Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi racun (Foto: Arek Socha/Pixabay)

Bukan Arsenik, Ini 5 Racun Paling Mematikan di Dunia

Seorang anak diduga membunuh ayah, ibu, dan kakak perempuannya di Magelang, Jawa Tengah, dengan racun arsenik. Arsenik adalah satu dari beberapa racun yang cukup banyak dikenal, selain sianida.

Tapi arsenik dan sianida bukanlah racun paling beracun yang diketahui. Bahkan, seperti dilansir Elsevier Scitech Connect, tingkatannya belum separah tetrodotoxin, racun yang terdapat pada ikan buntal yang menewaskan setidaknya 50 orang Jepang setiap tahun.

Walau begitu, tetrodotoxin juga belum termasuk tiga teratas racun paling mematikan sedunia.

Untuk mengukur tingkat toksisitas biasanya dipakai LD50 (Lethal Dose, 50%), yaitu jumlah yang diperlukan untuk membunuh 50% populasi uji. Ini adalah cara penilaian toksisitas yang paling umum dan biasanya dikutip per kilogram berat badan.

Jadi, inilah dia lima racun paling mematikan di dunia, yang tingkat mematikannya ratusan kali sianida dan arsenik:

Ricin
Racun ini terdapat pada biji tanaman minyak jarak (Ricinus communis). Kadar LD50-nya adalah 1-20 miligram per kg jika dicerna secara oral. Tapi hanya butuh dosis yang jauh lebih sedikit untuk membunuh jika ia terhirup atau disuntikkan. Kasus pembunuhan yang pernah terjadi menggunakan racun ini adalah pembunuhan pembangkang Bulgaria Georgi Markov, yang diasingkan di London, pada 7 September 1978.

2. VX
Ini adalah senyawa sintetis. VX adalah nerve agent atau racun saraf dengan konsistensi setara oli mesin. Racun ini muncul dari penelitian ICI terhadap insektisida baru pada awal 1950-an, yang ternyata terlalu beracun untuk digunakan dalam pertanian. VX membunuh dengan mengganggu transmisi pesan saraf antar sel. Transmisi pesan antar saraf biasanya menggunakan molekul bernama asetilkolin. Setelah asetilkolin menyampaikan pesannya, asetilkolin perlu dipecah (jika tidak maka akan terus mengirim pesan) oleh katalis enzim yang disebut asetilkolinesterase. Nah, racun VX menghentikan kerja enzim ini, sehingga kontraksi otot menjadi tidak terkendali dan korban akan mati karena sesak napas.

Racun saraf ini dibuat saat Perang Dingin. Tapi racun ini terkenal setelah muncul di film The Rock. Satu-satunya orang yang disebut dibunuh dengan racun ini, yaitu mantan anggota aliran sesat yang dipimpin oleh Aum Shinrikyo. Selain itu, 4.000 ekor domba pernah terbunuh tak sengaja oleh racun itu pada sebuah peristiwa di Skull Valley, Utah, tahun 1968. Hanya butuh dosis LD50 sedikitnya 3 microgram per kg untuk membunuh domba-domba itu.

3. Batrachotoxin
Racun ini berasal dari kulit katak kecil Phyllobates terribilis yang berwarna emas dan yang warna-warni. Penduduk asli Indian di Kolombia barat menggunakan racun dari kulit katak ini di ujung anak panah mereka. Dosis LD50-nya sekitar 2 mikrogram per kg, artinya dosis dua butir garam meja saja sudah bisa membunuh satu manusia dewasa. Batrachotoxin membunuh dengan mengganggu saluran ion natrium di sel otot dan saraf, membuat mereka terbuka dan tak mau menutup. Migrasi ion Na+ yang terus menerus menyebabkan gagal jantung.

4. Maitotoxin
Ada sejumlah racun laut yang kuat, seperti Saxitoxin, yang sering menjadi penyebab keracunan setelah memakan kerang yang terkontaminasi. Ini sering dikaitkan dengan ganggang berbahaya di laut. Tapi racun laut paling mematikan adalah maitotoxina, yang memiliki LD50 sedikit di bawah batrachotoxin.

Racun ini dihasilkan oleh dinoflagellata, sejenis plankton laut yang memiliki struktur yang sangat rumit. Maitotoxin adalah cardiotoxin yang efeknya meningkatkan aliran ion kalsium melalui membran otot jantung, menyebabkan gagal jantung.

5. Racun Botulinum
Para ilmuwan sepakat bahwa racun botulinum, yang diproduksi oleh bakteri anaerob, adalah zat paling beracun yang diketahui. LD50-nya sangat kecil, paling banyak 1 nanogram per kilogram sudah dapat membunuh manusia. Racun ini pertama kali teridentifikasi pada peristiwa keracunan sosis yang salah masak (dalam bahasa latin disebut Botulus) di Jerman pada akhir abad ke-18.

Ada beberapa racun botulinum, dengan tipe A yang paling kuat. Racun ini tergolong polipeptida, yang terdiri dari lebih dari 1.000 molekul asam amino yang disatukan. Racun ini menyebabkan kelumpuhan otot dengan mencegah pelepasan molekul pensinyalan (neurotransmitter) asetilkolin.

Properti melumpuhkan inilah yang digunakan juga dalam tindakan Botox. Suntikan dengan sejumlah kecil racun ini akan menghentikan kerja otot tertentu supaya tidak menyebabkan kulit keriput. Ia juga dipakai untuk menangani kelumpuhan otot tertentu yang jika tidak diobati akan menyebabkan mata juling (strabismus).

Jadi, racun dalam dosis tertentu ternyata bisa bermanfaat juga bagi kemanusiaan. Racun dari ular beludak Brasil yang mematikan, yaitu Bothrops jararaca, misalnya, ternyata mengandung molekul penurun tekanan darah yang dapat menjadi pengobatan awal untuk tekanan darah tinggi.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: