Press "Enter" to skip to content
Persiapan tari di Situs Megalitik Tutari, Papua (Dok. Yogi Rinaldo)

Tutari MegArt Lithic, Eksplorasi Seni Tari di Situs Megalitik Tutari

Situs Megalitik Tutari yang terletak di Bukit Tutari, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua menyimpan kekayaan tinggalan arkeologi berupa kebudayaan batu besar (megalitik) yang terdiri dari rock art atau lukisan di atas batu dan simbol-simbol tertentu yang diwujudkan melalui batu seperti menhir (batu berdiri sebagai sarana aktivitas pemujaan leluhur) maupun figur-figur tertentu seperti batu ondoafi. Dalam lukisan di atas batu di Situs Megalitik Tutari, dapat dijumpai berbagai motif binatang yang umumnya ditemukan di danau seperti bermacam bentuk ikan, kura-kura, biawak (Soa-soa dalam bahasa daerah Papua), buaya, dan ular. Motif-motif ini jika diamati secara mendalam dapat memberikan semacam rangsang kreatif khususnya bagi ilmu penciptaan tari (koreografi).

Beberapa mahasiswa dari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua bersama Balai Arkeologi Papua pada Sabtu 24 Oktober 2020 berkesempatan mengunjungi Situs Megalitik Tutari. Di situs ini, saya selaku dosen pada mata kuliah Koreografi IV Site Specific mencoba membuka wawasan mahasiswa dari Program Studi Seni Tari ISBI Tanah Papua untuk berimajinasi melalui pengamatan motif-motif yang tertuang di atas batu.

Konsep karya yang terbentuk spontanitas dalam diri saya adalah Koreografi Site Specific. Site Specific adalah salah satu konsep pementasan karya tari yang berbasis kearifan lokal tempat (site) khusus/tertentu (specific). Situs Megalitik Tutari adalah tempat yang yang spesifik karena lukisan di atas batu di situs ini memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri. Mengingat nama tempat dan karakteristiknya yang khas, maka karya ini diberikan judul “Tutari MegArt Lithic” yang berarti Karya Seni (tari) di Situs Megalitik Tutari.

Untuk itu, melalui pendekatan site specific, karya ini diproses dan dipentaskan di tempatnya langsung. Karya ini terinspirasi dari perjalanan saya bersama tim dari Balai Arkeologi tahun 2019 ke Situs Megalitik Bukit Tutari. Pada saat itu, selain mengamati secara visual, saya juga mendapat keterangan dari salah satu peneliti dari Balai Arkeologi yaitu Hari Suroto mengenai gambaran situs, jenis dan makna motif serta periodisasi kehidupan di Bukit Tutari. Dialog tersebut menggugah keinginan saya untuk melakukan eksplorasi karya tari di situs ini. Dapat dikatakan, karya tari “Tutari MegArt Lithic” ini adalah respons dari hasil penelitian Balai Arkeologi ke dalam karya seni.

Masing-masing mahasiswa saya minta untuk mengamati satu motif tertentu yang menarik bagi mereka untuk kemudian melakukan re-interpretasi ke dalam gerak-gerak tari. Berbagai kemungkinan dicoba, mulai dari bergerak spontanitas, kemudian meniru dan mengembangkan desain-desain motif, serta menari di atas batu motif itu dilukis. Tiga orang mahasiswa dari Prodi Seni Tari tersebut saya berikan waktu sejenak untuk melakukan hal tersebut sembari memberi instruksi kepada mahasiswa dari Program Studi Seni Musik untuk mengkomposisi musik latar gerak tari para penari. Mereka saya minta untuk memanfaatkan batu dan kayu di sekitar situs sebagai instrumen musik. Selain tarian dan gerakan, saya juga secara spontan menciptakan motif-motif body painting yang terinspirasi dari motif-motif yang kami lihat di bebatuan situs ini. Kebetulan saya juga membawa cat acryllic di dalam tas sehingga dapat digunakan sebagai bahan body painting.

Bertempat di Sektor 3 Bukit Tutari, kami yang terdiri dari tiga penari laki-laki atas nama Fachry Matlawa, Frans Junias Jugganza dan Yustinus Hesegem serta tujuh orang mahasiswa dari Program Studi Seni Musik berhasil menciptakan karya spontanitas yang diberi judul “Tutari MegArt Lithic”. Para pemusik memulai karya dengan lantunan vokal sederhana yang terdiri dari kata “Do” yang dalam bahasa Sentani berarti “laki-laki” dan “Me” yang berarti perempuan. Para pemusik lain kemudian meresponsnya dengan permainan ritme bunyi bebatuan. Para penari memulai tarian dengan gerakan kepala dan tangan terlebih dahulu dan secara perlahan kemudian menari di atas batu sehingga body painting yang ada pada tubuh mereka dapat dilihat utuh. Presentasi spontanitas ini berlangsung kurang lebih tiga menit.

Gagasan utama dari karya ini adalah menghidupkan motif-motif yang dipilih masing-masing penari ke dalam karya tari : Fachry Matlawa dan Yustinus Hesegem memilih motif kura-kura dengan karakteristik gerak yang lamban dan berat, serta Frans Junias Jugganza memilih motif Soa-soa (biawak) dengan karakteristik gerak yang didominasi level bawah dan lebih lincah.

Penulis: IBG Surya Peradantha (dosen seni tari ISBI Papua)

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: