Press "Enter" to skip to content

Paus Sperma dan Sampah Plastik, Tragedi Lautan Kita

Seekor paus sperma ditemukan mati di Pulau Kapota di Wakatobi, baru-baru ini. Hal yang mengejutkan sekaligus miris adalah di perutnya ditemukan sekitar 6 kg sampah plastik.

Bukan sekali dua hewan laut ditemukan mati dengan sampah plastik di perutnya. Limbah plastik memang sedang tumbuh menjadi alat pembunuh nomor wahid di lautan.

Dilansir dari Business Insider Australia, setiap tahun ada 8 juta ton plastik yang dibuang ke lautan di seluruh dunia. Tak hanya berdampak pada biota dan ekosistem, seperti matinya paus sperma tadi, tapi juga bisa berdampak pada kesehatan dan perekonomian kita.

Menurut prediksi, jumlah sampah plastik di laut akan terus bertambah mencapai 10 kali lipat sekarang pada 2020. Dari mana saja mereka berasal.

Sebagian sampah plastik datang dari peralatan perikanan, kecelakaan industri, atau pembuangan ilegal. Sekitar 80 persennya berasal dari daratan, yaitu:
1. Sampah dari pantai dan jalanan di darat, yang sampai ke laut melalui saluran air dan sungai.
2. Sampah yang terbang dari tempat penampungan, atau saat pengiriman.
3. Plastik mikro dari rumah-rumah, sisa dari produk kecantikan, yang tidak terdeteksi di saluran air. Misalnya scrub pembersih kulit wajah.

Padahal sampah plastik butuh ratusan tahun untuk meluruh. Malah, kebanyakan berubah menjadi plastik mikro yang menyebabkan risiko lebih tinggi lagi, terkonsumsi oleh biota laut atau bahkan mengganggu kesehatan manusia itu sendiri.

Ketika biota laut mengonsumsi sampah plastik, pencernaan mereka akan terganggu. Belum lagi racun dari plastik akan merusak hormon mereka dan membuat mereka bahkan menjadi mandul.

Ada yang disebut sebagai Great Pacific Garbage Patch yang membentang di Samudera Pasifik, dari Hawaii ke California. Ada sekitar 1,8 triliun keping plastik yang mengapung di sana dan tak sengaja dikonsumsi oleh kawanan penyu laut.

Bagaimana memecahkan masalah ini? Para pegiat lingkungan, pemerintah, dan berbagai organisasi, sudah melakukan banyak program untuk menangani masalah ini. Tapi dari diri kita sendiri sebetulnya bisa kok membantu, bahkan dengan cara paling sederhana, yaitu: jangan buang sampah sembarangan. 

 

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: