Bagaimana ilmuwan bisa mengetahui bahwa hutan pernah terbakar jutaan tahun lalu, ketika manusia bahkan belum ada? Jawabannya ternyata tersimpan jauh di bawah permukaan laut.
Peneliti Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ita Wulandari, menemukan jejak kebakaran hutan purba dari sedimen dasar Laut Mediterania. Temuan ini mengungkap bahwa perubahan iklim yang terjadi sekitar 4–7 juta tahun lalu ternyata berkaitan dengan meningkatnya intensitas kebakaran hutan serta masuknya material organik dari daratan ke laut.
Dasar laut ternyata “arsip” iklim Bumi
Selama ini, dasar laut mungkin terlihat seperti hamparan lumpur biasa. Namun bagi ilmuwan, sedimen di dalamnya ibarat time capsule yang menyimpan cerita tentang kondisi Bumi pada masa lalu.
Lapisan sedimen dapat menumpuk selama jutaan tahun. Di dalamnya, berbagai senyawa organik dari daratan dan lautan ikut terperangkap dan terawetkan.
Laut Mediterania menjadi lokasi yang menarik untuk diteliti karena memiliki hubungan dengan sistem sirkulasi air menuju Atlantik Utara. Karena itu, perubahan yang terjadi di kawasan ini dapat memberikan petunjuk mengenai dinamika karbon dan sistem iklim global.
“Melalui analisis biomarker geokimia organik pada sampel sediment core Laut Alboran hasil Ekspedisi IODP 401, kita dapat membaca kembali bagaimana iklim hangat purba, perubahan dinamika air dasar laut, hingga lonjakan kebakaran hutan di daratan terekam dalam molekul-molekul organik,” kata Ita.
Ada “sidik jari” kebakaran di dalam sedimen
Salah satu fokus penelitian adalah periode yang dikenal sebagai Messinian Salinity Crisis (MSC), sekitar lima juta tahun lalu.
Pada masa tersebut, Laut Mediterania mengalami perubahan ekstrem yang menyebabkan sebagian besar wilayahnya mengering dan meninggalkan endapan garam dalam jumlah sangat besar. Ketebalan endapan halite bahkan diperkirakan mencapai hampir 1,5 kilometer di dasar laut.
Untuk membaca kondisi lingkungan pada masa itu, peneliti menganalisis sampel sedimen menggunakan teknologi Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) dan GC-MS/MS.
Hasilnya cukup menarik.
Peneliti menemukan peningkatan lima senyawa yang dapat menjadi indikator kebakaran, yakni coronene, benzo(a)pyrene, triperylene, chrysene, dan benzo(bjk)fluoranthene.
Senyawa-senyawa tersebut termasuk kelompok Pyrogenic Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs), yang menjadi penanda adanya proses pembakaran material organik.
Sederhananya, sedimen tersebut menyimpan semacam “sidik jari kimia” dari kebakaran hutan yang terjadi jutaan tahun lalu.
Bukan cuma api, vegetasi purba juga ikut terekam
Penelitian tidak hanya menemukan tanda-tanda kebakaran.
Kandungan biomarker seperti retene dan cadalene juga ditemukan dalam jumlah tinggi. Senyawa tersebut menunjukkan bahwa material organik dari vegetasi daratan banyak terbawa ke laut.
Jenis vegetasi yang dominan diduga berasal dari kelompok gymnospermae, termasuk tumbuhan berkayu seperti konifer.
“Tingginya kelimpahan biomarker seperti retene dan cadalene mengonfirmasi dominasi masukan vegetasi darat tingkat tinggi, khususnya gymnospermae, yang terbawa ke laut pada kondisi iklim hangat dan lembap saat itu,” ujar Ita.
Jadi, dari sedimen laut, ilmuwan bisa mendapatkan gambaran tentang iklim, tumbuhan, hingga kebakaran di daratan yang terjadi jutaan tahun sebelumnya.
Lautnya juga berubah dari minim oksigen
Ada temuan lain yang tak kalah menarik.
Peneliti menggunakan rasio pristane/phytane untuk melihat perubahan kondisi lingkungan dasar laut. Hasilnya menunjukkan bahwa lingkungan dasar Laut Mediterania mengalami perubahan dari kondisi anoksik, atau minim oksigen, selama periode Messinian menjadi lebih kaya oksigen atau oksik pada periode Pliosen.
Dengan kata lain, sedimen tersebut bukan hanya merekam apa yang terjadi di daratan, tetapi juga perubahan kondisi laut itu sendiri.
Mengapa ilmuwan mempelajari kebakaran jutaan tahun lalu?
Temuan seperti ini penting karena sejarah iklim Bumi tidak hanya menjadi cerita masa lalu. Rekaman tersebut membantu ilmuwan memahami bagaimana sistem Bumi merespons perubahan lingkungan dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Sedimen laut memberikan kesempatan untuk melihat hubungan antara perubahan iklim, vegetasi, kebakaran, dan kondisi lautan secara bersamaan.
Untuk memastikan sumber salah satu senyawa yang ditemukan, yaitu perylene, Ita dan tim akan melakukan analisis isotop karbon stabil menggunakan metode Compound-Specific Isotope Analysis (CSIA) di Curtin University, Australia, pada November 2026.
Analisis tersebut akan membantu menentukan apakah perylene berasal dari aktivitas jamur pengurai kayu atau juga mendapat kontribusi dari alga laut.
Hasil penelitian lanjutan itu rencananya akan dipresentasikan dalam Australian Organic Geochemical Conference (AOGC).
Pada akhirnya, dasar laut bukan sekadar tempat berbagai material mengendap. Ia adalah arsip alam yang mampu menyimpan cerita Bumi selama jutaan tahun.
Dan kali ini, arsip tersebut mengungkap bahwa jauh sebelum manusia mengenal api sebagai alat dan ancaman, hutan-hutan purba sudah meninggalkan jejak kebakarannya di dasar laut.






Be First to Comment