Press "Enter" to skip to content
Ilustrasi erupsi gunung berapi (StockSnap/Pixabay)

Batu dan Abu Bisa Membaca Masa Depan Gunung Api, Begini Caranya

Sebongkah batu di sekitar gunung api mungkin tampak seperti benda mati yang tak lagi menyimpan cerita. Bagi vulkanolog, batu itu justru bisa menjadi semacam arsip. Dari lava, bom vulkanik, skoria, batu apung, hingga abu vulkanik, peneliti dapat menelusuri bagaimana sebuah gunung api pernah meletus dan seberapa besar bahayanya jika pola serupa terulang.

Jejak letusan yang tersimpan dalam material vulkanik itu membantu peneliti merekonstruksi sejarah gunung api. Mereka dapat mengetahui jenis dan skala erupsi, jarak waktu antarletusan, serta karakter letusan yang pernah terjadi.

Peneliti kemudian dapat menggunakan informasi tersebut untuk menyusun berbagai skenario bahaya di masa depan.

“Pada intinya, semua itu merupakan bahan untuk merekonstruksi sejarah dan perilaku gunung api di masa lalu,” kata Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, dalam keterangannya.

Bagi Dini, mempelajari gunung api tidak cukup hanya dengan melihat apa yang terjadi hari ini. Di samping memantau aktivitas gunung secara langsung, rekaman geologi dari letusan masa lalu dapat memberikan potongan informasi yang tidak bisa diperoleh hanya dari pengamatan aktivitas saat ini.

Dari rekaman tersebut, peneliti mencoba menjawab pertanyaan yang lebih penting: apa saja yang mungkin terjadi jika gunung api kembali mengalami erupsi?

Gunung Sunda meninggalkan “arsip” di Bandung

Salah satu arsip geologi itu berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bandung, termasuk di sekitar Gua Jepang dan Gua Belanda.

Endapan batuan di kawasan tersebut merupakan bagian dari jejak letusan dahsyat Gunung Sunda pada masa lalu. Untuk membacanya, peneliti melakukan ekspedisi lapangan, mengamati singkapan batuan, dan mengambil sampel.

Peneliti kemudian menganalisis sampel lebih lanjut. Peneliti mengamatinya melalui mikroskop dan melakukan analisis untuk mengetahui komposisi serta karakteristik material vulkanik. Mereka lalu merangkai potongan-potongan informasi itu menjadi rekonstruksi sejarah erupsi.

Cara kerja semacam ini penting karena gunung api tidak selalu menunjukkan satu pola letusan. Satu gunung dapat memiliki sejarah erupsi yang berbeda-beda, dari letusan kecil hingga letusan eksplosif yang membawa dampak jauh lebih besar.

Pada Gunung Tangkuban Parahu, misalnya, peneliti dapat menyusun sejumlah skenario. Skenario itu mencakup erupsi kecil yang paling mungkin terjadi, peningkatan aktivitas vulkanik, hingga letusan eksplosif yang peluangnya lebih rendah tetapi dampaknya jauh lebih besar.

Dini menegaskan, skenario tersebut bukan prediksi kapan gunung akan meletus.

“Skenario tersebut bukan merupakan ramalan atau kepastian, melainkan gambaran kemungkinan berdasarkan bukti geologi dan kajian ilmiah,” ujarnya.

Dari batuan menjadi peta ancaman

Penelitian kemudian bergerak dari lapangan dan laboratorium ke komputer.

Dengan pemodelan numerik, peneliti dapat memperkirakan bagaimana material hasil erupsi, termasuk abu vulkanik, akan tersebar jika suatu skenario terjadi.

Pada skenario ketiga Gunung Tangkuban Parahu, yang memiliki peluang lebih rendah tetapi berpotensi menimbulkan dampak besar, pemodelan menunjukkan akumulasi abu dapat mencapai sekitar 100 kilogram per meter persegi.

Jika menumpuk di atap bangunan, beban tersebut berpotensi membentuk lapisan abu sekitar 10 sentimeter. Atap bangunan yang tidak cukup kuat menahan beban dapat mengalami kerusakan.

Model yang sama juga menunjukkan kecenderungan persebaran abu ke arah barat daya. Dalam skenario tersebut, Padalarang dan Bandung Barat termasuk wilayah yang memiliki probabilitas lebih tinggi mengalami akumulasi abu.

Di titik ini, penelitian tentang batuan vulkanik menjadi jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Membaca rekaman letusan dari batu akhirnya dapat memberikan gambaran tentang wilayah mana yang mungkin terdampak jika sebuah erupsi terjadi.

Tujuannya bukan membuat warga takut

Indonesia berada di kawasan dengan banyak gunung api. Karena itu, memahami perilaku gunung api bukan hanya kebutuhan akademis. Pengetahuan tersebut menjadi salah satu dasar untuk membangun kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat.

Dini mengingatkan, informasi mengenai potensi bahaya tidak seharusnya membuat masyarakat hidup dalam ketakutan.

Berdasarkan peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang dikeluarkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), kawasan gunung api dibagi menjadi KRB 1, KRB 2, dan KRB 3 sesuai tingkat potensi bahayanya.

“Jadi, di sini tujuannya untuk meningkatkan kesadaran kita, bukan menimbulkan ketakutan, tetapi untuk membangun kewaspadaan,” kata Dini.

PVMBG mengklasifikasikan gunung api di Indonesia ke dalam tipe A, B, dan C. Gunung api tipe A memiliki catatan sejarah erupsi setidaknya satu kali sejak 1600.

Jawa Barat memiliki tujuh gunung api tipe A. Persoalannya, gunung api tersebut berada di wilayah dengan populasi yang sangat besar. Pada pertengahan 2026, jumlah penduduk Jawa Barat mencapai sekitar 51 juta jiwa, menjadikannya salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi di Indonesia.

Situasi itu membuat pengetahuan tentang gunung api menjadi semakin penting. Semakin banyak orang tinggal dan beraktivitas di sekitar wilayah rawan, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami potensi bahayanya.

Pada akhirnya, penelitian vulkanologi bukan sekadar upaya membaca batuan atau menyusun model erupsi di layar komputer. Tujuannya adalah menerjemahkan sejarah letusan menjadi pengetahuan yang bisa digunakan sebelum bencana terjadi.

Dengan memahami apa yang pernah dilakukan gunung api, peneliti dapat menyusun gambaran mengenai apa yang mungkin terjadi berikutnya. Masyarakat kemudian memiliki dasar yang lebih baik untuk bersiap.

Hidup berdampingan dengan gunung api, dengan kata lain, bukan berarti harus hidup dalam ketakutan. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan yang cukup untuk tahu kapan harus waspada.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

situs slot gacor

Mission News Theme by Compete Themes.
RPHOKI AGENHOKI CHUTOGEL agenhoki agenhoki.com Sbobet88