Press "Enter" to skip to content
Hewan-hewan di zaman es. (dok. commons.wikimedia.org/auricio Antón)

Ditemukan ‘Kuburan Massal’ Mammoth di Proyek Bandara

Mexico City sedang dalam proses membangun bandar udaranya yang baru di utara kota itu. Namun, tak disangka-sangka proses konstruksi bandara tersebut menemukan ‘ladang’ peninggalan arkeologis berupa sekitar 200 tulang mammoth. Ini adalah situs yang mengandung koleksi tulang mammoth terbesar yang pernah ditemukan.

Awalnya, ditemukan dua perangkap mammoth dalam sebuah penggalian pada November tahun lalu. Penggalian itu adalah hal yang rutin untuk membersihkan lahan untuk lokasi bandara yang baru. Arkeolog di Institut Antropologi dan Sejarah Nasional Meksiko, menduga ada lebih banyak lagi tulang di balik temuan awal tersebut dan mereka benar.

Lokasi pembangunan Bandara Internasional Felipe Ãngeles hanya berjarak 19,3 km lokasi temuan pertama. Di sana, tim penggalian menemukan dasar Danau Xaltocan yang kering dan menampung setidaknya 60 kerangka Columbian mammoth. Total yang ditemukan sejak saat itu mencapai 200 tulang dan diduga masih ada banyak tulang di bawah tanah.

“Ada terlalu banyak. Ada ratusan,” kata Pedro Sánchez Nava, seorang arkeolog di institut itu, kepada kantor berita Associated Press. Sekarang, seorang pengamat akan mendampingi setiap buldoser di lokasi konstruksi, untuk berjaga-jaga jika ada yang menemukan tulang mammoth baru.

Lokasi penemuan tulang mammoth terbanyak sebelumnya ada di Hot Springs, South Dakota. Di sana ditemukan 60 tulang mammoth.

Temuan ini bisa membantu mencari jawaban mengapa mammoth punah. Mammoth Columbian diperkirakan tiba di Amerika utara pada 1 juta tahun lalu. Mereka memiliki tinggi sampai 4,3 meter dan usianya diperkirakan antara 70-80 tahun. Tak seperti mammoth berbulu di Eropa, mammoth di Amerika tak terlalu banyak berbulu, mungkin sebagai adaptasi terhadap iklim yang lebih hangat. Mereka menyebar dari mulai Kanada ke Nikaragua dan Honduras.

Mammoth Columbian punah pada antara 13.000 dan 10.000 tahun lalu. Banyak ahli paleontologi menduga, manusia prasejarah memainkan peranan besar dalam kepunahan tersebut. Dengan banyaknya temuan di situs tersebut, para ahli berharap akan mendapatkan jawaban yang lebih terang benderang. Temuan perangkap memang mengindikasikan manusia membunuh beberapa mammoth tersebut, tapi belum jelas apakah ratusan tulang yang lain juga merupakan ‘korban’ manusia.

Ada ahli yang menduga, ratusan mammoth terperangkap di lumpur di dasar danau Xaltocan dan mati di sana. Ini bisa saja terjadi secara alami karena ada banyak makanan di danau tersebut. Tapi ada ahli yang berpikir, mungkin manusia memanfaatkan dasar danau yang berlumpur itu sebagai jebakan terhadap ratusan mammoth. “Mungkin saja mammoth ini didesak dan akhirnya terperangkap di lumpur,” kata Sánchez Nava.

Kalau benar, maka manusia purba ternyata memiliki kemampuan untuk membunuh mammoth dalam jumlah besar, berbeda dari anggapan sebelumnya. Itu juga bisa menjadi bukti bahwa manusia memakan daging mammoth secara rutin, bukan sporadis. Tapi untuk lebih jelasnya, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Kita tunggu saja.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: