Press "Enter" to skip to content
dok. commons.wikimedia.org/Alfindra Primaldhi

Kisah Orang Selandia Baru di Balik Penaklukan Puncak Cartensz

Puncak Jaya atau Puncak Carstensz berada pada ketinggian 4884 meter dari permukaan laut. Puncak Jaya ini merupakan satu-satunya gunung di daerah tropis yang masih dapat dijumpai gletser.

Puncak Jaya tergolong salah satu puncak tertinggi di dunia, bersama-sama dengan Puncak Himalaya dan Puncak Andes. Puncak Jaya belum pernah berhasil ditaklukkan oleh tim ekspedisi manapun, sampai adanya pendakian yang dilakukan oleh sebuah tim dari Belanda yang dipimpin oleh Heinrich Harrer pada tahun 1962.

Sebenarnya orang yang paling berjasa dan pantas disebut namanya sebagai kunci prestasi ini adalah seorang Selandia Baru bernama Philip Temple. Temple yang sebelumnya telah melakukan pekerjaan awal yang pada akhirnya sangat membantu memuluskan perjalanan tim ekspedisi pimpinan Harrer ini.

Temple yang telah melakukan berbagai survei terhadap beraneka jalur alternatif menuju puncak bersalju sekaligus membuat peta rute perjalanan tersebut, namun ia kurang beruntung. Karena kehabisan dana dan logistik, Temple tidak berhasil mewujudkan impiannya menaklukkan Puncak Jaya.

Temple kemudian bergabung dalam tim Harrer dan menjadi penunjuk jalan sehingga tim Harrer akhirnya bisa menginjakkan kakinya di puncak gunung bersalju tersebut. Seberapapun berjasanya Temple dalam pendakian ini, Harrer sang pemimpin timlah yang dikenal dan diakui dunia sebagai orang pertama yang menaklukkan Puncak Jaya bukan Temple.

Tapi siapa Temple sesunguhnya? Dari berbagai sumber bisa diketahui bahwa Temple bukan hanya seorang yang punya jiwa petualangan ke alam bebas, tapi juga seorang penulis yang produktif. Dia banyak menulis novel, cerita anak-anak dan sejumlah tulisan nonfiksi.  

Memang sejumlah karyanya banyak mengambil latar pengalamannya menjalani ekspedisi di gunung di Papua, Indonesia, dan di Selandia Baru. Seperti Nawok! (1962); Castles in the Air: Men and Mountains in New Zealand (1969); dan The World at Their Feet (1973).

Dia pernah memenangi penghargaan seperti Ernest Scott pada tahun 2003, Ian Wards Prize for Historical Writing pada tahun 2003, dan Montana New Zealand Book Awards dalam kategori biografi pada 2003. Pada 2003 dia juga dianugerahi Creative New Zealand Berlin Writers’ Residency dan Prime Minister’s Awards for Literary Achievement di bidang nonfiksi pada 2005.

Penulis: Hari Suroto (Arkeolog, tinggal di Jayapura – @surotohari) | ditambahkan oleh Editor 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Mission News Theme by Compete Themes.
%d blogger menyukai ini: