Banyak orang mengenal kuda laut hanya sebagai hewan laut kecil dengan bentuk tubuh yang unik. Ada yang pernah melihatnya dijadikan suvenir, ada juga yang mengenalnya dari akuarium hias. Tapi sedikit yang sadar, hewan mungil ini sebenarnya sedang menghadapi tekanan besar di perairan Indonesia.
Indonesia bisa dibilang salah satu “surga” kuda laut dunia. Peneliti dari BRIN mencatat saat ini terdapat sedikitnya 13 spesies kuda laut yang hidup di berbagai wilayah perairan Indonesia. Jumlah itu bahkan diperkirakan masih bisa bertambah, seiring riset dan eksplorasi laut yang terus berkembang.
“Di Indonesia ada 13 spesies kuda laut, tapi itu untuk saat ini. Ke depan jumlahnya masih mungkin bertambah,” ujar Masayu Rahmia Anwar Putri, Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Sistem Biota BRIN, dalam sebuah lokakarya di Jakarta.
Namun di balik kekayaan biodiversitas tersebut, kondisi kuda laut ternyata tidak seindah bentuknya.
Banyak yang Sudah Masuk Kategori Terancam
Sebagian spesies kuda laut di Indonesia kini masuk kategori rentan hingga terancam punah. Ada yang berstatus vulnerable, endangered, bahkan critically endangered berdasarkan tingkat keterancaman global maupun nasional.
Masalahnya bukan cuma satu. Perdagangan ilegal, rusaknya habitat pesisir, hingga minimnya data pemanfaatan membuat populasi kuda laut di alam sulit dipantau secara akurat. Banyak penangkapan yang tidak pernah tercatat. Dan ini berbahaya.
“Kita jadi tidak benar-benar tahu kondisi populasi sebenarnya di alam,” jelas Masayu.
Kuda laut memang punya nilai ekonomi yang tinggi. Dalam kondisi kering, hewan ini banyak diperdagangkan untuk obat tradisional maupun suvenir. Harganya bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp8 juta per kilogram.
Yang jarang dibayangkan orang, satu kilogram kuda laut kering bisa berisi ratusan bahkan ribuan ekor, tergantung ukuran spesiesnya.
“Kalau satu kampung mengambil semuanya terus-menerus, lama-lama kuda laut bisa hilang dari wilayah itu,” katanya.
Hewan Laut yang Ternyata “Bukan Perenang Hebat”
Meski hidup di laut, kuda laut sebenarnya bukan perenang yang kuat.
Tubuhnya kecil dan gerakannya lambat. Untuk bertahan dari arus laut, mereka biasanya mengaitkan ekornya ke lamun, alga, atau terumbu karang. Habitat pesisir seperti padang lamun dan makroalga jadi tempat hidup yang sangat penting.
Karena itu, ketika habitat pesisir rusak akibat pencemaran, reklamasi, atau aktivitas manusia lainnya, kuda laut termasuk salah satu spesies yang paling cepat terdampak.
Mereka tidak mudah berpindah tempat. “Mereka sangat bergantung pada habitatnya. Kalau habitat terganggu, mereka akan kesulitan bertahan hidup,” ujar Masayu.
Jantan yang “Hamil” dan Melahirkan
Di balik ancamannya, kuda laut juga menyimpan fakta biologis yang sangat unik.
Kalau di sebagian besar hewan betina yang mengandung, pada kuda laut justru pejantan yang “hamil”.
Prosesnya dimulai ketika betina memindahkan telur ke kantong khusus di tubuh jantan. Di dalam kantong itu, embrio berkembang selama sekitar satu hingga dua bulan sebelum akhirnya dilahirkan.
Bukan sekadar “menyimpan” telur, tubuh pejantan juga mengatur oksigen dan kadar garam untuk membantu perkembangan embrio sampai siap lahir.
“Di dalam kantong itu embrio diberi oksigen dan diatur kadar garamnya sampai siap dilahirkan,” jelas Masayu.
Fenomena ini membuat kuda laut sering dianggap sebagai salah satu hewan laut paling unik di dunia.
Indonesia Punya Tantangan Besar
Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai sangat panjang, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga populasi kuda laut. Pengawasan tidak mudah dilakukan, sementara wilayah habitatnya tersebar luas.
Karena itu, BRIN bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan mulai menyusun berbagai langkah pengelolaan berkelanjutan. Mulai dari rekomendasi kuota pemanfaatan, pedoman translokasi dan restocking, hingga penyusunan rencana aksi nasional konservasi kuda laut.
Tapi menurut para peneliti, semua itu tidak akan cukup tanpa keterlibatan masyarakat pesisir.
Nelayan dan warga lokal dianggap punya peran penting untuk melaporkan tangkapan, menjaga habitat lamun, sekaligus membantu pemantauan populasi di lapangan.
“Kalau masyarakat pesisir tidak ikut berkontribusi, kita tidak akan mendapatkan data yang sebenarnya,” kata Masayu.
Dan mungkin memang di situlah tantangan terbesarnya. Kuda laut terlalu kecil untuk menarik perhatian banyak orang. Padahal keberadaannya bisa menjadi penanda penting kesehatan ekosistem pesisir Indonesia.






Be First to Comment