Press "Enter" to skip to content

Menyingkap Kekayaan Alam dan Budaya Masa Lalu Papua

Papua tak ubahnya ‘Surga kecil yang jatuh ke Bumi’. Bumi Papua adalah tanah yang kaya dengan sumber daya alam dan yang tak kalah penting, juga kaya dengan sumber daya budaya masa lalu. Hal ini terungkap dalam webinar bertajuk “Rock Art dan Tradisi Megalitikum di Pantai Utara Papua” yang diadakan oleh Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSi) dan Balai Arkeologi (Balar) Provinsi Papua, pada Selasa (23/6) lalu.

Webinar ini menghadirkan pembicara dari kedua institusi, yaitu: Zubair Masud dan Hari Suroto, arkeolog dari Balar Provinsi Papua; Pindin Setiawan dari ITB; serta Sumardiyansah Perdana Kusuma dan Harjuni Serang dari AGSi. Diskusi dipandu oleh Syahrir Taklil, guru SMA Negeri 45 Jayapura selaku moderator.

Webinar ini dihadiri oleh sekitar 500 orang melalui platform Zoom dan 140 orang yang menyaksikan live streaming di channel YouTube. Peserta ini antara lain guru-guru, pelajar SMP dan SMA, peneliti, pegiat sejarah, dan sebagainya. Mereka antusias mengikuti acara dan banyak bertanya.

Acara ini dimaksudkan untuk memperkenalkan dan menginformasikan mengenai peninggalan budaya masa lalu di Papua, yang bisa menjadi obyek pembelajaran bagi pelajar maupun sebagai destinasi wisata. Beberapa peninggalan arkeologi yang diperkenalkan antara lain: peninggalan budaya prasejarah di situs megalitikum Tutari di Doyo Lama, Distrik Waibu, Kab. Jayapura; keindahan Danau Sentani dan kemegahan Gunung Cycloop.

Disebutkan bahwa Situs Tutari merupakan peninggalan suku Tutari yang sudah punah akibat perang suku dengan Suku Doyo. Sedangkan penghuni di sekitar Tutari berasal dari Pulau Yonahan. “Situs Tutari sarat dengan nilai-nilai seperti ketuhanan, kearifan, toleransi, keselarasan, gotong royong, persatuan dan kesatuan, musyawarah, dan estetika,” kata Hari Suroto kepada Portal Sains.

Dalam webinar itu juga diungkapkan bahwa Balar Provinsi Papua sedang melakukan penelitian di wilayah Keerom yang berbatasan dengan Papua Nugini. Penelitian di sini berfokus pada rock art yaitu peninggalan arkeologi berupa lukisan di dinding gua/ceruk, tebing karang, atau di permukaan batu besar. Gambar-gambar yang diteliti berupa himpunan simbol atau lambang yang mengandung nilai kehidupan. Gambar itu juga merupakan ungkapan perasaan tertentu, seperti rasa khawatir, aman, syukur. Ambil contoh gambar ikan di Gua Kefai Ambea, yang merupakan simbol janji kepada leluhur untuk mendapatkan tangkapan ikan yang banyak.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: