Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi bekerja dengan komputer (dok. Pixabay)

Gen Z Tak Lagi Cari Kerja Seumur Hidup, Ini Alasannya

Lulus kuliah, mendapat pekerjaan tetap, lalu bekerja di perusahaan yang sama hingga puluhan tahun bukan lagi gambaran karier yang diinginkan banyak anak muda saat ini.

Bagi Generasi Z, memiliki satu pekerjaan saja kini dianggap belum cukup. Mereka mulai membangun beberapa sumber penghasilan sekaligus, memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga berpindah-pindah peran demi memperoleh peluang karier dan penghasilan yang lebih baik.

Temuan itu terungkap dalam riset terbaru International Workplace Group (IWG), penyedia ruang kerja fleksibel global.

Survei tersebut menunjukkan 33 persen profesional Gen Z sudah memiliki atau sedang mempertimbangkan pekerjaan sampingan (side hustle). Alasan utamanya sederhana: meningkatkan penghasilan dan membangun kondisi finansial yang lebih aman di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

AI Mengubah Cara Gen Z Memandang Karier

Masuknya AI ke berbagai industri ternyata tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga cara generasi muda merencanakan masa depannya.

Sebanyak 55 persen responden percaya AI akan mengubah arah karier mereka. Akibatnya, semakin banyak anak muda yang tidak lagi mengandalkan satu profesi, melainkan membangun apa yang disebut portfolio career atau karier portofolio.

Model ini memungkinkan seseorang memiliki lebih dari satu peran, misalnya tetap bekerja penuh waktu sambil menjadi freelancer, membuka bisnis kecil, atau mengembangkan proyek pribadi yang menghasilkan pendapatan tambahan.

Menurut IWG, kemampuan beradaptasi menjadi aset penting ketika AI mulai mengambil alih berbagai pekerjaan rutin.

Sebaliknya, kemampuan yang sulit digantikan mesin seperti kreativitas, kolaborasi, kepemimpinan, dan empati justru semakin bernilai.

Bahkan, 90 persen pemimpin SDM menilai mengabaikan keterampilan manusia dapat menghambat inovasi di perusahaan.

Gaji Masih Jadi Alasan Utama Pindah Kerja

Di tengah perubahan dunia kerja, penghasilan tetap menjadi faktor terbesar yang mendorong mobilitas karier Gen Z.

Survei menunjukkan 43 persen responden telah berganti pekerjaan dua hingga tiga kali dalam tiga tahun terakhir.

Sementara itu, 30 persen mengaku pindah kerja demi mendapatkan gaji yang lebih tinggi.

Namun berbeda dengan generasi sebelumnya yang mengejar jenjang karier secara bertahap, banyak Gen Z kini memilih berpindah antarperusahaan, proyek, bahkan industri untuk memperluas pengalaman sekaligus meningkatkan potensi pendapatan.

Perjalanan ke Kantor Mulai Dianggap Buang Waktu

Selain fleksibilitas karier, cara pandang terhadap lokasi kerja juga berubah.

Sebanyak 65 persen responden mengatakan mereka akan lebih enggan membangun bisnis atau memiliki lebih dari satu pekerjaan jika harus menempuh perjalanan jauh ke kantor setiap hari.

Bagi banyak Gen Z, waktu yang biasanya habis di jalan kini dianggap lebih berharga jika digunakan untuk belajar keterampilan baru, mengembangkan usaha sampingan, atau mengerjakan proyek pribadi.

Riset IWG menunjukkan 24 persen pekerja muda merasa sistem kerja hibrida membantu mengurangi waktu perjalanan, sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk aktivitas produktif lainnya.

Sementara 20 persen mengatakan model kerja fleksibel memberi mereka kesempatan mencoba jalur karier baru tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama.

Generasi Berikutnya Punya Pandangan yang Sama

Perubahan cara kerja ini tampaknya tidak hanya terjadi pada Gen Z.

Penelitian lain dari IWG menunjukkan 75 persen Generasi Alpha, yang kini berusia 11 hingga 17 tahun, juga menilai mengurangi waktu perjalanan ke tempat kerja akan menjadi faktor penting ketika mereka memasuki dunia kerja nanti.

Artinya, fleksibilitas diperkirakan akan menjadi standar baru, bukan lagi sekadar fasilitas tambahan yang ditawarkan perusahaan.

Menurut Country Manager IWG Indonesia, Yoga Priyautama, Generasi Z memasuki dunia kerja pada saat teknologi berkembang sangat cepat, terutama dengan hadirnya AI yang mengubah banyak industri.

Karena itu, banyak profesional muda mulai membangun keterampilan baru, memiliki lebih dari satu sumber pendapatan, dan memanfaatkan pola kerja yang lebih fleksibel agar tetap kompetitif.

“Model kerja yang fleksibel memberi lebih banyak waktu bagi generasi muda untuk meningkatkan keterampilan, berkolaborasi, dan membuka peluang baru tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan,” ujarnya.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.
RPHOKI AGENHOKI CHUTOGEL agenhoki agenhoki.com Sbobet88