Press "Enter" to skip to content

Wow, Di Sini Ada Perahu Lelaki dan Perahu Perempuan

Terdapat dua jenis perahu tradisional di Danau Sentani, yaitu perahu laki-laki dan perahu perempuan. Perahu laki-laki sangat sederhana namun elegan, bagian bawahnya bulat sehingga sangat sulit untuk menjaga keseimbangan, kecuali bila telah terlatih sejak kecil.

Perahu laki-laki Sentani secara tradisonal sangatlah kecil, hanya bisa memuat satu orang, dan tidak stabil di atas air. Terlalu sempit di mana pemakai tidak duduk di antara sisi-sisi perahu melainkan duduk di atasnya. Terkadang satu kaki dijuntaikan ke air untuk dengan maksud membantu menjaga keseimbangan.

Sekarang ini di Sentani, perahu laki-laki mulai sangat sulit ditemukan. Sebab hilangnya perahu laki-laki adalah berubahnya tren transportasi, terlebih fungsi dan nilainya. Kini kaum pria lebih aktif bekerja di Kota Sentani daripada di danau, apabila memerlukan sarana transportasi, telah tersedia banyak perahu motor tempel.

Perahu perempuan dibuat untuk penumpang berkelompok, sehingga cukup besar. Dekorasinya sederhana, tidak seperti yang ada di pesisir utara. Perahu perempuan secara tradisional hanya digunakan oleh wanita diantara masyarakat Sentani. Perahu itu sendiri biasanya berukuran 4-10 meter dan dibuat dari pohon besi ataupun pohon matoa.

Perahu perempuan pada umumnya sedikit lebih besar dibanding perahu laki-laki dan mampu melabuhkan 1-10 orang penumpang, dan pada waktu yang sama memungkinkan kaum perempuan untuk membawa perlengkapan memancing, wadah air, dan benda-benda berat lainnya.

Perempuan menggunakan perahu ini dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bisa dianggap sebagai perlengkapan kerja mereka yang paling penting. Mereka menggunakannya saat mereka menebar/mengangkat jala ikan, mencari kayu bakar, mengambil air bersih dari tengah danau, mengangkut tepung sagu, atau kerja ditempat lain. Perahu perempuan dimiliki oleh setiap keluarga di kampung, bahkan bisa lebih dari satu tergantung pada tuntutan kerja para wanita di keluarga tersebut.

Tiap perahu memiliki motif yang berbeda-beda (ikan, buaya, kadal, burung), nama, terkadang tanggal pembuatan, diukir diatasnya.

Beberapa nama perahu perempuan Sentani yaitu ‘Nakoro Ya’ yang berarti ‘biarkan aku sendiri’. Satunya lagi adalah ‘Mal Nip’ yang berarti ‘Cara mencapai tempat”. Saat ini, laki-laki juga menggunakan perahu perempuan untuk beraktivitas, meski seharusnya perempuanlah yang melakukan sebagian besar perjalanan dengan perahu tersebut.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura) bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: