Press "Enter" to skip to content

Mengenal Berbagai Akomodasi di Raja Ampat

Ekoturisme atau wisata berkelanjutan menjadi sektor utama di Raja Ampat, Papua Barat. Terdapat beberapa pelaku usaha wisata di Raja Ampat yaitu investor atau biasa juga disebut operator, kelompok sadar wisata dan masyarakat lokal.

Investor adalah pemilik resort selam, kapal pesiar (kapal liveaboard). Resort berada di darat sedangkan kapal liveaboard berada di laut. Biaya menginap di resort atau paket di kapal liveaboard sangat mahal.

Resort pada umumnya memiliki dua tipe kamar yaitu standar dan VIP. Beda keduanya adalah ukuran kamar, ranjang dan fasilitas pendingin ruangan.

Kelebihan resort dan kapal liveboard adalah memiliki fasilitas menyelam atau snorkeling lengkap, dan sudah termasuk satu paket, sehingga tamu tidak perlu menyewa lagi.

Selama beraktivitas mengarungi laut, kapal liveaboard harus berjarak sekitar 200 meter dari spot selam atau spot wisata dan tidak boleh buang jangkar. Sehingga speedboad akan mengantarkan para turis ke spot diving.

Kapal liveaboard juga harus hati-hati agar tidak mengganggu penyelam aktivitas menyelam dan snorkeling, serta memastikan tamunya berenang menjauh dari terumbu karang saat dijemput.

Kapal liveaboard juga tidak boleh membuang sampah sembarangan, limbah harus dibawa secara higienis selama pelayaran, sampah yang sulit terurai dibawa ke pelabuhan.

Homestay atau rumah inap dikelola oleh kelompok sadar wisata atau masyarakat setempat. Menginap di homestay jadi pilihan untuk menginap dengan biaya ekonomis.

Homestay berbentuk rumah panggung sederhana berbahan kayu, berdinding dan beratap daun nipah, dengan lantai dari kayu palem. Ada pula homestay yang berdinding dan beratap daun sagu.

Homestay biasanya diterangi lampu listrik dari petang hingga pukul 10 malam dengan genset atau dengan lampu solar sel.

Bagi traveler yang akan menginap di homestay sebaiknya membawa alat snorkeling sendiri, karena tidak semua homestay milik masyarakat lokal memiliki peralatan menyelam.

Fasilitas menginap di homestay milik warga lokal yaitu makan tiga kali sehari. Tentu saja menunya berupa masakan rumahan, sayuran segar dari kebun atau ikan segar hasil memancing.

Biasanya pagi singkong goreng atau sukun goreng dengan minuman teh atau kopi. Siang dan makan malam dengan menu nasi lauk tumis kangkung bunga pepaya dengan ikan goreng dan sambal, yang dimasak menggunakan minyak kelapa.

Penulis: Hari Suroto (arkeolog, tinggal di Jayapura) Bisa dihubungi di Instagram @surotohari

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: