Press "Enter" to skip to content

Indahnya Gotong Royong dalam Pembuatan Perahu di Danau Sentani

Dalam budaya masyarakat Danau Sentani, bila akan dibuat sebuah perahu, yang pertama menjadi pertimbangan adalah ukuran yang diinginkan. Pertimbangan yang mengacu akan kebutuhan keluarga untuk menentukan ukuran dan ketersediaan kayu yang pantas.

Lokasi pembuatan perahu tergantung tempat di mana pohon yang cocok akan ditebang. Sejak pohon-pohon besar tidak lagi ada di hutan yang dekat danau, warga desa biasanya menempatkan kayu di hutan besar, 1-4 km sebelah selatan danau. Bila pohon telah ditebang, panjang perahu juga akan dipotong. Pengerjaan pada batang pohon itu sendiri tidak akan dimulai sebelum warga desa percaya bahwa kayu telah siap, dikatakan bahwa kayu membutuhkan “istirahat” 2-4 minggu untuk mencapai kondisi yang tepat agar kayu bisa dibentuk. Pada saat penggalian lubang duduk untuk perahu telah selesai, perahu akan diturunkan dari hutan. Tim pembuat perahu telah diatur sebelumnya oleh pemilik pada hari dimana perahu telah disiapkan untuk diturunkan.

Sebelum meninggalkan hutan, kaum pria mengumpulkan kekuatan dengan makan dan menyanyi. Mereka tidak menerima upah untuk membuat perahu, tapi diberi makanan gratis, rokok dan buah pinang, yang telah disiapkan oleh pemilik. Untuk mengangkut perahu biasanya dilakukan pada pagi hari sebelum matahari tinggi di cakrawala di mana suhu belum terlalu panas. Liana tebal digunakan untuk mengikat perahu dan membuat “tali-tarik” bagi para pria. Penarikan perahu dipicu oleh lagu atau perintah.

Sewaktu menarik perahu, pemuda dan anak laki-laki mengumpulkan tangkai pohon yang mereka temukan di sepanjang jalan, dan meletakkannya di depan perahu. Hal ini dilakukan manakala pria yang lain menarik perahu di sepanjang lereng. Kegiatan gotong royong dalam pembuatan perahu di Danau Sentani merupakan salah satu contoh kearifan lokal yang dipertahankan sebagai kearifan lingkungan sosial.

Meletakkan tangkai pohon secara berkesinambungan dan membuat perahu lebih mudah digeser, dan meminjamkan beberapa kekuatan bagi kaum pria. Nyanyian dan humor diantara para pria mengilhami kerja berat meski perahu menjadi berat, baik itu karena sulitnya kondisi tanah atau kekurangan makanan/minuman, istirahat akan lebih sering dilakukan. Keberadaan makanan dan minuman menjamin kaum pria untuk bekerja, apalagi bila perahu ditempatkan jauh dari kampung.

Pada saat kaum pria sampai di kampung, warga kampung yang penasaran berkumpul untuk menyaksikan. Makin besar jumlah penonton, akan semakin menarik pula situasi di kampung. Perahu dibawa ke tepi danau, dimana biasanya diikat dibawah permukaan air. Perahu diletakkan ditempat tersebut sampai warga desa percaya bahwa kondisi perahu sudah siap untuk dibuat ukiran Saat perahu dibawa ke tepian lagi, sorang pemahat kayu akan mengerjakan sisa pekerjaan termasuk memoles perahu, mengukir nama, dan motif lokal Sentani diatasnya.

Sang pemahat biasanya tidak menerima pembayaran berupa uang, tetapi ditambah dengan apapun yang dia perlukan untuk bekerja, termasuk peralatan, makanan dan minuman, dan pinang. Pekerjaan ini secara langsung memperkuat kekerabatan dan hubungan timbal-balik (resiprositas) antara individu yang terlibat khusus dalam pekerjaan dengan keluarga yang menerima perahu baru.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: