Press "Enter" to skip to content
Situs Gua Harimau di Sumsel. (Dok. Kemendikbud)

Menengok Jejak Manusia Prasejarah di Gua Harimau

Namanya memang gua harimau, tapi tak ada harimau di gua ini. Sebaliknya, Gua Harimau yang terletak di Desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumsel justru merupakan situs hunian prasejarah yang menarik. Setelah melalui penelitian panjang, situs ini ternyata mengandung banyak temuan arkeologis prasejarah. Pemerintah setempat kemudian mendirikan museum di sana.

Berdasarkan penelitian dari Balai Arkeologi Palembang dan Pusat Arkeologi Nasional selama bertahun-tahun, diketahui bahwa kawasan OKU ternyata kaya dengan jejak-jejak prasejarah. Mulai dari hunian budaya paleolitik di tepi aliran sungai yang berkembang ratusan ribu tahun lalu, sampai ke hunian gua dan ceruk dari budaya paleolitik akhir, sampai jejak kedatangan pemembawa budaya Neolotik pada 3.500 tahun lalu.

Penemuan penting dari jejak prasejarah di OKU lainnya adalah alat-alat batu berupa kapak genggam dan kapak pembelah yang dikenal sebagai budaya khas Acheulean, yang berkembang sejak 1,7 juta tahun lalu dan menyebar ke Eropa dan Asia. Lalu hunian gua bercorak budaya Preneolitik seperti di gua Harimau, Gua Silabe, dan Gua Pandang.

Nah di Gua Harimau, dalam penelitian sejak 2009 sampai dengan 2014 telah ditemukan penguburan manusia prasejarah yang terdiri dari 78 individu dengan berbagai sistem dan posisi penguburan. Pada umumnya sistem penguburan di sini menunjukkan praktik kubur langsung dan tidak langsung dengan jumlah individu satu individu, berpasangan, dan lebih dari dua individu, dari bayi, anak-anak, remaja, sampai dewasa. Dari penelitian terhadap kondisi tulang belulang mereka, menunjukkan dugaan penyakit seperti tuberkolosis, lepra, atau sifilis.

Manusia di Gua Harimau bisa dibedakan atas ras monggolid dan australomelanesid. Kaum australomelanesid memiliki ciri anatomis besar dan postur kekar, dengan monggolid lebih kecil dengan postur lebih ramping. Perbedaan signifikan pada tengkorak. Monggolid memiliki tengkorak brachycephal atau tinggi dan membundar. Sedangkan australomelanesid berbentuk dolichocephal atau rendah dan lonjong.

Monggolid adalah subspesies dari Homo sapiens, manusia modern, dan merupakan populasi dominan orang Indonesia saat ini. Monggolid adalah bagian terbesar dari penutur bahasa Austronesia yang mendiami kawasan Asia Pasifik, dari Madagaskar di barat, Taiwan di Utara, Selandia Baru di selatan, dan Pasifik di Timur. Manusia-manusia ras monggolid juga ditemukan di situs-situs gua lainnya di sumatera, contohnya di Gua Ulu Tianko di Jambi.

Hunian manusia di Gua Harimau diperkirakan dari akhir zaman es, atau sekitar 11.000 tahun lalu. Bekal kubur yang ditemukan bersama kerangka-kerangka itu antara lain berupa tembikar, cangkang moluska, artefak batu dan logam. Di gua ini juga ditemukan lukisan dinding batu yang menarik. Temuan artefak berupa perunggu dan besi, serta lukisan batu, di Gua Harimau di pedalaman OKU yang bergunung-gunung dan jauh dari pesisir itu menunjukkan bahwa kawasan itu telah dihuni komunitas yang sudah maju budayanya dan dapat berinteraksi dengan dunia luar.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: