Press "Enter" to skip to content

Arak dalam Linimasa Sejarah Papua

Transportasi utama dari Kota Jayapura ke pegunungan tengah Papua adalah transportasi udara. Namun jenis transportasi udara hanya mampu mengangkut barang dalam jumlah terbatas. Hal ini sangat berpengaruh pada perbedaan harga barang antara Kota Jayapura dan pedalaman. Namun ada nilai positifnya dari transportasi udara ini, minuman keras (miras) tidak boleh diangkut ke pedalaman.

Untuk mengatasi kesenjangan harga bahan pokok, pemerintah telah membangun jalan darat yang menghubungkan Kota Jayapura dengan Wamena. Namun sangat disayangkan, meski belum sepenuhnya rampung dikerjakan, jalan Trans Papua ruas Wamena-Jayapura kini mulai digunakan sebagai jalur alternatif penyelundupan miras dari Kota Jayapura ke sejumlah kabupaten yang ada di wilayah Pegunungan Tengah Papua.

Hal ini terbukti setelah kepolisian sektor Yalimo berhasil mengamankan sejumlah botol miras pabrikan yang diselundupkan dari Kota Jayapura. Miras walaupun dilarang di Papua tetapi banyak yang mencari. Sehingga komoditas ini dijual belikan secara ilegal.

Sejak kapan minum miras mulai ada di Papua?

Peter Bellwood pengajar Australian National University dalam buku Man Conquest of the Pacific: The Prehistory of South East Asia and Oceania (1978) menyebut penutur Austronesia yang datang di pesisir Papua sekitar 3000 tahun yang lalu juga memperkenalkan pembuatan minuman beralkohol hasil sadapan pohon aren atau kelapa.

Dalam budaya tradisional Papua, suku Mey Brat di Ayamaru memiliki kebiasaan minum arak atau dalam bahasa setempat disebut dengan ara dju. Arak diminum orang Mey Brat pada pesta atau pertemuan atau dengan tamu. Cairan ini disadap dari pohon aren. Di daerah utara Danau Ayamaru arak disebut djy atau tuwoq (berasal dari kata Melayu tuwak).

Lain halnya di daerah Kampung Waena Jayapura, tuak atau sagero disadap dari pohon kelapa. Orang Tehit di Teminabun Sorong, menyebut sagero sebagai ”minuman persaudaraan”. Oleh orang Tehit, sagero ini disadap dari pohon aren.

Minuman keras modern di Papua diperkenalkan oleh tentara Amerika dan Australia pada Perang Pasifik (1944). Jayapura atau Hollandia saat itu oleh Amerika dijadikan sebagai Basis G, markas militer komando untuk wilayah Pasifik Barat Daya yang dilengkapi dengan sembilan galangan kapal (dock), fasilitas militer, rumah sakit, gudang, toko dan tempat hiburan.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram: @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: