Press "Enter" to skip to content

Tradisi Pembuatan Gerabah Kayu Batu Kota Jayapura Terancam Punah

Tradisi pembuatan gerabah di Kampung Kayu Batu, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura terancam punah. Saat ini di Kampung Kayu Batu hanya tersisa satu orang mama pembuat gerabah dari Suku Pui.

Gerabah dalam bahasa setempat disebut sempe. Pengetahuan membuat sempe merupakan warisan nenek moyang orang Kayu Batu yaitu Suku Pui. Pada zaman prasejarah hasil-hasil sempe dari Kayu Batu diperdagangkan ke beberapa daerah di pesisir utara Papua hingga ke Sarmi dan perbatasan Papua New Guinea.

Sempe dibarter dengan kapak batu, dan manik-manik. Sebagai penghasil sempe, terdapat juga mitos terkait keberadaan sempe yakni nenek moyang orang Kayu Batu (Suku Pui) berasal dari tanah liat. Tiap suku (Pui, Makanuai satu, Makanuai dua) dalam pembuatan sempe mempunyai motif tersendiri seperti Suku Pui dengan gambar kadal dan buaya, Suku Makanuai Satu dengan gambar bentuk kerang laut (motif gelombang) dan Suku Makanuai Dua gambar ikan.

Pembuatan gerabah dilakukan oleh perempuan, baik proses pencarian bahan baku hingga proses pembentukan dan pembakaran. Tanah liat sebagai bahan baku diperoleh dari kebun yang tidak jauh dari Tanjung Suaja. Pasir halus didapatkan dari pesisir pantai Tanjung Suaja.

Sebelum proses pembuatan gerabah, tanah liat yang diambil dari kebun didiamkan terlebih dahulu selama sekitar seminggu di lingkungan terbuka. Hal ini berfungsi untuk mengurangi keasaman tanah. Dalam proses pembuatannya tanah liat diberi pasir laut halus sebagai campuran dan ditambah sedikit air guna membantu dalam proses pembuatan adonan tanah liat.

Gerabah bagian dasar dibuat dengan tangan, untuk bentuk selanjutnya yaitu dinding dan badan dalam proses pembentukan dibantu oleh tatap pelandas. Pembentukan mulut dan tepian menggunakan tangan. Penyelesaian akhir permukaaan luar gerabah dibuat dengan pemberian hiasan berupa motif kadal, ikan, kerang laut. Guna mengurangi porositas gerabah, maka setelah selesai gerabah dibakar, permukaan luar gerabah digosok dengan buah bakau. Bentuk gerabah yang dihasilkan berupa tempayan yang berfungsi untuk menyimpan air.

Tradisi pembuatan gerabah Kayu Batu perlu dilestarikan, agar tidak tergerus oleh wadah plastik. Hal ini perlu didukung oleh masyarakat Kayu Batu sendiri, dinas terkait dan konsumen gerabah. Perlu dilakukan penelitian dan pendokumentasian yang mendetail dan lengkap tentang tradisi pembuatan gerabah di Kayu Batu.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: