Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi penelitian (Foto: Gerd Altmann/Pixabay)

BRIN Teliti Terapi Atasi Resistensi Antibiotik

Bakteri resistensi antibiotik atau AMR merupakan masalah kesehatan dunia termasuk di Indonesia. Bakteri AMR menyebabkan suatu keadaan di mana bakteri resisten terhadap antibiotik alias tak mempan ketika diberikan antibiotik.

Kejadian resistensi muncul dalam rentang waktu yang bervariasi tergantung kombinasi antibiotik dan jenis bakterinya. Mayoritas AMR terjadi antara 0-6 bulan setelah paparan antibiotik.

AMR sendiri terjadi pada manusia, hewan, dan lingkungan serta diperkirakan berdampak pada sektor ekonomi mencapai US$100 triliun pada tahun 2050.

“Tantangan AMR secara global yaitu kurangnya diagnostik point-of-care yang cepat. Di mana dokter sering meresepkan obat untuk menenangkan diri pada kasus infeksi bakteri, pemberian antimikroba pada hewan ternak sebagai pencegahan infeksi dan promosi pertumbuhan, implementasi program antimicrobial stewardship programs di pelayanan kesehatan dan hewan yang masih kurang (antibiotic overuse), serta koordinasi global antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, kesehatan lingkungan dan perairan yang masih kurang,” kata Peneliti Ahli Muda PRBME BRIN, Rosantia Sarassari, dalam siaran pers BRIN.

WHO menargetkan pengembangan penelitian dan terapi infeksi AMR terutama bagi beberapa patogen yang masuk dalam priority list pathogen seperti Klebsiella pneumoniae ESBL. Pengkajian terapi alternatif seperti penggunakan bakteriofaga mulai dikembangkan. Karakterisasi faga secara detail menjadi langkah awal dalam pembentukan faga bank yang akan mendukung pengembangan terapi faga di Indonesia.

Kepala Organisasi Riset dan Kesehatan BRIN, NLP Indi Dharmayanti, mengatakan PRBME BRIN, khususnya kelompok riset molekuler patogen, telah melakukan kolaborasi dengan universitas baik di dalam dan luar negeri untuk mengetahui karakteristik genome bakteri AMR, mekanisme penyebarannya dan potensi terapi yang dapat digunakan untuk mengatasi infeksi AMR tersebut.

Kepala PRBME BRIN, Elisabeth Farah Novita Coutrier mengungkapkan bahwa infeksi antibiotik resisten perlu menjadi perhatian. Pemilihan terapi yang ada saat ini masih terbatas. Dirinya berharap, bakteriofaga dapat menjadi salah satu pilihan terapi untuk menanggulangi infeksi AMR yang menjanjikan.

“Pusat Biologi Molekuler Eijkman telah mulai penelitian mengenai bakteriofaga terkait AMR sejak tahun lalu terutama bagi patogen-patogen yang masuk ke dalam daftar prioritas dari WHO seperti K.pneumoniae, ESBL, MRSA, Streptococcus pneumoniae. Langkah ini merupakan awal untuk mengembangkan bakteriofaga, menguji efektivitas dari bakteriogafa terhadap bakteri-bakteri patogen,” ungkapnya.

Kenaikan kejadian AMR yang tidak diikuti oleh penemuan antibiotik baru dan sejak 2014-2021 hanya 18 antibiotik yang disetujui dan ada di pasaran (WHO).

Rosantia menerangkan, tantangan AMR di Indonesia antara lain karena merupakan negara kepulauan yang terdiri dari 17.744 pulau, memiliki beragam etnis, bahasa, kebudayaan, genetik, kebiasaan makan, geografi yang berbeda dan keberagaman kondisi alam, sistem desentralisasi kebijakan kesehatan, dan perbedaan status sosioekonomi dan kesehatan.

“Kejadian AMR telah meningkat di Indonesia dan di dunia. Data AMR di Indonesia masih belum merata, banyak tantangan dalam mengatasi masalah AMR, diperlukan kerja sama lintas sektoral, dan pengobatan non-antibiotik antimikrobial seperti faga yang perlu dikembangkan,” terangnya.

Peneliti post-doctoral PRBME BRIN, Meity Mardiana mengutarakan bakteri Klebsiella pneumonia merupakan bakteri gram negatif dan juga merupakan patogen oportunis. Artinya, pada orang yang sehat tidak akan menyebabkan penyakit, sedangkan di pasien yang mengalami immunodeficiency dapat menyebabkan penyakit. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi pernapasan saluran dan juga infeksi nosokomial. Pada Klebsiella pneumonia penghasil ESBL, bakteri tersebut mengandung gen-gen pengkode ESBL yang letaknya terdapat di plasmid.

“Letaknya di plasmid menjadikannya cukup berbahaya karena lebih mudah untuk berpindah-pindah dari satu bakteri ke bakteri lain. Klebsiella spp penghasil ESBL ini resistan terhadap cefalosporin generasi tiga dan juga monobactam. Oleh karena itu, salah satu terapi alternatif yang dapat kita lirik adalah terapi menggunakan faga, yaitu terapi menggunakan bakterio faga atau virus untuk mengatasi infeksi bakteri,” tuturnya.

Dirinya juga menambahkan terdapat beberapa jenis pendekatan terapi faga yaitu pertama, terapi tunggal : terapi menggunakan partikel faga, baik itu monofaga (satu jenis faga), maupun polifaga yang menggunakan coctail atau campuran beberapa faga untuk dijadikan sebagai terapi. Kedua, terapi kombinasi: terapi di mana kita menggunakan kombinasi antara bakteriofaga dan juga antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri. Ketiga, terapi dengan protein turunan faga : terapi menggunakan protein turunan faga seperti menggunakan indolisin, holin, atau depolimerase lainnya untuk membunuh bakteri.

Terapi faga bukan hal yang baru dan tercatat di lima tahun terakhir penelitian. Ada beberapa personalized terapi faga menggunakan faga yang selektif bakteri Klebsiella pneumonia. Penelitian sebelumnya banyak menemukan gen wcaJ sebagai hotspot mutasi dalam produksi CPS pada K. pneumoniae.

“Penelitian ini memberikan padangan baru tentang gen yang mengalami mutasi. Diperlukan analisa terhadap lebih banyak mutan yang tumbuh. Fenomena resistansi bakteri terhadap faga adalah hal yang normal. Hal ini dapat diatasi dengan jenis terapi faga lainnya dan karakterisasi faga yang terisolasi lainnya sangat diharapkan,” ucap Meity.

Asisten Peneliti PRBME BRIN, Nuridha Audinia Safitri juga menambahkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam keanekaragman hayati yang mendukung penelitian bakteriofaga. Bakteriofaga berpotensi menjadi alternatif pilihan terapi AMR. Bakteriofaga litik (Virulen) dipilih sebagai pengganti antimikroba.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.