Press "Enter" to skip to content
Makan Papeda (foto: commons.wikimedia.org/Gunawan kartapranata)

Menengok Helai Mbai Hote Mbai, Tradisi Makan Papeda di Papua

Di masyarakat sekitar Danau Sentani, Papua, ada sebuah tradisi yang disebut Helai Mbai Hote Mbai. Tradisi ini dikenal sebagai warisan budaya gastronomi masyarakat Sentani. Helai Mbai Hote Mbai merupakan tradisi makan papeda secara bersama-sama dalam satu wadah.

Lebih dari sekadar tradisi makan, Helai Mbai Hote Mbai ternyata mencerminkan nilai,-nilai sosial, budaya, dan adat yang melekat di masyarakat. Sayang eksistensi tradisi ini mulai terancam.

Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Siswanto, melakukan studi terhadap tradisi Helai Mbai Hote Mbai. Dia mendapati bahwa tradisi ini juga mencerminkan kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat Sentani. Ia mengandung filosofi kekeluargaan dan kebersamaan.

Tradisi ini juga mempererat hubungan dalam keluarga dan komunitas. Juga sebagai ruang diskusi saat makan bersama. “Di situ, mereka membahas berbagai permasalahan keluarga maupun permasalahan yang ada di kampung mereka,” ucap Siswanto, seperti dilansir BRIN.

Tradisi Helai Mbai Hote Mbai juga menjadi sarana diplomasi adat. Pemimpin adat yang disebut dengan Ondoafi, memanfaatkan tradisi ini sebagai media diplomasi sebelum menyampaikan keputusan penting.

Mengenai ancaman terhadap eksistensi tradisi itu, beberapa upaya telah dilakukan. Misalnya, dikeluarkannya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2000 yang mengatur tentang perlindungan hutan sagu. Namun, implementasi Perda ini belum maksimal karena hutan sagu merupakan hak ulayat masyarakat adat.

Festival Helai Mbai Hote Mbai juga diadakan setiap tahun pada 28-30 September di Kampung Abar, Kabupaten Jayapura. Festival ini mencakup pembuatan gerabah, pengolahan sagu, dan acara makan papeda bersama.

“Tradisi ini merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat Sentani. Namun, modernisasi dan globalisasi mengancam keberlanjutannya,” ungkapnya. Dia berharap ada langkah-langkah konkret dalam bentuk edukasi, penyuluhan, dan dukungan komunitas. Tujuannya agar warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.