentuh aspek spiritual, dengan referensi terhadap sungai darah, katak, dan kegelapan, yang dalam mitologi Mesir berkaitan dengan dewa Hapi, Heqet, dan Ra. Ada pula penyebutan tentang perbudakan dan kekayaan, seperti logam mulia yang dikenakan oleh budak perempuan, yang mencerminkan kondisi bangsa Israel dan peralihan harta seperti dalam Kitab Keluaran.
Salah satu baris paling dramatis berbunyi: “Banyak orang mati dikuburkan di sungai, aliran itu menjadi kuburan.” Kutipan ini selaras dengan Bilangan 33:4, yang menyebutkan kematian besar-besaran di Mesir. Kesimpulan dari papirus ini disampaikan dengan satu kalimat yang kuat: “Segalanya hancur.”
Papirus Ipuwer menggambarkan Mesir dalam krisis lingkungan, sosial, dan spiritual, sebuah gambaran yang sangat mirip dengan lapisan bencana dalam kisah 10 tulah. Apakah ini bukti sejarah yang mendukung narasi Alkitab, atau hanya refleksi puitis dari masa kelam Mesir kuno?






Be First to Comment