Beberapa pekan terakhir, linimasa media sosial kembali ramai oleh klaim lama: sains disebut-sebut “membuktikan” gempa bumi yang terjadi saat penyaliban Yesus. Dilansir dari Daily Mail, sumbernya bukan penelitian baru, melainkan studi geologi yang dipublikasikan lebih dari satu dekade lalu. Setelah diangkat ulang, perdebatan pun muncul lagi, antara yang melihatnya sebagai konfirmasi historis dan yang menilai klaim itu terlalu jauh.
Di dalam Injil Matius memang ada satu kalimat yang sering dikutip: “bumi bergoncang” sesaat setelah Yesus menghembuskan napas terakhir di kayu salib. Peristiwa itu digambarkan secara dramatis.
Pada 2012, sekelompok ahli geologi meneliti lapisan sedimen di sekitar Laut Mati, kira-kira 40 kilometer dari lokasi yang oleh banyak sejarawan diyakini sebagai tempat penyaliban. Kawasan itu memang menarik untuk diteliti. Secara geologis, ia berdiri tepat di atas patahan aktif yang dikenal sebagai Dead Sea Transform, zona pertemuan Lempeng Arab dan Lempeng Sinai yang saling bergeser.
Wilayah ini bukan tempat yang asing bagi gempa. Catatan arkeologi dan sejarah menunjukkan kawasan tersebut sudah diguncang gempa selama setidaknya 4.000 tahun terakhir.
Membaca “Arsip” dari Dasar Laut
Tim peneliti mengambil inti sedimen dari wilayah Ein Gedi, di tepi Laut Mati. Sedimen di sana unik karena tersusun berlapis-lapis secara tahunan, mirip lingkaran tahun pada batang pohon. Setiap tahun, danau mengendapkan dua lapisan: lapisan musim dingin yang lebih berat dan lapisan musim panas yang lebih terang. Lapisan tahunan ini disebut varves.
Dengan menghitungnya satu per satu, peneliti bisa membaca sejarah bumi tahun demi tahun.
Di antara lapisan-lapisan rapi itu, mereka menemukan bagian yang terlipat, retak, dan terdistorsi. Bagi ahli geologi, ini sinyal klasik gangguan seismik. Artinya, pada tahun-tahun tertentu, sedimen yang belum sepenuhnya mengeras terguncang oleh gempa.
Hasil analisis menunjukkan ada dua peristiwa besar dalam rentang yang mereka teliti: satu gempa kuat sekitar 31 SM, dan satu gempa yang lebih kecil di antara tahun 26 hingga 36 M.
Rentang waktu kedua inilah yang memicu perhatian. Secara historis, periode itu bertepatan dengan masa pemerintahan Pontius Pilatus sebagai gubernur Romawi di Yudea, tokoh yang dalam narasi Alkitab memimpin pengadilan Yesus. Banyak sejarawan memperkirakan penyaliban terjadi sekitar tahun 33 M.
Apakah itu berarti gempa dalam sedimen tersebut adalah gempa yang sama dengan yang disebut dalam Injil?
Belum tentu.
Antara Sains dan Narasi Keagamaan
Peneliti sendiri sejak awal berhati-hati. Ada beberapa kemungkinan. Pertama, memang terjadi gempa pada masa itu dan peristiwa tersebut direkam dalam teks Injil. Kedua, gempa terjadi di wilayah sekitar pada periode yang kurang lebih sama, lalu kemudian menjadi bagian dari narasi religius. Ketiga, gempa itu nyata tetapi tidak pernah tercatat dalam sumber sejarah lain.
Sebagian pengguna media sosial langsung menyebut studi ini sebagai “bukti ilmiah” kebenaran Alkitab. Sebuah unggahan di platform X bahkan ditonton puluhan ribu kali dengan klaim bahwa sains sekali lagi mengonfirmasi teks suci.
Namun banyak juga yang skeptis. “Jendela waktu sepuluh tahun bukan bukti pasti,” tulis seorang pengguna. Yang lain meragukan kemampuan ilmuwan untuk menanggal gempa lebih dari 1.500 tahun lalu.
Padahal, secara metodologis, menentukan usia gempa kuno bukan hal mustahil. Ilmuwan menggunakan berbagai teknik: penanggalan radiokarbon pada material organik di sekitar patahan, analisis endapan tsunami, pengamatan distorsi sedimen, hingga dendrokronologi, metode membaca lingkaran pertumbuhan pohon.
Dalam studi ini, penanggalan tidak hanya mengandalkan satu sampel. Dua inti sedimen dibandingkan, dan hasilnya relatif konsisten. Penelitian independen yang menggunakan sampel serupa juga menunjukkan kisaran waktu yang mirip, memberi keyakinan tambahan pada estimasi tersebut.
Wilayah yang Memang Rawan Gempa
Perlu diingat, Laut Mati berada di zona tektonik yang sangat aktif. Patahan Laut Mati membentang dari utara ke selatan, menciptakan cekungan dalam, yang menjadikan kawasan ini titik terendah di daratan Bumi. Dalam beberapa bagian, lempeng saling menjauh; di tempat lain, saling menekan. Kombinasi ini menghasilkan retakan dan patahan yang kompleks.
Dalam satu abad terakhir saja, gempa cukup sering terjadi di wilayah ini. Jadi menemukan jejak gempa pada periode Romawi bukan sesuatu yang mengejutkan.
Tim peneliti juga membandingkan temuan mereka dengan gempa lain yang tercatat dalam sejarah kawasan itu, misalnya pada tahun 19 M, 37 M, 47 M, dan 48 M. Tidak ada yang dinilai cukup kuat atau cukup dekat waktunya untuk menghasilkan pola deformasi yang sama di sedimen Ein Gedi.
Tetap saja, ada ketidakpastian. Beberapa lapisan rusak atau tidak sepenuhnya jelas. Tahun pastinya tidak bisa ditentukan secara presisi.
Sains Tidak Selalu Memberi Jawaban Final
Apakah gempa yang terekam dalam sedimen itu adalah gempa yang sama dengan yang disebut dalam Injil Matius? Sains tidak mengatakan ya. Juga tidak mengatakan tidak.
Yang bisa dikatakan: ada gempa di wilayah itu pada kisaran waktu yang berdekatan dengan periode penyaliban Yesus. Selebihnya, apakah itu peristiwa yang sama, atau hanya kebetulan historis, bergantung pada cara orang menafsirkan data dan teks.
Bagi sebagian orang, ini cukup untuk memperkuat keyakinan. Bagi yang lain, ini hanya catatan geologi tentang kawasan yang memang sering berguncang.
Dan mungkin, di sinilah batas antara sains dan iman. Yang satu membaca lapisan sedimen. Yang lain membaca teks kuno. Kadang keduanya beririsan, kadang tidak.






Be First to Comment