Press "Enter" to skip to content

Cerita dari Penelitian Suku Mek dan Ok di Pegunungan Bintang, Papua

4 Juli 1974, rombongan pertama dari Proyek Mensch, Kultur und Umwelt im zentralen Bergland von Irian Jaya (Manusia, Budaya dan Lingkungan di Pegunungan Sentral Irian Jaya) tiba, setelah 5 hari jalan kaki dari lapangan terbang di Bime, di kampung Munggona di bagian selatan Lembah Eipomek, waktu itu bernama Lembah X. Proyek itu di bawah payung LIPI.

Sampai akhir 1976, sebanyak 32 anggota tim penelitian melayani riset dalam berberapa disiplin: geologi, meteorologi, geografi, pertanian, botanik, zoologi, antropologi fisik, antropologi dental, kesehatan, ethnomedicine, linguistik, etnografi, etnomusikologi, kelakuan, dokumentasi film. Proyek harus dibatalkan 1976 karena ribut-ribut di Papua sebelum disiplin ilmu lain mulai kerja, upamanya arkeologi.

Prof. Dr. Wulf Schiefenhoevel, kepala proyek (field director), tinggal di lokasi selama 17 bulan. Dia belajar bahasa Eipo (kelak akan menulis kamus Bahasa Eipo) dan aspek kehidupan sosial, mengobati pasien sakit dan sebagainya. Dia juga membangun lapangan terbang pertama di Eipomek, bersama dengan seorang Dani bernama Tayiniyak, dan penduduk lokal (pesawat pertama mendarat Juli 1975) dan bikin dokumentasi film (16 mm) di aspek-aspek hidupan Eipo (kelahiran, sosialisasi dan pemasyarakatan bayi anak kecil, ritual pemakaman, pesta, perang dan lain-lain).

Orang Eipo adalah penutup jalan paling dramatik dari masa kapak batu ke dunia digital dalam satu generasi… tanpa membaca Aristoteles. Dari masyarakat ini muncul sejumlah orang sukses: berberapa Eipo jadi anggota Parlamen Daerah, kira-kira 60 mahasiswa sudah selesaikan S1 dan lebih tinggi dari Uncen, universitas lain di Jayapura dan universitas lain-lain di Indonesia. Di Eipomek ada, dari prakarsa sendiri, seperti hydroelectric system (listrik 24 jam), lapangan terbang ketiga (yang cukup panjang untuk mendaratkan Cessna Caravan), puskesmas, SD (guru lari ke kota, itu problem yang paling-paling besar di sana) dan banyak kolam ikan yang menghasilkan protein sehat bagi penduduk. Dahulu tidak ada ikan di Lembah Eipomek sama sekali!

Demografi makin luas: pada 1974 ada 800 jiwa di Lembah Eipomek, sekarang kira-kira 4.000! Pemerintah banyak membantu dengan memberikan bantuan beras dan dana. Jembatan di atas sungai besar juga dibangun. Orang Eipo melayani semua aspek hidupan (lapangan terbang, komunikasi dengan pilot dan perusaan penerbangan terbang, gereja, bangun gedung kantor klasis besar, hydroelectric turbine, listrik…) dengan swadaya.

Di selatan dari pegunungan sentral, dekat kampung Larye, orang masih membuat kapak batu dari Andesit, masih dipakai untuk mas kawin dan bayaran ritual. Luar biasa! Satu-satunya tempat di dunia, di mana prasejarah masih hidup. Dengan dana dari pemerintah Jerman dan Kabupaten Pegunungan Bintang kami bangun Pusat Budaya Eipomek yang pertama di seluruh Papua di luar kota. Peresmian oleh Bapak Bupati Wellington Wenda, pada Juli 2014.

Sama dengan Dr. Marian Vanhaeren dari Universitas Bordeaux kami kerja sama dengan Arkenas Jakarta, Balai Akeologi Papua, Loka Budaya dan Fakultas Kedokteran Uncen. Tahun ini Ibu Professor Herawati Sudoyo dan Leo Taufik dari Lembaga Eijkman mengunjungi proyek kami di Eipomek untuk cek kesempatan kerja sama tahun depan.

Dr. Marian, Dr. Nicolas Antunes dan Prof. Wulf melakukan ekskavasi arkeologi di gua Emok Tum di ketinggian 2.500 mbpl di dekat Oksibil. Dengan penanggalan C14 dating diketahui usianya 2.135 tahun. Untuk penduduk Ok itu penting: nenek moyang mereka bikin api di gua itu sebelum Yesus lahir. Kami harap di masa depan kami bisa menemukan goa dengan tanda manusia yang lebih tua: sebab orang Papua pertama tiba di Tanah Papua pada 40.000 atau 50.000 tahun yang lalu. Kira-kira 8.000 tahun yang lalu nenek moyang Papua memberikan kepada dunia keladi (taro, Colocasia esculenta), tebu (Saccharum officinarum) dan sayur lilin (Saccharum edule) dan sayuran hijau dengan protein (Runggia klossii).

Orang Papua mempunyai darah (genom) dari orang Denisova lebih-lebih banyak dari orang di Eropa dan daerah lain. Aspek itu dan berberapa aspek prasejarah lain ada tema penelitian kami dengan teman-teman di Indonesia di masa depan.

Penulis: Prof. Dr. Wulf Schiefenhoevel, Max Planck Institut Starnberg-Seewiesen, Jerman & Dr. Marian Vanhaeren, Universitas Bordeaux

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: