Press "Enter" to skip to content
Dok. Ristekdikti.go.id

Menelisik Potensi Bonggol Pisang Sebagai Obat Antikanker

Sekelompok mahasiswa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta berhasil menemukan potensi baru dalam pengobatan kanker payudara. Mereka menemukan efek antikanker di dalam bonggol pisang.

Kanker payudara merupakan momok bagi wanita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sudah banyak orang berusaha untuk menemukan metode pengobatan kanker payudara, termasuk yang mengeksplorasi sumber daya alam, sebagai agen kemoterapi kanker payudara yang efektif dan minim efek samping.

Begitulah yang diupayakan pula oleh tiga mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka adalah Mila Hanifa, Eri Prasetyo Nugroho, dan Kadek Maylena Putri Yuliawan. Mereka menemukan efek antikanker pada bonggol pisang. Dari sejumlah studi terdahulu diketahui bahwa bonggol pisang mengandung banyak senyawa flavonoid seperti kuersetin, kaempferol, dan rutin.

Kuersetin dilaporkan mampu menginduksi proses penuaan sel (senescence cells) pada sel kanker. Dari situ kami berupaya meneliti lebih jauh potensi bonggol pisang sebagai agen suportif dalam membunuh sel kanker, salah satunya kanker payudara,” kata Mila, seperti dikutip dari Ristekdikti.go.id.

Salah satu agen kemoterapi kanker payudara yang terbukti efektif adalah doksorubisin. Namun, doksorubisin memiliki kelemahan berupa efek samping seperti hepatotoksik dan kardiotoksik apabila digunakan dalam dosis tinggi maupun jangka panjang. Para peneliti muda itu pun mengarahkan perhatiannya pada bonggol pisang kepok yang dipercaya minim efek samping.

Penelitian mulai dilakukan menggunakan agen kemoterapi kanker yang terbukti efektif yakni doksorubisin sebagai penginduksi penuaan sel dan Sel 4T1 sebagai model kanker payudara. Menggunakan sampel ekstrak etanolik bonggol pisang yang diperoleh dengan metode maserasi. Dari sejumlah uji diketahui bahwa dalam bonggol pisang memiliki kandungan senyawa kuersetin dan mempunyai kandungan total flavonoid sebesar 0,7 % (b/b).

Sementara dari uji sitotoksisitas menunjukkan ekstrak etanolik bonggol pisang bersifat tidak toksik terhadap sel kanker. Namun, pada uji selanjutnya diketahui bahwa pemberian ekstrak etanolik bonggol pisang tunggal maupun yang dikombinasikan dengan doksorubisin mampu meningkatkan persentase sel senescence. “Hasil uji memperlihatkan bahwa ada potensi dari ekstrak bonggol pisang untuk meningkatkan efektivitas doksorubisin, sehingga dapat dikembangkan sebagai pencegah kanker maupun sebagai suplemen dalam pengobatan kanker,” tutur Mila.

Agar nyaman dikonsumsi, tim itu memformulasikan ekstrak etanolik bonggol pisang dalam bentuk sedian effervescent bonggol pisang atau NACOVENT (banana corm effervescent). Effervescent dipilih karena dapat menimbulkan sensasi sparkling dan rasa segar setelah dikonsumsi, proses penyerapan dalam tubuh cepat, serta mudah digunakan.

Penelitian ketiga mahasiswa muda ini dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE) yang berhasil memperoleh dana hibah penelitian dari Kemenristekdikti. Mereka bahkan berhasil lolos untuk melaju dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2019 yang akan digelar pada 27-31 Agustus 2019 mendatang di Universitas Udayana, Bali.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: