Press "Enter" to skip to content
Alkitab King James Version (Foto Dok Pixabay)

Terjemahan Alkitab Ini Terpopuler Sepanjang Zaman

Dirilis pada abad ke-17, terjemahan Alkitab yang disusun oleh Raja James I ternyata masih menjadi terjemahan Alkitab terpopuler sepanjang masa. Biasa disebut sebagai King James Version (KJV), terjemahan ini diterbitkan pada 1611. Menurut Statista, sebagaimana dilansir oleh Live Science, KJV dibaca oleh lebih dari 31 persen warga Amerika Serikat. Diikuti oleh terjemahan New International Version (NIV) sebanyak 13 persen.

Terjemahan KJV terbilang unik karena “Menerjemahkan kata per kata dan sense-for-sense, yang artinya ia adalah translasi yang literal dari setiap perkataan yang diucapkan oleh Yesus Kristus dan para rasul dan secara akurat menyatakan makna dari setiap kata dan kejadian saat itu,” kata Bruce Gordon, seorang profesor sejarah gereja di Yale Divinity School. Manuskrip Textus Receptus Erasmus yang digunakan di KJV, diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Latin oleh sarjana Belanda abad ke-16 Desiderius Erasmus, dianggap sebagai inklusi yang sangat penting dalam KJV karena dianggap sebagai manuskrip Perjanjian Baru yang paling dekat ke zaman kerasulan (tahun 33-100 M).

Namun, menurut Gordon, banyak sarjana merasa, sebagian terjemahan KJV sudah agak usang alias ketinggalan zaman. Apalagi dengan adanya penemuan manuskrip kuno lainnya sejak KJV dirilis dan makin meningkatnya pemahaman para sarjana akan beberapa peristiwa yang disebutkan dalam Alkitab, sehingga mungkin mengubah terjemahan dari kata-kata tertentu.

Sebagai contoh, pada pertengahan abad ke-20, banyak penterjemah yang meyakini bahwa kata “maiden” atau “young woman” adalah translasi Ibrani yang paling akurat untuk mendeskripsikan Maria Ibu Yesus, ketimbang kata “virgin” atau dalam bahasa Indonesia disebut “perawan”. Namun implikasinya bisa panjang karena akan menjadi agak berbeda dengan nubuatan Nabi Yesaya yang mengatakan bahwa Yesus lahir dari perawan.

Banyak pembaca KJV yang meyakini terjemahan KJV tidak perlu di-update karena terjemahan ini berasal dari manuskrip yang paling reliable. Selain itu, mereka menilai terjemahan modern harus diabaikan karena terjemahan itu dilakukan oleh mereka yang ‘tidak percaya’.

Selain populer, terjemahan KJV juga banyak mempengaruhi kosa kata sehari-hari secara tak disadari. Gaya bahasanya yang puitis telah mempengaruhi banyak seniman dan aktivis dari zaman ke zaman. Banyak frasa Alkitab yang menjadi bahasa sehari-hari. Contohnya “the blind leading the blind,” “the powers that be,” “my brother’s keeper,” “by the skin of your teeth,” “a wolf in sheep’s clothing,” “rise and shine” and “go the extra mile”.

Sekilas Riwayat KJV
Sebelum KJV ada, kebanyakan orang Kristen di Inggris belajar dari dua sumber teks terjemahan Alkitab yang berbeda, yaitu terjemahan dari Gereja Inggris (Dikenal sebagai Bishop’s Bible yang terbit pada 1566) dan Geneva Bible yang terbit pada 1560. Namun terjemahan ini problematik dan menimbulkan persoalan sampai ke urusan politik.

Raja James I naik tahta pada Maret 1603 menggantikan Ratu Elizabeth I. Dia berkuasa dalam situasi politik yang panas ketika para kaum puritan dan calvinist mempertanyakan kekuasaan absolut uskup Gereja Inggris. Ibunda Raja James, Mary, Queen of Scots dieksekusi mati 16 tahun sebelumnya karena sebagai seorang Katolik dia dianggap mengancam kekuasaan Ratu Elizabeth I yang beragama Protestan.

Untuk memoderasi perbedaan itu, James menginginkan terjemahan Alkitab yang dapat diterima baik oleh petinggi Gereja Inggris maupun kaum Protestan yang sedang naik daun pada masa itu. Dia membentuk enam komite terdiri dari 47 sarjana dari universitas Oxford dan Cambridge. Mereka diperintahkan menterjemahkan semua kata bahasa asli Alkitab yaitu Bahasa Ibrani di Perjanjian Lama dan Bahasa Yunani di Perjanjian Baru, ke dalam bahasa Inggris. Karena sulitnya, proses ini baru selesai setelah tujuh tahun.

Kebanyakan terjemahan itu diambil dari karya William Tyndale, seorang reformator Protestan yang menghasilkan terjemahan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris yang pertama pada 1525. “Sebanyak 80 persen diambil dari terjemahan itulah,” kata Gordon. Namun Raja James tak bisa menikmati popularitas KJV sebab dia wafat karena stroke pada Maret 1625.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: