Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi singkong (Foto: Brett Hondow/Pixabay)

Singkong dan Cangkang Telur: Upaya Peneliti Bikin Plastik yang Tak “Abadi” di Tanah

Kita semua tahu masalahnya: plastik itu praktis, tapi harganya mahal buat lingkungan. Dipakai cuma sebentar, tapi nangkring di bumi bisa sampai ratusan tahun. Dilema ini yang bikin banyak peneliti muter otak mencari alternatif, dan salah satu jawaban yang paling masuk akal buat konteks Indonesia adalah singkong.

Baru-baru ini, Rina Wahyuningsih dan timnya di Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP) BRIN lagi serius mengulik bioplastik berbasis pati singkong. Kenapa singkong? Ya, karena bahan ini melimpah banget di sekitar kita, murah, dan yang paling penting: dia organik.

Rina mengatakan bioplastik ini sifatnya berkelanjutan karena pakai polimer alami. Logikanya sederhana: karena bahannya dari alam, seperti pati, selulosa, atau protein, mikroorganisme di tanah tak bakal bingung “melumat” material ini. Hasilnya? Tak ada racun yang tertinggal.

Masalahnya: Masih “Lembek” dan Takut Air

Tapi, bikin bioplastik tak semudah menukar bahan baku. Ada tantangan teknis yang bikin pusing: bioplastik murni itu biasanya “cengeng”. Dia gampang rusak (sifat mekaniknya buruk) dan sangat sensitif dengan air. Kena lembap sedikit, stabilitasnya langsung goyang.

Nah, di sinilah eksperimen jadi menarik. Biar plastiknya lebih stabil dan elastis, peneliti butuh bahan tambahan yang namanya plasticizer. Rina mencoba sesuatu yang agak unik: memanfaatkan limbah cangkang telur ayam kampung, atau yang mereka sebut INCES (Indonesian Native Chicken Eggshell).

Selama ini, membran di balik cangkang telur itu biasanya dibuang begitu saja. Padahal, ada kandungan kolagen sekitar 31% di sana yang bisa diolah jadi gelatin. Gelatin inilah yang diharapkan bisa jadi “lem” alami supaya struktur bioplastik tadi lebih kokoh tapi tetap lentur.

Hasilnya bagaimana?

Sejauh ini, hasilnya memberikan gambaran yang jujur. Tim peneliti mencoba mencampurkan gelatin cangkang telur ini dengan kadar 2% dan 4%. Hasilnya memang bikin plastik jadi sangat cepat hancur, hanya butuh waktu sekitar lima hari di dalam tanah untuk terdegradasi. Bandingkan dengan plastik biasa yang butuh waktu puluhan tahun.

Tapi, secara fisik, bioplastik ini ternyata masih belum ideal. Kekuatannya belum maksimal dan masih terlalu gampang larut dalam air.

Rina sendiri tak menutup mata soal kekurangan ini. Menurutnya, ini baru langkah awal. Ke depannya, tim bakal mencoba “resep” lain dengan menambahkan zat seperti kitosan, agar, atau selulosa buat memperkuat daya tahannya.

Harapannya, nanti kita punya bioplastik yang tak cuma cepat hancur di tanah, tapi juga kuat dipakai sebagai kemasan pangan yang berkelanjutan. Ya, jalan menuju plastik yang benar-benar ramah lingkungan memang masih panjang. Tapi setidaknya, dari dapur dan kebun singkong kita, solusinya pelan-pelan mulai diracik.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.